MOJOK.CO – Di sebuah rumah sakit besar di Jogja, teror yang saya rasakan selepas gempa besar kembali muncul dalam ingatan.
Kejadian ini saya alami sekitar 19 tahun lalu, tepat setelah gempa besar mengguncang Jogja pada 27 Mei 2006. Gempa yang berpusat di Bantul itu bukan cuma merobohkan rumah dan bangunan, tapi juga menyisakan trauma panjang bagi banyak orang termasuk saya, yang saat itu masih kelas 1 SMP.
Pagi itu, pukul 05:54, saya sedang mandi. Masih setengah sadar, tubuh belum sepenuhnya bangun, ujian kenaikan kelas memenuhi kepala. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas atap.
Awalnya saya kira cuma suara tikus yang lagi kejar-kejaran. Ini hal biasa di rumah-rumah di perkampungan. Tapi, beberapa detik kemudian, lantai bergoyang, dinding bergetar, dan suara gemuruh itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Gempa mengguncang Jogja!
Saya reflek lari, keluar dari kamar mandi. Karena panik, saya bahkan lupa kalau tubuh saya masih setengah telanjang. Yang penting selamat dulu, urusan malu belakangan.
Di luar rumah, orang-orang berteriak, suara benda runtuh bersahut-sahutan. Pagi yang seharusnya biasa di Jogja itu berubah jadi kekacauan.
Demam tinggi
Ibu saya seorang PNS di Dinas Kesehatan Jogja. Sejak hari itu, beliau nyaris tidak pernah benar-benar pulang. Bantuan berdatangan dari mana-mana, pemerintah dan internasional. Posko kesehatan dibuka di banyak tempat. Obat-obatan, makanan, perlengkapan darurat harus segera didistribusikan. Ibu terjun langsung, bekerja nyaris tanpa henti.
Sebulan setelah gempa Jogja, rumah kami seperti sekadar tempat singgah. Tidak ada yang benar-benar mengurus rumah. Saya lebih sering ditinggal bersama simbah, karena bapak dan ibu sama-sama bekerja. Di tengah situasi itu, badan saya mulai tidak beres. Demam tinggi, kepala pusing, badan lemas. Orang tua cuma memberi saya Paracetamol dengan harapan panasnya segera turun.
Tapi, tiga hari berlalu, demam saya tidak juga reda. Tubuh saya semakin lemah, mual, muntah, dan sering kliyengan. Akhirnya, orang tua membawa saya ke sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Jogja.
Hasil cek darah membuat semua orang cemas. Trombosit saya hanya 76. Tanpa banyak pertimbangan, dokter memutuskan saya harus opname.
Sebuah rumah sakit besar di Jogja
Saya masih ingat betul bangsal anak tempat saya dirawat, ruang apa dan nomor berapa. Lantai dua, gedung paling ujung.
Dari jendela kamar, terlihat sebuah pohon besar yang tampak sangat tua, berdiri sendirian seolah mengawasi bangunan rumah sakit besar di Jogja ini. Entah kenapa, pohon itu sejak awal sudah memberi perasaan tidak enak.
Itu pertama kalinya saya menginap di rumah sakit. Tubuh rasanya sudah bukan milik sendiri. Infus terpasang di tangan, mereka mengambil darah saya setiap dua jam sekali. Sakit, lelah, dan takut bercampur jadi satu. Yang menemani saya bermalam adalah ibu.
Gelisah
Anehnya, setiap Magrib datang, perasaan saya selalu berubah jadi gelisah. Saya sulit menjelaskan, tapi ada rasa tidak nyaman yang saya rasakan dari sebuah rumah besar di Jogja ini.
Dari kamar, saya sering mendengar suara ramai dari lantai bawah. Seperti orang mengobrol, lalu menyusul suara anak kecil tertawa. Kadang terdengar juga mereka berlarian.
“Buk, coba delokke ngisor kae. Ono opo kok rame banget?” Tanya saya ke ibu.
Ibu mendekat ke jendela dan mengintip ke bawah. Setelah beberapa saat, beliau menoleh ke arah saya.
“Ora ono opo-opo. Sepi nyenyet kok,” katanya.
Karena kepala masih kliyengan dan badan lemas, saya tidak berani mengecek sendiri. Saya mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin itu cuma efek demam atau suara-suara biasa rumah sakit besar di Jogja ini.
Malam terasa sangat lama. Lampu bangsal temaram, suara langkah perawat terdengar sesekali. Saya sulit tidur. Kalaupun terlelap, rasanya seperti setengah sadar. Mimpi dan kenyataan bercampur jadi satu.
Dikeloni
Dalam kondisi setengah tidur itu, saya merasa tubuh saya sangat berat. Seperti ada sesuatu yang menindih.
Saya mencoba memanggil ibu, yang tidur di sofa samping tempat tidur saya di rumah sakit besar di Jogja ini. Saya merasa berteriak, memanggil sekuat tenaga, tapi ibu tidak bergerak sama sekali.
Saya berusaha bangun sendiri. Susah payah, seperti ada beban besar menekan tubuh. Posisi saya tidur miring. Saat akhirnya saya benar-benar terbangun dan membuka mata, jantung saya langsung berdegup kencang.
Ada sebuah tangan besar sedang memeluk tubuh saya.
Tangan itu bukan tangan manusia biasa. Jari-jarinya besar dan hitam, kukunya panjang dan tebal. Kulitnya dipenuhi bulu kasar. Beratnya bukan main, menekan tubuh saya yang sedang lemah.
Saya membuka mata selebar-lebarnya, berharap apa yang saya lihat hanya sisa mimpi. Tapi tangan itu tetap ada. Nyata. Terasa.
Dalam hati saya cuma bisa berkata, “Weh, kok nyata?”
Teror di sebuah rumah sakit di Jogja
Dengan sisa keberanian, saya menengok pelan-pelan ke arah tangan itu, berharap dia menghilang begitu saja. Tapi tidak. Tangan itu masih memeluk saya erat.
Tiba-tiba kaki saya digoyang-goyangkan.
Saya reflek kaget dan langsung berteriak sekuat tenaga.
Ternyata yang menggoyangkan kaki saya adalah perawat rumah sakit besar Jogja ini. Dia hendak mengambil sampel darah, sesuai jadwal dua jam sekali. Entah sejak kapan perawat itu berdiri di sana. Begitu selesai, dia pergi tanpa banyak bicara. Apakah si perawat itu nyata?
Saya masih gemetar.
Begitu ibu terbangun, saya langsung menceritakan semua yang baru saja saya alami. Tentang tangan besar yang memeluk saya. Tentang rasa berat di tubuh saya. Tentang betapa nyatanya semua itu terasa.
Ibu mendengarkan sambil diam.
Dan malam itu, di bangsal anak rumah sakit besar Jogja yang katanya tempat orang mencari kesembuhan, saya justru merasa seperti baru saja disentuh oleh sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Penulis: Suci Rahma Dhonidwitasari
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Dikuntit Tangan dan Kaki Genderuwo dari Salah Satu Gunung Keramat dan kisah mendebarkan lainnya di rubrik MALAM JUMAT.













