Kesedihan berlipat ganda di Stasiun Pasar Senen
Tangis semacam itu kadang juga terbawa saat perantau asal Jogja tersebut tengah duduk di kursi tunggu Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Terutama saat ia baru saja kembali selepas pulang.
“Sejak dihajar Jakarta, kondisi batinku kebalik. Kalau dulu aku nggak sabar buat menjalani daily life di Jakarta meski meninggalkan rumah di Jogja, sekarang aku malah lebih nggak sabar nunggu waktu libur atau jatah cuti buat ninggalin Jakarta sejenak buat pulang ke Jogja, rehat,” tutur Reni.
Asli. Tiap ada kesempatan pulang ke Jogja, saat ojek online mengantarnya menuju alamat rumah Reni, sepanjang jalan Reni hanya bisa menatap nanar hiruk-pikuk Jogja.
Apalagi setelah merebahkan tubuh di kosan, berbincang hangat dengan keluarga di rumah, atau ketemu teman-teman lama. Itu membuat sedihnya semakin berlipat-lipat.
“Rasanya hangat banget. Sayangnya kan suasana hangat itu cuma bisa kurasain beberapa hari aja. Terus balik lagi ke Jakarta,” keluh Reni.
Perjalanan balik Jogja-Jakarta benar-benar tidak sama lagi dari momen pertama kali. Isinya hanya kecemasan dan perasaan tersiksa yang sulit dijelaskan. Apalagi setelah kereta tiba di Stasiun Pasar Senen, Reni langsung menghela napas berat nan panjang. Jika dibahasakan, helaan napas itu kira-kira mengandung bunyi: “Yaaah, Jakarta lagi. Bisa nggak sih nanti dulu tiba di Jakarta-nya.”
Kecemasan yang terlintas jika ingin kembali ke Jogja
Reni bisa menebak, setelah mendengar cerita di atas, saya atau teman-teman pembaca pasti akan bertanya hal serupa: “Kalau merasa begitu kenapa nggak keluar dari kerjaan (cari kerjaan lain) atau balik ke Jogja sekalian?
Tidak perlu diingatkan. Sudah tidak terhitung Reni membayangkan skema semacam itu. Akan tetapi, terlalu banyak cemas yang menyerbu kepalanya, menakar kemungkinan-kemungkinan yang jauh lebih buruk misalnya ia nekat resign sebelum memiliki rencana terukur atau minimal tabungan pengaman.
“Oke aku resign. Masalahnya, di mana-mana sekarang orang ngeluh nyari kerja susah. Lihat aja event job fair di mana pun pasti pada keroyokan. Dan nggak semuanya dapet kerja tahu,” ungkap Reni.
“Ayahku juga sering kok bilang, kalau udah capek di Jakarta, balik aja ke Jogja. Tapi kecemasanku sama. Kalau toh dapet kerja di Jogja, aku belum siap dapet gaji lebih kecil. Sementara biaya hidup Jogja semakin ke sini juga makin mirip Jakarta kan,” sambungnya.
Orang tua Reni sebenarnya tidak menuntut Reni harus kerja dengan gaji besar. Tapi Reni juga harus berhitung: hari demi hari ayahnya menuju tua. Ia harus berpikir punya pendapatan yang tidak sekadar cukup untuk diri sendiri, agar suatu hari ketika ayahnya sudah tidak bekerja lagi, ia bisa gantian menanggung hidup mereka.
“Kecuali kalau aku nikahnya sama cowok kaya ya,” seloroh Reni. “Bercanda. Dinikahi cowok kaya saat ini memang menjadi salah satu angan-anganku yang bisa mengusir kecemasan.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














