Film The Medium Dua Kali Lebih Mengerikan bagi Orang Indonesia Mojok.co
artikel

Film The Medium Dua Kali Lebih Mengerikan bagi Orang Indonesia

Film seperti The Medium ini cocok sekali ditonton oleh orang Indonesia karena tingkat keseramannya dua kali lipat

Belum lama ini saya menyaksikan film horor Thailand berjudul The Medium. Seperti banyak review yang berhamburan di media sosial, saya mengamini bahwa The Medium ini amat menyeramkan. Meski banyak juga yang mengatakan bahwa jump scare-nya mudah ditebak. Namun bagi saya, film ini berhasil membuat saya lupa bagaimana caranya bernapas. Iya, saya napasnya jadi serasa pake mesin manual.

Thailand sudah banyak merilis film-film bergenre horor komedi seperti Pee Mak, Make Me Shudder, Ghost Ship, dan masih banyak lagi. Meski film horor Thailand masih banyak memuat unsur komedi, entah mengapa mereka senang sekali menampilkan darah-darah dalam setiap filmnya.

Tak terkecuali dengan The Medium, film yang satu ini juga menumpahkan banyak darah dalam adegan-adegannya. Namun tak seperti film horor Thailand kebanyakan yang saya ketahui, The Medium ini nggak ada komedi-komedinya blas.

Film bertema exorcism seperti The Medium ini memang cocok sekali ditonton oleh penduduk negara berkembang seperti kita di mana hantu yang tempat tinggalnya identik dengan hutan-hutan dan perkebunan. Juga kesurupan masal yang identik dengan anak-anak Indonesia saat mengikuti Perkemahan Sabtu-Minggu alias PERSAMI. Oleh karena itu, saya bakal menjelaskan mengapa The Medium menjadi dua kali lebih menyeramkan kalau ditonton oleh orang Indonesia.

#1 Vibes-nya yang Indonesia banget

Sebagai orang Magelang yang tahunya Indonesia ini hanya sebatas Magelang, saya bisa bilang bahwa The Medium ini vibes-nya amat mirip dengan kota kelahiran saya. Kesamaan latar tempat The Medium dan Magelang adalah masih banyaknya hutan, sawah, dan perkebunan yang tak jarang menyimpan banyak dedemit. Bahkan banyak kota di Indonesia yang vibes-nya masih seperti itu (saya sih berharapnya begitu). Sebab makin ke sini sudah banyak hutan, sawah, dan perkebunan yang ditumbuhi beton dan berganti menjadi perumahan.

Menonton The Medium mengingatkan saya kepada kampung halaman. Adapun yang membedakan, alhamdulillah di kampung halaman saya nggak banyak orang kesurupan apalagi sampai kaya Mbak Min di film The Medium. Namun, hal itulah yang justru membuat saya semakin merinding nonton film ini. Saya jadi terbayang gimana kalau di desa saya mengalami hal yang sama. Apalagi desa saya jauh lebih kekurangan orang pintar dibanding di film The Medium. Adanya bapak saya, seorang takmir masjid biasa yang cuma bisa mengajar Iqra’ dan baca tulis Al-Qur’an. Apa nggak medeni?

#2 Paras dan wajah tokohnya yang sangat Indonesia

Selain dari latar tempatnya yang Indonesia banget, tokoh-tokoh di The Medium bahkan mirip dengan tetangga-tetangga saya. Sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia dan Thailand memang memiliki banyak kesamaan. Bahkan saat SMA dulu, guru saya yang habis plesir dari Thailand pun mengatakan, “Ning kono wong-wongane koyo wong Magelang.” Di sana orang-orangnya seperti orang Magelang.

Saya tidak bisa tidak setuju dengan perkataan guru saya. Lha tokoh Nim di film itu saja mirip sama bude saya. Tentu aspek ini juga menambah keseraman film The Medium jika orang Indonesia yang menonton.

#3 Adegan kesurupan yang mirip anak pramuka

Fenomena kesurupan tentu sudah nggak asing di telinga kita. Berbeda dengan film horor Barat bergenre exorcism seperti The Conjuring, saya rasa The Medium lebih menakutkan karena lebih relate dengan kita. Bedanya, pas Mbak Min lagi kesurupan blio nggak ditanyain, “Njenengan sinten?” seperti anak-anak pramuka di Indonesia yang sedang kesurupan.

Selain itu, film ini dapat membangkitkan kenangan kita yang perlahan hilang akibat sekolah online di masa pandemi. Kita sudah jarang saling berbagi cerita mengenai kesurupan saat perkemahan ataupun sewaktu KKN.

Adegan kesurupan di film The Medium juga memiliki pola gerakan yang sama dengan di Indonesia. Merangkak seperti harimau, kayang seperti Trio Macan, dan lain-lain. Bedanya, kesurupan di Thailand nggak akan bilang “aing maung” seperti di Indonesia, tapi bisa jadi bakal bilang, “Ko Phun Kap.”

Adegan-adegan kesurupan di film The Medium tentu lebih mengerikan bagi orang Indonesia daripada film horor barat seperti The Conjuring. Apalagi ditambah dengan sinematografi menggunakan CCTV ala-ala film Paranormal Activity. Namun di Paranormal Activity, kejadian horor tersebut berlatar di kamar yang bersih nan estetik一yang mana tentu bikin orang Indonesia jadi nggak relatable.

Namun di The Medium, kita disuguhkan pemandangan yang mirip-mirip dengan di Indonesia, di mana hantu-hantu biasanya identik dengan kamar yang kemproh atau berantakan. Belum lagi ditambah pemandangan pembalut bekas yang disimpan di kamar oleh si Min, tentu tidak menjadi relate bagi orang Indonesia jika scene ini terdapat di film horor Barat. Lha gimana? Masa mau pake menstrual cup?

Kesimpulannya, film The Medium sukses membuat saya dua kali lebih merinding dibanding ketika menonton film horor barat. Film ini juga mengingatkan saya kepada film horor Malaysia berjudul Munafik di mana doa-doa yang dipanjatkan tidak bisa mengalahkan setan di dalam film itu. Apa nggak ngeri? Apalagi bagi yang cuma hafal doa mau makan seperti saya. Yuk, tobat, yuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *