Beberapa orang menyebut, sepertinya mencari duit di Jawa Timur tidak sulit-sulit amat meski tanpa modal ijazah tinggi-tinggi maupun seabrek pengalaman kerja. Ada tiga sektor yang tampak sangat menggiurkan. Modalnya cukup mengenyampingkan sisi moral, rasa malu, dan betah cacian.
***
Saya memang bukan asli Jawa Timur. Tetapi karena beristri orang sana dan menghabiskan banyak waktu di sana, setiap kali ada fenomena-fenomena “nyeleneh” dari provinsi ini, beberapa teman non-Jatim kerap mencolek saya. Entah di media sosial maupun melalui kiriman sebuah konten melalui pesan WhatsApp.
Sampai akhirnya mereka sampai pada kesimpulan: kalau diperhatikan, sepertinya kok gampang ya mencari duit di Jawa Timur. Barangkali terdengar sarkas belaka. Namun, dari yang terlihat di media sosial dan apa yang saya temui sendiri, apa yang mereka lontarkan ternyata ada benarnya juga. Terutama karena mereka spesifik menilai dari tiga sektor populer:
Sektor 1: Dancer sound horeg seperti Rawon Seto diam-diam bikin heran karena mendobrak standar
Dancer sound horeg menjadi salah satu sektor yang dinilai sangat menjanjikan in this economy. Bagaimana tidak. Bisnis sound horeg bisa dibilang bukan bisnis viral sesaat. Sudah cukup sustain loh sejak kemunculannya pasca Covid-19 lalu.
Sebagai contoh, dalam empat bulan terakhir ini saja, setiap saya pulang ke Jombang, Jawa Timur, selalu ada pementasan dalam skala besar. Empat bulan berturut-turut sejak Juli hingga Oktober 2026. Kabarnya, khusus di Jombang sendiri saja, bahkan sudah keluar jadwal untuk gelaran karnaval sound horeg setidaknya di dua bulan pertama 2027 nani.
Kalau perkara persewaan sound-nya, jangan ditanya. Sudah pasti “puteran duit gedhe” kalau meminjam istilah warga setempat. Tapi yang menjadi “anomali” dan membuat heran adalah eksistensi para dancer utama yang kemudian disebut sebagai “artis sound horeg”.
Saat ini, publik mengenal Rawon Seto alias Koko Seto atau yang bernama asli Setyo Bayu Aji, asal Kediri, Jawa Timur. Ia dikenal karena gayanya jogetnya yang cenderung santai lewat goyang ibu jari+jari kelingking, dipadukan dengan gerak kaki serta goyang pinggul. Tidak energik, tapi chill.
Sebelumnya, ada nama-nama viral lain seperti Riswanda Mahardika (Malang), peracik musik jedag-jedug sound horeg, yang dikenal dengan gayanya yang cool dan ciri khas rambut pirang. Lalu ada pula Icha Cellow (Mojokerto) yang bahkan mendapat julukan sebagai “Bidadari Sound Horeg” di sebagian kalangan.
Ketiganya bisa dibilang mendobrak standar. Tidak ada keterampilan rumit khas dunia kerja, tidak ada standar good looking dalam definisi perkantoran. Mereka tampil apa adanya. Dan yang mengherankan tentu potensi cuan yang mereka dapatkan.
Dari saweran, undangan tv, hingga modal bisnis “jual popularitas”
Tidak ada publikasi resmi perihal besaran penghasilan yang didapat dari menjadi dancer sound horeg. Saya harus membuat agenda temu dulu jika ingin menguliknya di tengah jadwal padat Koko Seto misalnya.
Hanya saja, dari yang kasat mata, saweran untuk dancer utama sound horeg ini terbilang lancar. Dalam setiap karnaval sound horeg, para dancer utama ini pasti berkalung uang saweran, lalu sembari berjalan mengiri arak-arakan, salah satu tim dari dancer akan menyodorkan kardus yang akan diisi oleh para penonton yang datang menyaksikan.
“Tapi efek dari sound horeg itu lah yang kupikir membuka jalan rezeki yang lain,” celetuk seorang teman. Ia menunjukkan tayangan: belum lama ini Rawon Seto diundang oleh salah satu stasiun tv besar. Sudah pasti ada honornya dong. Dalam pemahaman awam, honor undangan tv tentu saja tidak sepele.
Lihat postingan ini di Instagram
Contoh lain: pada Oktober 2025 lalu, Icha Chellow merintis bisnis angkringan bernama “Angkringan Chellow” (dengan logo bekas kecupan bibir khasnya) di Mojokerto. Popularitas Icha sebagai dancer sound horeg tidak pelak membuat angkringannya langsung viral. Pembeli berdatangan. Duit bermasukan.
Pokoknya betah sama cacian saja. Karena memang, sejauh yang saya amati di media sosial, setiap hal menyangkut aktivitas para dancer sound horeg ini, pasti tidak jauh-jauh dari sebuah caci-maki netizen.
Lihat postingan ini di Instagram
Sektor 2: praktik gus-gusan jadi ceruk potensial di Jawa Timur
“Kalau pulang ke kampung halaman, kira-kira mau kerja apa?”
Tiap kali pertanyaan itu mencuat di tongkrongan saya di Jogja, beberapa teman pasti langsung mengarahkan saya untuk “macak gus”, pasti laku.
Begini. Asumsi tersebut lahir dari fenomena betapa loyalnya masyarakat Jawa Timur terhadap “gus”. Masalahnya, ada gus yang bukan benar-benar dari trah kiai pesantren atau punya kapasitas keilmuan mumpuni.
Saya kenal seorang teman lama. Bukan anak kiai pesantren. Hanya pernah sebentar mengenyam pendidikan di pesantren. Tapi dengan modal macak ala gus dan pintar beretorika, ia laris manis. Undangan ceramah dari acara ke acara. Bahkan jadi jujukan sowan karena dikenal sakti: orang datang untuk minta air doa dan sejenisnya, yang kemudian ditukar dengan mahal (uang atau barang bawaan seikhlasnya).
Saya punya modal yang sedikit lebih unggul. Mondok saya jauh lebih lama dari dia. Itulah kenapa, saat saya ceritakan bagian ini ke tongkrongan di Jogja, beberapa teman menilai saya bisa memanfaatkannya kalau kelak tidak lagi bekerja di bidang yang saya tekuni saat ini.
“Sing penting tegel ngapusi wong to (Yang penting tega membohongi orang kan),” begitu celetukan mereka. Haduh, terlalu frontal, Mas. Tetapi untuk sampai di titik itu, harus benar-benar menabrak nilai moral. Entah bisa tidur nyenyak atau tidak setelahnya.
Sektor 3: artis kesurupan jaranan di Jatim, modal kotor dan betah ora guyu
Sektor berikutnya disebut underrated, tapi tidak kalah potensial dari dancer sound horeg: artis kesurupan jaranan.
Tidak jauh berbeda dari karnaval sound horeg, jaranan atau barongan menjadi hiburan masyarakat akar rumput yang masih terus eksis di Jawa Timur. Terutama di desa-desa.
Seiring dengan viralnya sound horeg, di Facebook pernah viral aksi jaranan yang membuat Yono Mullet (asal Lampung) bahkan dijuluki “artis kesurupan” oleh netizen. Kemudian viral juga sosok dukun flamboyan asal Majalaya, Bandung: Om Sansan Jeh.
Lihat postingan ini di Instagram
Viralnya aksi kesurupan dalam acara jaranan tersebut bahkan sampai membuat dua komika: Musdalifah Basri dan Gerall turut berpartisipasi untuk merasakan sensasi berada di tengah-tengah “parade kesurupan” tersebut.
Jaranan yang viral memang bukan dari Jawa Timur. Akan tetapi, jika menimbang jaranan di Jawa Timur yang masih terus menggeliat, beberapa teman tongkrongan menyebut sektor ini masih bisa diharapkan lah untuk mencari cuan. Asal betah isin, macak kesurupan, lalu viral. Viral ini lah yang bisa membuka jalan rezeki lain.
Om Sansan Jeh, misalnya, pernah diundang kolaborasi oleh Jurnal Risa. Dengan atribusi sebagai seorang indigo dan spiritualis, di bio Instagram-nya bahkan tertera kontak untuk endorse dan konsultasi privat. Artinya, ada potensi rezeki masuk di sana.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ada Manfaat, Banyak Mudharat: Bagaimana Kita Seharusnya Memandang Fenomena Sound Horeg Hari Ini? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan