MOJOK.CO – Setelah geger-geger Masjid Al Safar dan ceramah-ceramahnya yang viral, Ustaz Rahmat Baequni akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus hoaks.

Baru kemarin Ustaz Rahmat Baequni ditetapkan sebagai tersangka kasus berita hoaks oleh kepolisian. Status tersangka ini terkait pernyataan Ustaz Rahmat Baequni yang menyebut kalau beberapa petugas KPPS yang bertugas pada Pilpres 2019 meninggal karena diracun.

Sebelum kasus ini mengemuka, nama Ustaz Rahmat Baequni memang udah hangat dibahas netizen. Dari tudingannya soal Masjid Al Safar punya simbol Illuminati, sampai tudingannya mengenai petugas KPPS diracun yang sedang diselidiki kepolisian.

Namun, yang paling menarik bagi saya, justru soal lontaran pernyataannya mengenai sejarah nama-nama kepulauan di Indonesia yang dipercaya Ustaz Rahmat Baequni berasal dari bahasa Arab, sebelum akhirnya diganti namanya oleh para penjajah kafir.

Dalam pemaparan Ustaz Rahmat Baequni, Pulau Sumatra berasal dari kata asyamatiro yang artinya mahkota. Al Jawwu adalah nama untuk Jawa yang berarti tempat tinggi dan dingin. Borneo dahulu bernama barna’un yang artinya daratan berawa. Makassaro, atau Kassaro yu kassiru, untuk Makassar (Sulawesi) yang diartikan menjadi tempat yang terpecah-pecah. Jaziratul Muluk bagi pulau Maluku, dan billadul nurul islami, untuk Papua Nugini.

Penjelasan ini tentu sangat luar biasa. Luar biasa, karena membuat banyak akun-akun humor beragam media sosial menyebar adegan ceramah ini jadi dagelan. Banyak yang tertawa. Meski mungkin bagi jamaah Ustaz Rahmat Baequni, respons kayak gini terasa menyebalkan.

Mungkin mereka yang menanggapi santai ceramah ini merasa kalau video-video ceramah Ustaz Rahmat Baequni memang begitu menghibur.

Ya, harus saya akui, saya juga cukup terhibur dengan Ustaz Rahmat Baequni. Saya pikir ini tak beda jauh dari kehebohan lainnya mengenai Majapahit yang pernah disebut sebagai Kerajaan Islam dengan patih muslimnya bernama Gaj Ahmada.

Namun setelah saya pikir-pikir kembali, rasa-rasanya hal-hal tersebut semakin lama menjadi tidak lucu. Selain soal tudingan petugas KPPS yang dituduhnya tewas diracun, ceramah-ceramah Ustaz Ustaz Rahmat Baequni yang lain ternyata kalau ditelusuri ada banyak sekali. Masalahnya memang semuanya lucu-lucu.

Dari ceramah-ceramahnya yang tersebar itu pula ada semacam usaha untuk membenarkan bahwa Indonesia sudah dan ditakdirkan untuk jadi negara Islam berbudaya Arab. Seolah-olah Nusantara tidak punya budaya dan bahasanya sendiri.

Ah Bung, Anda serius amat sih, kurang lihat meme ya? Video tersebut kan nggak bakalan berdampak besar.

Ya, saya mungkin terlalu serius untuk menanggapi hal tersebut karena pada banyak kasus, hal yang sebelumnya dianggap sebagai kebodohan serta membuat orang terpingkal-pingkal di kemudian hari bisa menjadi sesuatu yang mengerikan dan merusak.

Baca juga:  Korupsi Berjamaah, Gedung DPRD Malang Dikhawatirkan Kosong Karena Banyak yang Diperiksa KPK

Hal ini karena saya jadi ingat dengan kasus perburuan penyihir dari abad ke 15-18 di Eropa. Pada kurun waktu tersebut di Eropa, ada begitu banyak perempuan yang disiksa dan dibakar atas tuduhan kegiatan “kepenyihiran” atau bekerja sebagai seorang penyihir.

Kegiatan “kepenyihiran” yang dimaksud adalah menghadiri pertemuan para penyihir dengan terbang menggunakan sapu terbang (ya, seperti Harry Potter!), mengolesi diri dengan minyak sihir, sampai pada praktik pemujaan setan dengan cara yang diyakini mencium dubur sang iblis.

Kita mungkin menganggap terjadinya hal tersebut (percaya pada mitos penyihir) disebabkan oleh kebodohan masyarakat abad pertengahan yang rasio otak dan logikanya belum sebaik masyarakat modern.

Lalu kita berpendapat, “Ah, itu wajar terjadi, sebab memang masyarakat Eropa di zaman itu kan masih percaya takhayul.”

Pendapat itu salah, sebab, di abad ke-11 (300 tahun sebelum terjadinya perburuan besar-besaran terhadap penyihir) nyatanya gereja malah mengeluarkan peraturan yang melarang orang-orang untuk percaya pada hal-hal takhayul.

Hal itu diceritakan Marvin Harris dalam bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (2019), di mana peraturan yang melarang kepercayaan pada hal-hal mistis dituangkan dalam dokumen berjudul Canon Episcopi. Dokumen itu mengatakan bahwa hanya orang tak beriman yang percaya hal-hal semacam itu (terbang pakai sapu dan bertemu iblis).

Jadi justru, 300 tahun sebelumnya, masyarakat malah percaya bahwa iblis yang membuat orang jadi percaya seperti itu. Itu tentu membantah pernyataan bahwa orang Eropa membantai perempuan yang dituduh sesat jadi penyihir karena mereka bodoh.

Lantas, apa yang menyebabkan orang jadi mulai membakari penyihir-penyihir fiktif itu?

Tragedi ini terjadi setelah Heinrich Institor dan Jakob Sprenger menerbitkan buku mereka yang berjudul Hammers of The Witch dan berhasil meyakinkan Paus bahwa penyihir itu ada, dan mereka harus dibantai!

Teks tersebut berisikan argumen tentang eksistensi para penyihir yang membahayakan kehidupan dan taktik serta strategi efektif apa yang harus dilakukan untuk membasmi mereka semua.

Buku itu pada akhirnya menginspirasi banyak orang untuk menulis buku yang sama tentang para penyihir. Intinya teks-teks tersebut hendak menyatakan bahwa “penyihir itu ada, dan mereka berada di tengah-tengah kita!”

Dan, lebih jauh lagi, teks-teks tersebut hendak menanamkan dalam benak para pembacanya bahwa para penyihir yang buruk itu harus dibasmi dan dimusnahkan dari muka bumi.

Tentu tak ada bukti kuat untuk mendukung argumen-argumen yang diciptakan para “fanatik anti penyihir” itu. Tapi ya, lama-kelamaan, karena bacaan dan informasi seputar penyihir jadi semakin banyak, informasi mengenai eksistensi penyihir di tengah masyarakat jadi semakin meluas ke mana-mana.

Baca juga:  Sebut Anggota KPPS Meninggal Diracun, Ustaz Rahmat Baequni Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Ujaran Hoaks

Eksistensi penyihir kemudian jadi mulai dipercaya ketika panen gagal, hewan ternak mati, dan anak yang dikandung mati ketika dilahirkan. Masyarakat yang menyelidiki atas bencana ini mulai menduga-duga bahwa keberadaan penyihir di tengah-tengah mereka adalah sebabnya.

Kenapa kesimpulan semacam itu bisa lahir?

Karena informasi ini sudah disebarkan sebelum-sebelumnya. Lalu ketika informasi ini dikait-kaitkan dengan bencana yang mereka alami, kesimpulannya kemudian: penyihir sangat berbahaya sehingga harus segera “ditangani”.

Orang-orang mulai menujuk siapa saja yang dicurigai sebagai penyihir. Semakin banyak yang melaporkan bahwa tetangga ini-itu merupakan penyihir. Efeknya, merebaklah penangkapan dan pembakaran atas (tertuduh) penyihir yang terus berlanjut selama 300 tahun.

Ya tapi Bung, itu kan terjadi ratusan tahun lalu. Kini masyarakat sudah semakin cerdas jadi nggak perlu takutlah.

Iya, itu betul. Tetapi ingat pula bahwa justru di era sekarang ekosistem hoaks malah memungkinkan untuk tumbuh subur. Lihat saja ribuan portal berita dan info dari media sosial yang bejibun sampai membuat kita sulit menyaringnya dengan baik.

Ditambah pula sistem algoritma yang membuat para pengguna internet dan media sosial hanya disodorkan hal yang kita sukai saja, dan itu artinya, jika sudah beberapa kali melihat informasi ngaco dari macam Majapahit Islam, Indonesia Arab sejak dulu, atau petugas KPPS yang tewas diracun, maka itu pula yang akan terus-terusan dilihat oleh si pengguna media sosial.

Kita bisa melihat dampak kecil-kecilan yang sudah dihasilkan oleh beredarnya informasi semacam vaksin buatan Yahudi untuk melumpuhkan umat. Ada yang menertawakan hoaks ini, tapi di sisi lain tetap ada sekelompok orang yang betulan ngotot nolak vaksinisasi karena alasan konyol ini.

Semua didasari oleh ketakutan akan berkembangnya gerakan masyarakat non-Islam serta kepercayaan bahwa tindakan seperti ini sudah benar. Sebab negeri ini dianggap memang milik golongan mereka saja.

Dampak lebih jauh dan yang lebih mengerikannya lagi, mungkin adalah bakal munculnya penangkapan dan aksi main hakim sendiri pada orang yang dituduh anti-Islam dan dituduh hendak menghancurkan umat.

Entah untuk berapa lama lagi kita dapat menertawakan ceramah Ustaz Rahmat Baequni semacam ini dengan penuh kebebasan, tanpa perasaan waswas. Tak ada jaminan bahwa kita tidak bernasib kayak para gadis Eropa di abad pertengahan yang dipaksa mengaku sebagai penyihir oleh para penyiksanya. Alias dipaksa mengamini kebohongan.

Satu hal yang pasti, jangan pernah meremehkan hal-hal semacam ini. Mau selucu apapun hoaks itu diproduksi.