Keputusan Memilih Tinggal di Perumahan Subsidi Bikin Nyesek, Niat Cari Ketenangan Malah Berakhir Makan Hati

Punya rumah di Perumahan,MOJOK.CO

Bagi banyak pekerja, tinggal di kompleks perumahan sering kali dianggap sebagai cara terbaik untuk mendapatkan privasi. Konon, budaya masyarakat di cluster cenderung lebih menghargai ruang personal, sangat cocok bagi pekerja yang lelah setelah seharian mumet di kantor.

Ekspektasi inilah yang awalnya dipegang oleh Defri (32), seorang pekerja asal Semarang.

ADVERTISEMENT

Selama bertahun-tahun hidup sebagai anak kos di Semarang, kamarnya selalu menyatu dengan permukiman warga. Pengalaman itu meninggalkan kelelahan tersendiri baginya.

Di lingkungan yang terlalu komunal, bagi Defri, rasanya semua orang ingin tahu urusan pribadi tetangganya. Ruang privasi seakan tidak pernah ada.

“Semua itu dalihnya ‘biar tahu kabar kita’, padahal aslinya yang pengen ngubek-ngubek urusan personal kita aja,” katanya, Senin (19/10/2026) lalu.

Meski saat berstatus sebagai pendatang, Defri kerap dituntut untuk bersikap laiknya warga asli. Seperti, ia diharapkan rutin ikut srawung, nongkrong bersama warga, hingga menghadiri rentetan kegiatan sosial. 

Padahal, jam kerjanya di kantor sering kali memaksanya pulang saat langit sudah gelap. Setiba di kos, badannya sudah remuk. Ia hanya ingin beristirahat tanpa harus merasa sungkan atau dihakimi karena absen dari pergaulan tetangga.

“Nyatanya tiap kali nggak ikut nongkrong, malah dihakimi. Katanya nggak respect sama warga sekitar.”

Memutuskan tinggal di perumahan subsidi setelah menikah

Karena tidak mau mengulang siklus melelahkan itu, Defri mengambil keputusan tegas setelah menikah. Ia membulatkan tekad untuk mencari hunian di sebuah perumahan, serta mencoret opsi tinggal atau mengontrak di perkampungan.

Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah perumahan subsidi di kawasan pinggiran Semarang.

ADVERTISEMENT

Alasannya sangat rasional. Selain harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan cluster elite, ia juga tidak ingin istrinya kelak harus menghadapi tekanan sosial dari tetangga yang terlalu ikut campur.

“Aku maunya ya hidup tenang ajalah. Hidup masing-masing, nggak usah terlalu mencampuri urusan tetangga,” jelasnya.

Bagi keluarga muda seperti Defri, perumahan subsidi adalah pilihan yang sangat masuk akal. Ukuran bangunannya yang terbilang mungil sama sekali tidak menjadi masalah, karena yang menempati juga baru keluarga kecil. 

Asumsi semacam ini nyatanya diamini oleh banyak orang. Jika melihat percakapan di media sosial seperti Threads, perumahan subsidi memang kerap direkomendasikan sebagai langkah awal paling aman bagi pengantin baru dengan bujet terbatas.

Niat cari ketenangan, malah dapat tetangga pecinta sound horeg

Pada bulan-bulan pertama, keputusan pindah ke perumahan itu terasa sangat tepat. Ritme kerja yang padat membuat Defri dan istrinya sering pulang malam. Rumah benar-benar hanya berfungsi sebagai tempat tidur. Lingkungan sekitar pun terasa sepi dan tenang.

Namun, lambat laun, ketenangan itu perlahan hilang. Bencana sesungguhnya datang ketika akhir pekan tiba. 

Defri bercerita, suatu hari, tetangga yang rumahnya persis di sebelah menyalakan sound horeg dengan volume yang memekakkan telinga. Suara bas yang berdentum keras membuat kaca jendela rumah Defri sampai bergetar. 

Tak hanya menyetel musik, tetangganya itu juga asyik bernyanyi karaoke hingga berjam-jam. Suara bising itu seolah menembus dinding yang membatasi rumah mereka.

Awalnya, Defri mencoba memaklumi. Ia mengira tetangganya mungkin sedang menggelar acara syukuran atau hajatan kecil-kecilan. Sayangnya, tebakan itu keliru. 

Pada hari-hari berikutnya, rutinitas bising itu terus terulang. Ternyata, menyetel sound horeg secara ugal-ugalan memang sudah menjadi hobi rutin tetangganya. 

“Ternyata nggak ada bedanya di sini sama di desa.”

Kudu pintar-pintar cari perumahan subsidi yang pas

Apa yang dialami Defri sebenarnya sering menjadi peringatan keras di berbagai forum dunia maya. Di Threads, banyak netizen yang mewanti-wanti bahwa membeli perumahan subsidi itu memang untung-untungan.

Karena harganya yang sangat murah dan akses kreditnya mudah, lingkungan tersebut otomatis akan diisi oleh orang-orang dari berbagai macam latar belakang.

Masalahnya, banyak penghuni yang membawa kebiasaan lama mereka ke tempat baru. Jika sebelumnya mereka terbiasa berisik, atau memutar musik sekencang-kencangnya di kampung asal, kebiasaan itu akan tetap dibawa ke lingkungan perumahan.

Oleh karena itu, banyak yang menyarankan agar lebih selektif. Jika memang harus mengambil rumah subsidi, carilah lokasi yang harganya sedikit di atas batas bawah, atau yang belum terlalu ramai penghuni. Sebab, perumahan subsidi yang terlalu laris dan padat biasanya tidak ada bedanya dengan permukiman di desa.

Mendengar kisah Defri, saya jadi teringat dengan pengalaman kakak saya sendiri yang kebetulan juga tinggal di sebuah perumahan subsidi di Semarang. Harapannya saat itu, ia ingin membesarkan anak di lingkungan yang mandiri, tenang, dan minim campur tangan tetangga.

Kenyataannya justru bikin nyesek. Setiap kali keponakan saya pulang setelah bermain dengan anak-anak tetangga di sekitar blok, ia selalu membawa pulang “kata-kata mutiara” baru. Lingkungan perumahan tersebut ternyata menormalisasi cara komunikasi yang sangat toksik bagi anak-anak.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Terjebak di Rumah Perumahan yang Menyatu dengan Kampung, Tetangga Individualis dan Toxic Jadi Satu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.