Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Maret 2026
A A
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kesedihan berlipat ganda di Stasiun Pasar Senen 

Tangis semacam itu kadang juga terbawa saat perantau asal Jogja tersebut tengah duduk di kursi tunggu Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Terutama saat ia baru saja kembali selepas pulang. 

“Sejak dihajar Jakarta, kondisi batinku kebalik. Kalau dulu aku nggak sabar buat menjalani daily life di Jakarta meski meninggalkan rumah di Jogja, sekarang aku malah lebih nggak sabar nunggu waktu libur atau jatah cuti buat ninggalin Jakarta sejenak buat pulang ke Jogja, rehat,” tutur Reni. 

Asli. Tiap ada kesempatan pulang ke Jogja, saat ojek online mengantarnya menuju alamat rumah Reni, sepanjang jalan Reni hanya bisa menatap nanar hiruk-pikuk Jogja. 

Apalagi setelah merebahkan tubuh di kosan, berbincang hangat dengan keluarga di rumah, atau ketemu teman-teman lama. Itu membuat sedihnya semakin berlipat-lipat. 

“Rasanya hangat banget. Sayangnya kan suasana hangat itu cuma bisa kurasain beberapa hari aja. Terus balik lagi ke Jakarta,” keluh Reni. 

Perjalanan balik Jogja-Jakarta benar-benar tidak sama lagi dari momen pertama kali. Isinya hanya kecemasan dan perasaan tersiksa yang sulit dijelaskan. Apalagi setelah kereta tiba di Stasiun Pasar Senen, Reni langsung menghela napas berat nan panjang. Jika dibahasakan, helaan napas itu kira-kira mengandung bunyi: “Yaaah, Jakarta lagi. Bisa nggak sih nanti dulu tiba di Jakarta-nya.”

Kecemasan yang terlintas jika ingin kembali ke Jogja

Reni bisa menebak, setelah mendengar cerita di atas, saya atau teman-teman pembaca pasti akan bertanya hal serupa: “Kalau merasa begitu kenapa nggak keluar dari kerjaan (cari kerjaan lain) atau balik ke Jogja sekalian?

Tidak perlu diingatkan. Sudah tidak terhitung Reni membayangkan skema semacam itu. Akan tetapi, terlalu banyak cemas yang menyerbu kepalanya, menakar kemungkinan-kemungkinan yang jauh lebih buruk misalnya ia nekat resign sebelum memiliki rencana terukur atau minimal tabungan pengaman. 

“Oke aku resign. Masalahnya, di mana-mana sekarang orang ngeluh nyari kerja susah. Lihat aja event job fair di mana pun pasti pada keroyokan. Dan nggak semuanya dapet kerja tahu,” ungkap Reni. 

“Ayahku juga sering kok bilang, kalau udah capek di Jakarta, balik aja ke Jogja. Tapi kecemasanku sama. Kalau toh dapet kerja di Jogja, aku belum siap dapet gaji lebih kecil. Sementara biaya hidup Jogja semakin ke sini juga makin mirip Jakarta kan,” sambungnya. 

Orang tua Reni sebenarnya tidak menuntut Reni harus kerja dengan gaji besar. Tapi Reni juga harus berhitung: hari demi hari ayahnya menuju tua. Ia harus berpikir punya pendapatan yang tidak sekadar cukup untuk diri sendiri, agar suatu hari ketika ayahnya sudah tidak bekerja lagi, ia bisa gantian menanggung hidup mereka. 

“Kecuali kalau aku nikahnya sama cowok kaya ya,” seloroh Reni. “Bercanda. Dinikahi cowok kaya saat ini memang menjadi salah satu angan-anganku yang bisa mengusir kecemasan.” 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Iklan

BACA JUGA: Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2026 oleh

Tags: biaya hidup jakartajakartajakarta pusatJogjakereta jakarta jogjakereta jogja jakartakerja di jakartapasar senenperantau di jakartaperantau jogjaStasiun Pasar Senentekanan kerja jakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
anak kos ketakutan pasang gas di jogja. MOJOK.CO
Catatan

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stres menyeimbangkan pekerjaan sampingan dan pekerjaan kantoran karena side hustle

“Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

1 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Ibu hamil kondisi mengandung bayi

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026
Gen Z rela sise hustle

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

30 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.