Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

Suci Rahma Dhonidwitasari oleh Suci Rahma Dhonidwitasari
8 Januari 2026
A A
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

Ilustrasi 19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di sebuah rumah sakit besar di Jogja, teror yang saya rasakan selepas gempa besar kembali muncul dalam ingatan.

Kejadian ini saya alami sekitar 19 tahun lalu, tepat setelah gempa besar mengguncang Jogja pada 27 Mei 2006. Gempa yang berpusat di Bantul itu bukan cuma merobohkan rumah dan bangunan, tapi juga menyisakan trauma panjang bagi banyak orang termasuk saya, yang saat itu masih kelas 1 SMP.

Pagi itu, pukul 05:54, saya sedang mandi. Masih setengah sadar, tubuh belum sepenuhnya bangun, ujian kenaikan kelas memenuhi kepala. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas atap. 

Awalnya saya kira cuma suara tikus yang lagi kejar-kejaran. Ini hal biasa di rumah-rumah di perkampungan. Tapi, beberapa detik kemudian, lantai bergoyang, dinding bergetar, dan suara gemuruh itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

Gempa mengguncang Jogja!

Saya reflek lari, keluar dari kamar mandi. Karena panik, saya bahkan lupa kalau tubuh saya masih setengah telanjang. Yang penting selamat dulu, urusan malu belakangan. 

Di luar rumah, orang-orang berteriak, suara benda runtuh bersahut-sahutan. Pagi yang seharusnya biasa di Jogja itu berubah jadi kekacauan.

Demam tinggi

Ibu saya seorang PNS di Dinas Kesehatan Jogja. Sejak hari itu, beliau nyaris tidak pernah benar-benar pulang. Bantuan berdatangan dari mana-mana, pemerintah dan internasional. Posko kesehatan dibuka di banyak tempat. Obat-obatan, makanan, perlengkapan darurat harus segera didistribusikan. Ibu terjun langsung, bekerja nyaris tanpa henti.

Sebulan setelah gempa Jogja, rumah kami seperti sekadar tempat singgah. Tidak ada yang benar-benar mengurus rumah. Saya lebih sering ditinggal bersama simbah, karena bapak dan ibu sama-sama bekerja. Di tengah situasi itu, badan saya mulai tidak beres. Demam tinggi, kepala pusing, badan lemas. Orang tua cuma memberi saya Paracetamol dengan harapan panasnya segera turun.

Tapi, tiga hari berlalu, demam saya tidak juga reda. Tubuh saya semakin lemah, mual, muntah, dan sering kliyengan. Akhirnya, orang tua membawa saya ke sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Jogja.

Hasil cek darah membuat semua orang cemas. Trombosit saya hanya 76. Tanpa banyak pertimbangan, dokter memutuskan saya harus opname.

Sebuah rumah sakit besar di Jogja

Saya masih ingat betul bangsal anak tempat saya dirawat, ruang apa dan nomor berapa. Lantai dua, gedung paling ujung. 

Dari jendela kamar, terlihat sebuah pohon besar yang tampak sangat tua, berdiri sendirian seolah mengawasi bangunan rumah sakit besar di Jogja ini. Entah kenapa, pohon itu sejak awal sudah memberi perasaan tidak enak.

Itu pertama kalinya saya menginap di rumah sakit. Tubuh rasanya sudah bukan milik sendiri. Infus terpasang di tangan, mereka mengambil darah saya setiap dua jam sekali. Sakit, lelah, dan takut bercampur jadi satu. Yang menemani saya bermalam adalah ibu.

Iklan

Gelisah

Anehnya, setiap Magrib datang, perasaan saya selalu berubah jadi gelisah. Saya sulit menjelaskan, tapi ada rasa tidak nyaman yang saya rasakan dari sebuah rumah besar di Jogja ini. 

Dari kamar, saya sering mendengar suara ramai dari lantai bawah. Seperti orang mengobrol, lalu menyusul suara anak kecil tertawa. Kadang terdengar juga mereka berlarian.

“Buk, coba delokke ngisor kae. Ono opo kok rame banget?” Tanya saya ke ibu.

Ibu mendekat ke jendela dan mengintip ke bawah. Setelah beberapa saat, beliau menoleh ke arah saya.

“Ora ono opo-opo. Sepi nyenyet kok,” katanya. 

Karena kepala masih kliyengan dan badan lemas, saya tidak berani mengecek sendiri. Saya mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin itu cuma efek demam atau suara-suara biasa rumah sakit besar di Jogja ini.

Malam terasa sangat lama. Lampu bangsal temaram, suara langkah perawat terdengar sesekali. Saya sulit tidur. Kalaupun terlelap, rasanya seperti setengah sadar. Mimpi dan kenyataan bercampur jadi satu.

Dikeloni

Dalam kondisi setengah tidur itu, saya merasa tubuh saya sangat berat. Seperti ada sesuatu yang menindih. 

Saya mencoba memanggil ibu, yang tidur di sofa samping tempat tidur saya di rumah sakit besar di Jogja ini. Saya merasa berteriak, memanggil sekuat tenaga, tapi ibu tidak bergerak sama sekali.

Saya berusaha bangun sendiri. Susah payah, seperti ada beban besar menekan tubuh. Posisi saya tidur miring. Saat akhirnya saya benar-benar terbangun dan membuka mata, jantung saya langsung berdegup kencang.

Ada sebuah tangan besar sedang memeluk tubuh saya.

Tangan itu bukan tangan manusia biasa. Jari-jarinya besar dan hitam, kukunya panjang dan tebal. Kulitnya dipenuhi bulu kasar. Beratnya bukan main, menekan tubuh saya yang sedang lemah.

Saya membuka mata selebar-lebarnya, berharap apa yang saya lihat hanya sisa mimpi. Tapi tangan itu tetap ada. Nyata. Terasa.

Dalam hati saya cuma bisa berkata, “Weh, kok nyata?”

Teror di sebuah rumah sakit di Jogja

Dengan sisa keberanian, saya menengok pelan-pelan ke arah tangan itu, berharap dia menghilang begitu saja. Tapi tidak. Tangan itu masih memeluk saya erat.

Tiba-tiba kaki saya digoyang-goyangkan.

Saya reflek kaget dan langsung berteriak sekuat tenaga.

Ternyata yang menggoyangkan kaki saya adalah perawat rumah sakit besar Jogja ini. Dia hendak mengambil sampel darah, sesuai jadwal dua jam sekali. Entah sejak kapan perawat itu berdiri di sana. Begitu selesai, dia pergi tanpa banyak bicara. Apakah si perawat itu nyata?

Saya masih gemetar.

Begitu ibu terbangun, saya langsung menceritakan semua yang baru saja saya alami. Tentang tangan besar yang memeluk saya. Tentang rasa berat di tubuh saya. Tentang betapa nyatanya semua itu terasa.

Ibu mendengarkan sambil diam.

Dan malam itu, di bangsal anak rumah sakit besar Jogja yang katanya tempat orang mencari kesembuhan, saya justru merasa seperti baru saja disentuh oleh sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Penulis: Suci Rahma Dhonidwitasari

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Dikuntit Tangan dan Kaki Genderuwo dari Salah Satu Gunung Keramat dan kisah mendebarkan lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: bangsal anakcerita seramgempa JogjaGenderuwohoror jogjaJogjaKisah HororMalam Jumatrumah sakit jogja
Suci Rahma Dhonidwitasari

Suci Rahma Dhonidwitasari

PNS yang bekerja di perpustakaan sekolah, lulusan D3 Ilmu Perpustakaan dan sedang menempuh Pendidikan S1 Ilmu Perpustakaan. Suka membaca novel fiksi sejarah, biografi, autobiografi, menulis (jurnaling katarsis), punya hobi postcrossing (berkirim kartu pos random ke seluruh belahan dunia).

Artikel Terkait

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co
Pojokan

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tabungan soft saving ala gen Z

Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda

25 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Kelalaian sopir truk DLH Kota Semarang bikin sampah tumpah berserakan di jalan. Langsung ditegur karena bikin masyarakat tidak nyaman MOJOK.CO

Kelalaian Sopir Truk DLH Kota Semarang bikin Sampah Tumpah Berceceran di Jalan, Langsung Terima Teguran demi Kenyamanan

26 Maret 2026
Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.