Tinggal di perumahan memang membawa ketenangan tersendiri. Namun, ketika rumah itu menyatu dengan kehidupan sosial di kampung justru menciptakan masalah baru, sekalipun untuk pasangan yang suka srawung. Karena tetangga yang individualis bertemu dengan tetangga kampung yang toxic.
***
Ida (34) awalnya mengira membeli rumah di perumahan akan memberinya kehidupan yang lebih tenang. Lima tahun lalu, ia bersama suami dan anaknya memilih tinggal di sebuah cluster di daerah Moyudan, Sleman.
Rumah itu tidak berdiri di kawasan cluster yang sepenuhnya terpisah. Kompleks tempat Ida tinggal justru menyatu dengan kampung. Rumah-rumah perumahan berdampingan dengan rumah warga lama, jalan lingkungan saling terhubung, dan kehidupan sosial keduanya bertemu dalam berbagai kesempatan. Masalahnya, Ida merasa harus hidup dengan dua pola bertetangga sekaligus.
“Tinggal di sini tu aneh, Mas. Di satu sisi punya lingkungan yang individualis, tapi di sisi yang lain karena menyatu dengan kampung ya ada tetangga yang toxic hobi nyinyir dan ghibah,” ujar Ida kepada saya, Kamis (8/10/2026).
Sejak sebulan pertama tinggal di sana, Ida dan suaminya sudah merasakan perbedaan itu. Mereka tidak kesulitan beradaptasi karena memang senang bersosialisasi. Namun, setelah lima tahun, perbedaan tersebut justru mulai terasa melelahkan.
Individualis perumahan malah terasa lebih aman
Bagi Ida, warga cluster memang cenderung individualistis. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak terlalu ingin mencampuri kehidupan tetangga. Anehnya, Ida justru menemukan sisi positif dari sikap tersebut.
Di lingkungan perumahan, seseorang tidak perlu terlalu memikirkan pencapaian tetangga, pekerjaan, kondisi rumah, sampai urusan keluarga. Orang-orang tidak banyak bertanya dan tidak terlalu peduli.
“Di sini itu orangnya pada egois dan gamau tahu urusan orang. Itu ada enaknya karena kita jadi ga mungkin dinyinyirin atau dighibahin karena sama-sama ga peduli,” kata Ida.
Pengalaman Ida punya kemiripan dengan penelitian Universitas Gadjah Mada mengenai relasi sosial penghuni cluster di Yogyakarta. Penelitian itu menemukan bahwa perbedaan karakteristik, gaya hidup, pekerjaan, usia, hingga kepemilikan rumah dapat mempengaruhi komunikasi dan integrasi sosial kedua kelompok. Jadi, individualisme tidak selalu berarti hubungan sosial yang buruk. Bagi Ida, tidak terlalu ikut campur justru bisa menjadi bentuk kenyamanan.
Kampung lebih guyub, tapi omongan juga lebih dekat daripada di perumahan
Persoalannya muncul ketika Ida masuk ke lingkungan kampung. Warga kampung lebih mudah menyapa, berbagi, membantu tetangga, dan mengajak terlibat dalam kegiatan bersama. Bagi Ida yang senang srawung, kondisi ini sebenarnya menyenangkan. Namun, kedekatan sosial itu juga memiliki konsekuensi.
“Tapi di kampung orangnya pada baik, suka menolong, dan suka berbagi. Namun jeleknya mereka tu rata-rata orang yang nyinyir dan suka membicarakan orang. Lha wong saya pasang AC saja ada tetangga di kampung yang malah ‘kepanasan’,” ujar Ida.
Kalimat itu menjadi gambaran kecil tentang persoalan Ida. Rumah di cluster memberinya privasi, tetapi lokasinya yang menyatu dengan kampung membuat kehidupan pribadi tetap mudah terlihat.
Penelitian UGM juga menemukan bahwa pembangunan perumahan dapat meningkatkan interaksi, tetapi hubungan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Interaksi antara warga perumahan dan warga kampung dapat melahirkan kerja sama, persaingan, sekaligus konflik.
Undangan kampung dan iuran perumahan yang bikin serba salah
Posisi Ida semakin rumit ketika kampung mengadakan kegiatan bersama. Dalam acara kampung, biasanya hanya keluarga Ida dan satu keluarga lain dari perumahan yang datang. Ida merasa tidak enak karena warga kampung sebenarnya ramah, tetapi penghuni perumahan tidak banyak yang mengikuti kegiatan tersebut. Perbedaan juga muncul ketika warga mengumpulkan iuran.
“Kalau ada acara kampung, kalau ada undangan nanti yang perumahan hanya keluarga kami dan satu keluarga lain yang berangkat. Itu rasanya ga enak, sedangkan orang kampung itu pada ramah,” kata Ida.
Ia juga mengeluhkan anggapan bahwa penghuni perumahan pasti memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi.
“Biasanya ada perbedaan jumlah iuran juga kalau Agustusan. Katakanlah warga kampung iuran Rp50 ribu, orang dari cluster pasti diminta Rp75 sampai Rp100 ribu dengan dalih ‘kan tinggal di perumahan, pasti kaya’,” ujarnya.
Riset UGM tentang kawasan cluster dan kampung di Yogyakarta menunjukkan bahwa kedekatan fisik tidak otomatis membuat kedua kelompok menyatu. Komunikasi serta keterlibatan dalam kegiatan sosial justru menjadi faktor penting dalam proses integrasi.
Lima tahun tinggal, tetap memilih jalan tengah
Lima tahun tinggal di rumah itu membuat Ida tidak ingin menyalahkan salah satu kelompok. Baginya, warga cluster memiliki kenyamanan karena tidak banyak mencampuri urusan orang lain. Warga kampung punya kelebihan karena masih menjaga kebiasaan saling membantu dan berkumpul. Masalahnya muncul ketika dua pola tersebut bertemu dalam satu lingkungan.
“Masalahnya semakin saya masuk di kedua dunia itu saya jadi semakin bingung harus bersikap bagaimana. Saya dan suami orangnya seneng srawung, jadi sebenarnya cukup mudah beradaptasi namun lama-lama yang keganggu dengan sikap warga di dua ‘dunia’ yang berbeda ini, Mas,” tutur Ida.
Akhirnya, Ida dan suami memilih cara paling aman: tetap menyapa, tetap datang ketika perlu, tetapi tidak terlalu jauh masuk ke salah satu kelompok. Ia juga tidak berencana pindah.
Rumah di perumahan itu tetap menjadi tempat tinggal yang ia pilih. Hanya saja, setelah lima tahun, Ida memahami bahwa membeli tempat tinggal tidak selalu berarti membeli satu jenis kehidupan. Kadang, satu rumah bisa membawa penghuninya masuk ke dua lingkungan sekaligus. Di satu sisi, tetangga tidak ingin tahu. Di sisi lain, tetangga bisa terlalu ingin tahu. Dan Ida harus tinggal tepat di tengah-tengahnya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
Editor: Pasangan Muda Lebih Betah Ngontrak di Perumahan daripada di Kampung yang Isinya Flexing dan Rasan-rasan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan