Cerita soal mudik tidak hanya datang dari perjuangan dan kisah sedih, ada juga yang mengedepankan kenyamanan dalam mudik Lebaran yang hanya berlangsung singkat. Sebab apa boleh buat, mengeluarkan uang lebih demi tiket pesawat terasa lebih masuk akal daripada menghabiskan berjam-jam, bahkan berhari-hari, di perjalanan.
Harga tiket pesawat bukan masalah
Pesawat bukan moda transportasi yang dicatat paling banyak digunakan untuk mudik. Survei Kementerian Perhubungan sendiri, menunjukkan moda transportasi yang dominan adalah mobil pribadi (76,24 juta orang), sepeda motor (24,08 juta orang), dan bus (23,34 juta orang). Namun bukan berarti, pesawat tidak akan menjadi pilihan.
Devi (25) adalah salah satunya. Perempuan asal Lampung itu lebih memilih menggunakan pesawat daripada bus untuk kembali ke kampung halamannya.
Menurutnya, pesawat menjadi moda transportasi mudik Lebaran paling praktis yang bisa menghemat waktu dan tenaga. Penerbangan dari Yogyakarta International Airport ke Bandar Udara Internasional Radin Inten II dengan transit di Soekarno Hatta International Airport memakan total waktu selama 3 jam 10 menit. Penerbangan dari Jogja ke Jakarta selama 1 jam 10 menit, transit di Jakarta, 1 jam 15 menit, dan Jakarta ke Bandar Lampung selama 45 menit.
Setidaknya, rute perjalanan itu terasa lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan bus yang pastinya menghabiskan waktu lebih lama dari 3 jam. Meski tentu saja, peringkasan waktu ini dibayarkan mulai dari Rp1,3 juta sampai Rp1,8 juta.
Namun, bagi Devi, ini bukan masalah. Justru, bepergian dengan pesawat berarti membayar tidak hanya untuk transportasi, tetapi juga waktu dan tenaga yang disimpan selama itu.
“Karena selain beli waktu, ya kita beli tenaga,” katanya kepada Mojok, Selasa (10/3/2026).
Untuk biaya yang harus dikeluarkan, kata Devi, itulah nilai tukarnya. Ia bisa mengusahakan untuk mencari uang, tetapi tidak dengan waktu yang membuatnya lebih cepat sampai ke rumah saat mudik menjelang Lebaran.
“Menurutku, duit bisa dicari, tapi waktu? Apalagi pulang ke rumah ya,” tambah dia.
Rela menukar uang dengan waktu
Obrolan “mahal” dan “murah” soal harga tiket pesawat pun tidak lagi membuat Devi risau. Ia merasa, setiap orang mempunyai pertimbangan masing-masing, tetapi dirinya lebih memilih untuk tidak mati-matian berjuang menahan diri dengan transportasi mudik lebih murah hanya karena alasan biaya.
“Kalau mau berbicara murah atau mahalnya, ini lebih ke tujuan ya menurutku. Mau naik pesawat tujuannya apa dulu nih? Mau ngejar waktunya kah, atau urgensi lain?” ujarnya.
Devi mengatakan, bila memutuskan untuk menaiki bus dari Jogja sampai Lampung, setidaknya ia harus merelakan waktu hampir seharian di perjalanan, tepatnya selama 20 jam. Meski memang, biayanya adalah sepertiga dari tiket pesawat, yakni sekitar Rp650 ribu.
Sudah tahu menggunakan bus akan membuatnya lebih lama di perjalanan, berarti lebih lama untuk bertemu dengan keluarga di rumah. Devi memutuskan untuk menukarkan uang dengan waktu yang bisa didapatkannya melalui penerbangan pesawat.
“Karena sampai saat ini, kalau ada duit ya, kita bisa membeli waktu,” ujar Devi.
“Secara rasional bagiku, yang mahal bukan nominal duit, tapi lebih ke waktu karena aku sadar kita nggak bisa sebenarnya bikin waktu,” ujar dia menambahkan.
@lalasagnyaw setelah setaun ga pulang #kalimantan #pulang ♬ Lagu Untukmu – Raisa
Orang tua mendukung mudik dengan pesawat demi kenyamanan
Juli (23) mengatakan, punya pemikiran yang sama. Dari Jogja ke Kalimantan Tengah, Juli dapat menempuhnya menggunakan kapal dengan singgah di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, atau Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Meski begitu, Juli lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan pesawat. Alasannya, tiket kapal memang lebih murah, hanya Rp300 ribu, tetapi ia harus luntang-lantung di lautan selama lebih dari satu hari, yakni 28 jam.
Dengan alasan itulah, perempuan asal Borneo ini menyebut orang tuanya mendukungnya untuk mudik Lebaran dengan menggunakan pesawat agar lebih nyaman dan tidak lelah dalam perjalanan panjang. “Emang ngutamain kenyamanan aja, rela bayar lebih untuk dapatin itu,” katanya.
Toh, menurut Juli, orang tuanya yang tidak mempermasalahkan ketika dirinya lebih memilih pesawat yang merogoh kocek hingga Rp1,5 juta dibandingkan tiket kapal yang hanya seperlimanya. Artinya juga, Juli merasa orang tuanya memperbolehkannya untuk mengutamakan kenyamanan itu.
Sebab, baginya, tidak penting memikirkan orang-orang yang mengatakan lebih baik untuk menggunakan transportasi terjangkau ketika ibunya sendiri siap menjadi donatur utama.
“Iya duit mama, mamaku juga oke sih kalau buat kenyamanan,” kata dia. “Biar anaknya safe.”
Sama halnya dengan Devi, ia juga mengatakan bahwa keputusannya memilih pesawat sebagai moda transportasi mudik karena dukungan orang tua. Devi bukan tidak bisa menggunakan bus alih-alih pesawat, tapi sang ibu lebih memilih anaknya untuk segera sampai rumah dengan menggunakan pesawat.
“Kalau dari Jogja ke Lampung, biasanya mamaku sih yang prefer naik pesawat aja karena biar cepat sampai gitu,” kata Devi.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














