Berprofesi menjadi sopir taksi online yang merangkap menjadi sopir panggilan wanita pekerja seks komersial (PSK) atau yang biasa disebut anjelo ternyata memiliki dua sisi berbeda. Di satu sisi menjanjikan penghasilan, namun di sisi lain harus ekstra menahan godaan.
***
Bagi sebagian pengemudi taksi online, malam hari adalah waktu untuk beristirahat setelah seharian mengaspal. Namun, bagi Chandra (36), malam justru menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan dengan pekerjaan yang mungkin akan mengernyitkan dahi: menjadi anjelo alias sopir antar-jemput pekerja seks komersial (PSK).
Saya bertemu Chandra di sebuah angkringan yang biasa menjadi tempatnya mangkal sambil menunggu orderan di daerah Jalan Magelang. Dari obrolan santai di tempat itu, ia bercerita bahwa selama dua tahun terakhir dirinya tidak hanya mengandalkan aplikasi taksi online. Ada pekerjaan sampingan yang diam-diam cukup menjanjikan secara ekonomi, yakni menjadi sopir panggilan bagi perempuan pekerja seks komersial.
Berawal dari penumpang yang menawarinya menjadi sopir panggilan
Chandra sudah menjadi pengemudi taksi online sejak 2021. Pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan utamanya. Namun, sekitar dua tahun lalu, rutinitasnya berubah setelah seorang penumpang perempuan menawarkan pekerjaan di luar aplikasi.
“Mulainya sih belum lama ya, baru sekitar dua tahun ini. Mulainya ketika saya dapat orderan cewek, pas di mobil nanya-nanya kalau misal jadi sopir panggilan mau nggak. Nanti bayarannya sama kayak di aplikasi saja. Yasudah saya iyakan,” cerita Chandra.
Awalnya, ia tidak mengetahui bahwa perempuan tersebut merupakan PSK panggilan. Kecurigaan baru muncul setelah beberapa kali mengantarkannya ke hotel-hotel yang cukup mewah di Jogja. Ketika akhirnya bertanya mengenai pekerjaan penumpangnya, ia justru mendapatkan jawaban yang tidak disangka.
“Baru deh pas satu momen aku nanya soal pekerjaan, mbaknya dengan polos menjawab kalau dia PSK panggilan,” katanya.
Dari satu penumpang, pekerjaan itu kemudian berkembang menjadi jaringan pelanggan. Perempuan yang pertama kali menawarkan pekerjaan tersebut menjadi pelanggan tetap, sekaligus mengenalkannya kepada beberapa teman sesama pekerja lendir.
“Pertama jelas ekonomi, karena dia sering ngasih uang lebih dan cukup banyak. Yang kedua akhirnya beberapa temannya juga langganan aku buat jadi pengantar mereka bekerja,” ujarnya.
Tarif taksi online jadi patokan, tip bisa lebih menggiurkan
Menjadi anjelo bagi Chandra bukan berarti ia harus meninggalkan pekerjaan utamanya. Ia tetap menerima orderan taksi online pada siang hari, sementara pekerjaan sebagai sopir panggilan biasanya datang setelah pukul 22.00 WIB.
Dalam seminggu, ia mengaku bisa menerima puluhan pesanan antar-jemput dari perempuan yang berbeda. Sistem tarifnya pun cukup sederhana: harga perjalanan di aplikasi menjadi patokan awal, tetapi pelanggan terkadang memberikan uang lebih sebagai tip.
“Awalnya aku matoknya sesuai harga di aplikasi. Misal ternyata di aplikasi taksi online Rp35 ribu, ya nanti aku ngomong kalau ke hotel ini tarifnya Rp30 ribu. Itu nanti mereka bisa ngasih aku Rp50 ribu, kan untung,” katanya sambil tertawa.
Penghasilan tambahan itu bisa bertambah ketika pelanggan meminta dirinya menunggu. Menurut Chandra, dua jam menunggu terkadang bisa dibayar Rp200 ribu, bergantung pada kesepakatan dan orang yang menggunakan jasanya.
“Kalau tarif tambahan, biasanya kalau harus pakai menunggu itu kadang dua jam nunggu aku bisa dikasih Rp200 ribu. Tergantung orangnya sih, tapi batas bawahnya adalah tarif di aplikasi,” jelasnya.
Jika dibandingkan dengan menjadi pengemudi taksi online, Chandra mengakui pekerjaan sampingannya itu lebih menjanjikan secara finansial. Karena bisa saja ia semalam mengumpulkan cuan hingga Rp2 juta dari sekian perempuan berbeda. Namun, ia juga tidak menganggapnya sebagai pekerjaan yang lebih baik untuk ditekuni sepenuhnya.
“Kalau ditanya mana yang menjanjikan, jelas jadi anjelo itu menjanjikan dan lebih banyak uangnya. Tapi kalau dilihat dari risiko jelas anjelo sangat berbahaya. Makanya menurut saya mending fokus di taksol saja daripada fokus di anjelo-nya,” ungkapnya.
Pekerjaan sampingan di tengah ketidakpastian ekonomi sekarang
Apa yang dialami Chandra memang bukan gambaran seluruh pengemudi taksi online. Namun, keputusannya mencari pemasukan tambahan bisa dibaca dalam konteks pekerjaan ekonomi gig yang menawarkan fleksibilitas, tetapi tidak selalu menjanjikan pendapatan stabil.
Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Agustus 2025 mencatat, sebanyak 84,70 juta orang atau 57,80 persen dari total 146,54 juta penduduk bekerja berada dalam kegiatan informal. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan informal masih menjadi bagian besar dari struktur ketenagakerjaan Indonesia.
Sementara itu, penelitian Wening Mustika dan Amalinda Savirani berjudul Ghost Accounts, Joki Accounts and Account Therapy: Everyday Resistance Among Ride-hailing Motorcycle Drivers in Yogyakarta, Indonesia yang diterbitkan dalam The Copenhagen Journal of Asian Studies (2021) mengungkap bagaimana pengemudi ojek daring di Yogyakarta menghadapi ketidakpastian pekerjaan, persaingan yang semakin ketat, penurunan tarif dan bonus, hingga jam kerja yang lebih panjang.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa para pengemudi mengembangkan berbagai strategi untuk mendapatkan lebih banyak pesanan dan meningkatkan penghasilan.
Temuan serupa muncul dalam penelitian What is fair? The experience of Indonesian gig workers yang diterbitkan dalam jurnal Digital Geography and Society (2023).
Studi tersebut mengidentifikasi sejumlah persoalan dalam pekerjaan berbasis platform, mulai dari pendapatan bersih yang belum memadai, jam kerja panjang, hingga minimnya perlindungan sosial dan ketidakjelasan status pekerja.
Dalam konteks Chandra, mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan sopir panggilan menjadi salah satu strategi personal untuk memanfaatkan kendaraan dan waktu kerjanya. Bedanya, sumber pemasukan tambahan itu datang dari pekerjaan yang tidak pernah disediakan oleh aplikasi taksi online tempatnya mencari penumpang setiap hari.
Tidak semua permintaan pelanggan bisa dipenuhi
Meski sudah memiliki pelanggan tetap, Chandra mengaku tidak menerima semua permintaan. Ia membatasi pekerjaannya sebatas menyediakan jasa transportasi, bukan ikut campur dalam aktivitas para penumpangnya.
“Aku sejauh ini hanya menerima jasa itu dengan orang-orang tertentu saja, tidak semua PSK aku iyakan. Ada yang aku tolak juga kalau semisal dimintai aneh-aneh kayak harus nungguin dia begituan dulu, aku enggak mau kalau lebih dari dua jam,” tuturnya.
Namun, batasan tersebut terkadang menjadi sedikit lentur ketika berhadapan dengan pelanggan yang sudah dikenalnya dekat. Ia menyebut seorang pelanggan dengan nama samaran Melati yang sesekali meminta dirinya menunggu selama bekerja.
“Kalau sama yang Mbak Melati itu kadang aku ikut nunggu karena aku kenal dekat dengan dia dan dia sering nambahin tip buat aku cukup banyak. Jadi kadang nggak enak kalau misal dia minta ditungguin tapi aku tolak,” katanya.
Pernah pula Chandra mengalami kejadian yang menurutnya cukup menggelikan. Suatu malam, seorang penumpang memintanya menunggu di lobi hotel. Belum genap setengah jam, perempuan tersebut sudah kembali ke mobil.
“Lha, uwis Mbak?” begitu pertanyaan Chandra ketika penumpangnya masuk.
Perempuan itu justru tertawa dan menjawab, “Kalau sama yang ini cepat, Mas, satset, nggak perlu lama dan bayarannya banyak,”
Cerita tersebut disampaikan Chandra sambil tertawa. Ia juga mengaku beberapa kali disangka intel oleh petugas keamanan hotel ketika sedang merokok di area parkir. Bahkan, ada satpam yang menyapanya dengan panggilan “ ndan”, padahal ia hanya sedang menunggu penumpang menyelesaikan urusannya.
Menahan kantuk, risiko, dan godaan di balik kemudi
Di balik cerita yang terdengar menggelikan, Chandra mengakui pekerjaan ini memiliki risiko keamanan. Ia khawatir mengalami kejadian buruk selama mengantar penumpang, termasuk kemungkinan menjadi korban kejahatan.
“Takut juga kalau tiba-tiba kayak di berita TV yang sopir taksi online dibunuh, terus mobilnya dibawa kabur. Agak ngeri, tapi aku nggak pernah kepikiran sejauh itu sih. Dijalani saja,” katanya.
Keluarganya pun tidak banyak mengetahui pekerjaan sampingan tersebut. Selama ini, ia memilih tidak menceritakannya dan membiarkan keluarga mengenalnya sebagai pengemudi taksi online biasa.
Chandra juga mengaku pekerjaan tersebut terkadang menghadirkan godaan tersendiri. Ia bercerita bahwa beberapa penumpang kerap mengenakan pakaian yang cukup terbuka atau membicarakan aktivitas mereka selama perjalanan. Bahkan, ada yang sesekali menawarkan dirinya untuk ikut singgah ke hotel.
“Selain harus tahan kantuk juga harus tahan godaan, Mas. Karena kan nggak mungkin mereka pakai pakaian yang biasa saja. Terus ngomongnya mereka juga tidak jauh dari aktivitas mereka. Jadi kadang memang harus mempertebal keimanan sih kalau lagi berdua di mobil dan macet,” ujarnya.
Meski begitu, Chandra tetap menganggap pekerjaan tersebut sebagai sambilan, bukan profesi yang ingin ditekuni selamanya. Baginya, pekerjaan sebagai pengemudi taksi online masih menjadi pilihan utama.
Pada akhirnya, mobil yang setiap hari dipakainya untuk mengantar penumpang biasa itu juga menjadi kendaraan untuk menjemput penghasilan tambahan dari pekerjaan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Dua pekerjaan, satu kemudi, dan dua jenis penumpang dengan tujuan perjalanan yang berbeda.
Bagi Chandra, selama masih ada pesanan dan kesepakatan tarif yang cocok, pekerjaan sampingan itu menjadi salah satu cara menambah pemasukan. Meski ia sendiri mengakui, tidak semua uang tambahan sepadan dengan risiko yang harus dibawa pulang.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Derita Menjadi Terapis Pijat: Sering Disalahpahami Melayani Pijat Plus-plus dan Dianggap Aib atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan