Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Teror Banaspati Saat Menunggu Pompa Irigasi di Sawah

Redaksi oleh Redaksi
20 September 2018
A A
banaspati
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Halo, selamat malam. Semoga pembaca sekalian masih tetap cerah di malam jumat yang kelabu ini. Kali ini, gue mau cerita tentang pengalaman di kampung halaman bokap di daerah Cilacap.

Langsung saja, yes. Jadi, bokap gue ini tumbuh di lingkungan petani di daerah Cilacap sana. Boleh dibilang kawasan pedesaan gitu lah.

Ini kisah jaman bokap gue masih muda. Daerah tempat bokap gue tinggal ini boleh dibilang memang cukup terpencil. Jarak antar desa terpisah satu sama lain oleh sawah berhektar-hektar luasnya, sedangkan antar rumah kerap terpisah kebun dan tegalan, termasuk rumah bokap gue, lebih tepatnya rumah nenek gue.

Rumah nenek gue ini letaknya di tengah kebun. Ada banyak pohon di pelataran rumah nenek, mulai dari manggis, mangga, jambu, sampai yang paling banyak, pohon kelapa.

Nah, jaman dulu, luasnya kebun tidak berbanding dengan penerangan. Kalau malam tiba, suasana langsung gelap seketika. Maklum, waktu itu, belum banyak yang kuat pasang listrik. Alhasil penerangan di rumah-rumah warga murni mengandalkan lampu minyak dan petromax.

Nenek gue selalu mengingatkan anak-anaknya supaya nggak keluar kalau sudah gelap. Kebun dan sawah yang luas bisa menjadi tempat berbahaya. Hanya mereka yang sudah dewasa yang boleh keluar malam-malam. Itu pun kalau tidak ke sawah, ke tempat buyut, paling ya ke mushola saja.

Konon katanya, saat itu, memang banyak fenomena mistis yang sering terjadi di kebun atau persawahan. Pernah pada suatu malam, ada tetangga yang berniat ingin mencuri kelapa di kebun, namun bukannya memperoleh hasil, ia malah ditemukan sedang teriak-teriak ketakutan. Usut punya usut, menurut pengakuan dia, ternyata dia melihat kepala banteng dengan mata merah menyala, tanpa badan, mengejar dia memutari kebun.

Kejadian semacam ini terjadi bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Utamanya ketika ada pencuri yang ingin mencuri sesuatu di kebun. Ada yang bilang, bahwa setiap kebun memang punya penunggu sendiri-sendiri.

Nah, tentang mistisnya kebun dan persawahan ini, bokap gue dulu pernah mengalami kejadian yang mungkin sampai sekarang bakal terus ia kenang.

Jadi, jaman dulu, anak-anak remaja di desa, termasuk bokap gue, selalu kebagian tugas mengairi sawah ketika malam hari. Tugasnya sebenarnya mudah: mengikuti jadwal gilir pompa air untuk mengairi petak sawah, lalu menyerahkan ke pemilik petak sawah untuk giliran selanjutnya.

Waktu itu, pompa air diesel yang digunakan memang hasil patungan perkumpulan tani, jadi penggunaannya dijadwal dan diatur biar adil dan semua kebagian jatah.

Jatah pengairan ini tak tentu waktunya, sebab gilirannya acak. Tak jarang, sawah nenek biasanya baru dapat giliran pada malam atau dini hari.

Nah, kalau dapat jatah giliran tersebut, biasanya bokap gue yang disuruh sama nenek buat berangkat ke sawah dan mengatur jatah pengairan.

Pada suatu ketika, bokap gue ini dapat jatah buat ngurus air. Sialnya, ia ketiduran sampai lumayan larut, sehingga sampai di sawah, ia tidak sempat bertemu dengan pemilik petak sawah sebelah yang menggunakan pompa sebelumnya. Karena bokap gue datang terlambat, maka oleh si pemilik sawah pompa air yang akan digunakan diletakkan saja di dekat pematang sawah.

Iklan

Sampai di sawah, tanpa buang banyak waktu, bokap gue segera beraksi. Berbekal obor sebagai penerangan, bokap gue langsung menata pompa dan pipa ke petak sawah nenek, sementara pipa satunya disalurkan ke parit irigasi.

Tentu saja bokap gue melakukan kesibukannya tersebut dalam suasana yang sepi.

Setelah pompa menyala, biasanya butuh waktu 1-2 jam hingga sawah terairi dengan baik. Untuk menunggu waktu tersebut, bokap biasanya berkeliling mengecek pematang sawah. Tapi karena malam itu hawa begitu dingin, bokap gue jadinya cuma duduk di samping mesin pompa.

Tak berapa lama, dari jarak kejauhan, terlihat ada api obor mendekat. Bokap gue mengira itu adalah pemilik petak berikutnya yang mau ambil jatah pompa. Maklum, musim kemarau, rebutan jatah pompa sudah menjadi hal yang biasa.

Bokap gue jadi agak sebal, sebab sawahnya belum terairi dengan baik, jam giliran juga belum selesai, eh si pemilik sawah sudah datang duluan.

Bokap pun langsung siap-siap mau menegur.

Tapi yg terjadi kemudian justru membikin bapak lari pontang-panting pulang ke rumah dan meninggalkan pompa dalam keadaan tetap menyala.

Cahaya yg mendekat itu ternyata bukan cahaya obor, melainkan semacam banaspati atau hantu api. Yang lebih membuat seram adalah, di sebelahnya ada pocong yang ikut melompat-lompat mendekat berbarengan.

Waktu bokap lari, banaspati dan pocong tersebut mengejar bokap gue dengan kecepatan yang juga makin cepat.

Bokap sudah nggak peduli lagi dengan permukaan sawah atau pematang yang mungkin licin atau penuh dengan bekas babatan tanaman yang berpotensi bikin kaki luka. Yang ia tahu hanyalah ia harus segera sampai di rumah.

Untunglah, bokap akhirnya sampai di rumah dengan selamat walau tentu saja dengan dada dan napas yang bergejolak terengah-engah.

Sejak kejadian itu, bokap tak pernah mau jaga pompa malam hari jika tidak ditemani.

Belakangan baru diketahui Bahwa ternyata hampir semua yang jaga pompa malam hari pernah diganggu dengan penampakan yang sama.

~@dakibotolkecap

Terakhir diperbarui pada 20 September 2018 oleh

Tags: banaspatisawah
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Jeritan Petani di Sedayu yang Anak-anaknya Nggak Mau Mengolah Sawah di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Jeritan Petani di Sedayu yang Anak-anaknya Nggak Mau Mengolah Sawah di Jogja

13 Oktober 2023
Bola Api Berekor Melintas di Langit Jogja, Berkaitan dengan Hal Mistis? MOJOK.CO
Kilas

Bola Api Berekor Melintas di Langit Jogja, Berkaitan dengan Hal Mistis?

16 September 2023
lomba menangkap ikan lele di sawah-sawah terakhir
Geliat Warga

Merayakan Kemerdekaan dengan Adu Tangkas Menangkap Lele di Sawah Terakhir

17 Agustus 2022
Perumahan di Ujung Sawah: Misteri Kunjungan Almarhum Nenek MOJOK.CO
Malam Jumat

Perumahan di Ujung Sawah: Misteri Kunjungan Almarhum Nenek

24 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
indonesia masters, badminton, bulu tangkis.MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora

20 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.