Usai setahun kerja di kantor SCBD Jakarta, Mentari (25) mengaku “tak tahan”. Hingga akhirnya pilih pulang ke kampung halaman di Kabupaten Solok, Sumatra Barat demi mengejar work-life balance.
***
Sejak memutuskan merantau dari Solok ke Surabaya untuk kuliah selama 4 tahun, Mentari sudah terbiasa hidup mandiri. Merantau juga menuntutnya untuk bertemu dengan orang baru, sehingga dia bisa bijak menyikapi masalah lewat berbagai sudut pandang.
Misalnya, saat dia pertama kali menginjakkan kakinya di Surabaya. Mentari yang tidak terbiasa dengan logat Suroboyan mengaku sempat syok. Sama seperti anak dari luar daerah kebanyakan, dia mengira orang Surabaya suka marah-marah, padahal itulah bentuk keramahan mereka.
Meski begitu, Mentari masih merasa asing saat pindah ke Jakarta, padahal dia sudah mencicipi kehidupan sebagai anak rantau di kota terbesar kedua.
Pengalaman itu pula yang membuatnya sadar bahwa setiap kota punya ritme hidup yang berbeda, termasuk Jakarta. Sampai akhirnya, dia jadi merindukan kampung halamannya di Solok, Sumatra Barat.
Kerja di SCBD dikira sudah hidup mapan
Tak perlu waktu lama bagi Mentari untuk mendapat pekerjaan di kantor Sudirman Central Business District (SCBD) yang terletak di Jakarta Selatan usai lulus kuliah. Bagi sebagian fresh graduate, jalan karier Mentari menjadi keinginan banyak orang.
Bagaimana tidak, di tengah sulitnya mencari kerja, Mentari justru diterima di sebuah startup pendidikan yang kantornya berada di kawasan bisnis papan atas, sehingga karyawannya dikenal trendi dan berkelas.
“Tugasku fokus di bidang digital marketing, AI dan corporate training,” kata Mentari, Jumat (4/9/2026).
Tak pelak, pencapaian Mentari sering menjadi kebanggaan keluarga, hingga orang-orang di desanya (Solok) tahu bahwa Mentari sudah punya kehidupan mapan di Jakarta. Padahal, meski punya kantor di SCBD, Jakarta, dia lebih sering kerja secara remote atau kerja dari mana saja.
Namun, setelah beberapa kali pulang kampung, Mentari menyadari ada banyak orang di Solok yang belum familiar dengan sistem kerja tersebut. Makanya, Mentari sering kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari orang-orang di desa.
“Mau dijelasin berulang kali pun, pertanyaan dima karajo masih akan tetap terus ditanyakan and this is ok, walaupun kadang aku juga masih prengat-prengut wkwk,” kata Mentari.
Pulang ke Solok, bosan dengan kehidupan kerja di SCBD
Meski kerja secara remote, Mentari masih bisa datang ke SCBD, Jakarta bersama teman-temannya untuk bekerja sesekali. Namun sebenarnya, dia lebih suka kerja di kafe favoritnya, karena jarak kantor dan kosannya terlalu jauh.
Setidaknya, Mentari harus menempuh perjalanan selama 2 jam dari Cempaka Putih ke SCBD menggunakan TransJakarta. Belum lagi kalau situasi macet, panas, padatnya ruang-ruang publik di Jakarta.
Agar terhindar sejenak dari kehidupan korporat serta lingkungan elite SCBD, Mentari biasanya meluangkan waktu untuk pergi ke luar kota. Kadang-kadang dia pergi ke Surabaya atau Malang untuk mengenang masa kuliahnya dulu.
“Biasanya, aku akan quality time bareng teman yang satu frekuensi, pergi jalan-jalan ke alam, ketemu idola, mengisi tangki cinta untuk diri sendiri, makan masakan urang awak nasi goreng padang, jalan pagi menikmati mentari,” lanjutnya.
Hidup di desa ternyata nggak monoton
Karena alasan-alasan itu pula, Mentari jadi bertanya: mengapa dia tidak tinggal di Solok saja? Toh, dia masih bisa WFA. Setelah 8 tahun merantau sejak tahun 2018, Mentari mengaku sebenarnya ada perasaan rindu akan kampung halamannya tapi dia masih ragu untuk tinggal di sana.
“Banyak pertimbangan tentunya, sampai aku memutuskan stay di Solok, Sumatra Barat karena kerjaku masih WFH dan pingin banget mengeksplorasi ranah Minang,” jelas Mentari.
“Dan ternyata, hidup di kampung halaman tidak semonoton itu, seperti yang aku takutkan sebelum memutuskan pulang,” lanjutnya.
Kini, Mentari tak lagi harus menghabiskan perjalanan selama 2 jam dari SCBD ke kosan, sebab waktu itu bisa dia gunakan untuk hal-hal yang lebih berguna. Misalnya, bisa melihat pemandangan alam yang indah dari Solok ke Bukittinggi menggunakan minibus.
Kalau di Jakarta dia bisa menonton film di bioskop terdekat, bahkan bisa bertemu dengan pemeran utama secara langsung. Maka di ranah Minang, dia dapat menonton pertandingan bola dengan gratis disertai angin sepoi dari pohon-pohon indah yang menjulang atau mengunjungi Museum Bung Hatta.
Maka, kehidupan di Solok pun tidak terlalu monoton. Ia menawarkan hiburan yang lebih sederhana daripada kemegahan SCBD, Jakarta.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Standar Orang Have Menurut Gen Z: Pilih Jadi Staf Biasa demi Work-life Balance, Muak dengan Tuntutan Pekerjaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
