Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Ilustrasi - Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Kondisi ekonomi yang terasa semakin sulit membuat pasangan muda di Jogja merasa tidak sanggup bermimpi bisa punya rumah sendiri suatu hari ini. Ya, sebatas bermimpi saja sudah tidak sanggup. Mereka hanya bisa bertahan di kamar kosan sempit dan melakoni pekerjaan ganda karena ketakutan kehabisan uang sebelum awal bulan berikutnya. 

***

Menjelang tengah malam, saat kebanyakan penghuni kos sudah tertidur di petak masing-masing, pasangan muda Ojit dan Pita (24 tahun) baru saja tiba dari “berkeliling” dari satu alamat ke alamat lain di Jogja. Keduanya baru saja pulang mengantar pesanan makanan dari Shopee Food. 

Begitulah aktivitas Ojit dan Pita belakangan ini. Semenjak menyadari bahwa kebutuhan rumah tangga keduanya nyaris mustahil dicukupi dengan gaji tunggal Ojit. Ojit harus memeras tenaganya siang dan malam untuk mendapat pendapatan lebih. 

Menikah meski belum punya rumah dan belum mapan finansial karena keyakinan

Ojit dan Pita asli Kulon Progo, Jogja, tetangga dusun. Keduanya sama-sama lulusan SMA. Ojit sebelumnya bekerja di tempat fotokopi di Kota Jogja. Sementara Pita bekerja sebagai kasir minimarket sebelum akhirnya kontraknya tidak diperpanjang. 

Singkat cerita, mereka resmi menikah pada akhir 2025 lalu melalui perjodohan keluarga. Mereka bukannya tidak menyadari bahwa ada hal-hal yang belum terpenuhi sebelum menikah, seperti punya rumah sendiri hingga kemapanan finansial. 

Akan tetapi, perjodohan tersebut mereka setujui karena mereka memegang keyakinan—sebagaimana juga diyakini oleh lingkungan mereka—bahwa menikah akan membuka pintu rezeki. 

“Setelah menikah, kami langsung putuskan tinggal di kos pasutri di Jogja, karena kerjaanku kan di Jogja,” ungkap Ojit, Kamis (20/8/2026). 

“Kami dapat kos murah, Rp650 ribu. Tapi kondisinya sekadarnya. Satu ruangan, dapur, kamar mandi dalam. Buat tidur berdua cukup lah,” sambungnya. 

Pasangan muda di Jogja makan tahu-tempe-sambal demi bertahan, istri terpaksa puasa dari banyak keinginan 

Memang, sebelum akhirnya merencanakan pernikahan, Ojit pindah kerja dari fotokopian bergaji Rp1,6 juta menjadi kurir internal di sebuah agen properti bergaji Rp2 jutaan. Menurutnya, itu adalah wujud rezeki pernikahan sebagaimana yang ia yakini. 

Namun, seiring waktu, setelah menjalani kehidupan rumah tangga di kosan, keduanya akhirnya merasakan betapa mengandalkan gaji tunggal Ojit sangat jauh dari cukup. 

Bagaimana tidak. Baru gajian, uang sebesar Rp650 ribu sudah harus disetorkan ke pemilik kos. Uang sisanya harus dikelola untuk kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk bensin dan paket internet untuk dua ponsel mereka. 

“Jelas nggak cukup. Kami sering makan hanya tahu-tempe-sambal buat hemat. Paket internet kadang salah satu dari kami harus ngalah. Misalnya aku, nggak beli paket internet karena pas kerja di kantor bisa numpang WiFi,” beber Ojit. “Pintar-pintar bersiasat lah.” 

“Sebagai pasangan muda, kadang istri juga pengin diajak jalan-jalan, jajan, atau sekadar nongkrong di mana gitu lah. Tapi di awal-awal masa kami menikah, harus puasa dulu karena nggak cukup,” imbuhnya. “Daripada buat jajan-jajan, mending uangnya buat beli air galon isi ulang, gas LPG, atau alat-alat mandi yang sudah habis.” 

Maka jangan harap bisa membeli barang-barang konsumtif lain seperti motor baru atau ponsel baru. Mereka hanya bisa memiliki merek murahan yang jauh tertinggal dari tren pasangan muda yang terus berkembang. 

Pasangan muda di Jogja tidak sanggup bermimpi bisa punya rumah sendiri, habiskan seumur hidup di kos

Berkaca pada kenyataan hidup yang demikian, Ojit dan Citra pun memutuskan untuk menunda punya momongan terlebih dulu, meski keluarga di Kulon Progo sudah mulai bertanya-tanya dan kerap meyakinkan bahwa kelahiran buah hati bisa memancing rezeki. 

Ojit mengaku tidak sampai hati jika membayangkan: punya anak dalam kondisi seperti saat ini (saat ia sendiri saja harus makan tahu-tempe-sambal), masa ia tega membiarkan anaknya tidak mendapat asupan yang semestinya. Belum lagi jika kelak sudah masuk sekolah. 

“Dari situ pula aku dan istri sepertinya nggak sanggup bermimpi punya rumah. Uang kami nggak mungkin cukup buat bangun rumah sendiri,” ucap Ojit putus asa. 

Apalagi, di kosnya ada pasangan kepala 5 yang hidup menua di kosan. Si bapak-bapak merupakan penjual pentol. Sementara istrinya hanya ibu rumah tangga biasa. 

Ojit pernah berbincang dengan pasangan tersebut. Kata mereka, sebagai orang yang tidak punya warisan keluarga, tinggal di kos hingga mati menjadi pilihan hidup yang mau tidak mau harus mereka terima. 

“Aku akhirnya juga hanya bisa membayangkan begitu. Sepertinya aku dan istri seumur hidup hanya bisa mampu tinggal di kosan, mustahil bisa beli rumah sendiri,” katanya. 

“Apalagi kami juga nggak punya warisan di Kulon Progo. Kalau pulang dan numpang orang tua sebenarnya bisa. Tapi harus buang rasa malu. Selain itu, kalau balik ke Kulon Progo, belum tahu juga bakal kerja apa,” ujarnya. 

Sibuk kerja berdua untuk hidup, lupakan angan-angan punya rumah sendiri di Jogja

Sejak beberapa bulan lalu, Citra sudah mulai ikut bekerja sebagai buruh laundry berupah murah. Mau tidak mau, ia harus membantu keuangan rumah tangganya. 

Malam harinya, meski Citra dan Ojit pulang ke kos dengan tubuh pegal-pegal, tapi Citra memilih ikut Ojit mengantarkan makanan Shopee Food dari satu alamat ke alamat lain di Jogja. 

“Awalnya Mas Ojit nggak membolehkan. Tapi alasanku, ya itung-itung jalan-jalan. Jadi akhirnya saya ikut, bonceng dia ngantar pesanan,” ucap Citra. 

“Sudah lumayan itu lihat jalanan Jogja malam hari. Karena kondisi kami kan nggak bisa leluasa jalan-jalan,” tutupnya. Citra sendiri pun sudah di tahap berusaha melupakan angan-angan punya rumah sendiri, meski di media sosialnya kerap berseliweran konten-konten influencer yang bisa membeli rumah sendiri di usia muda

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Exit mobile version