ADVERTISEMENT

Derita Menjadi Terapis Pijat: Sering Disalahpahami Melayani Pijat Plus-plus dan Dianggap Aib 

Menjadi Terapis Pijat itu Tidak Mudah: Disalahpahami dan Jadi Aib! MOJOK.CO

Menjadi terapis pijat adalah pekerjaan yang cukup membuat menderita. Sering dikira membuka layanan tambahan, hingga menjadi aib yang tidak mudah untuk diceritakan.

***

ADVERTISEMENT

Pembaca ketika mendengar profesi sebagai terapis pijat pasti akan berfikir yang terlalu jauh. Apalagi, ditambah dengan embel-embel ‘terapis pijat di Jalan Kabupaten, Sleman’ pasti akan ada anggapan yang kurang mengenakkan.

Saya cukup akrab dengan anggapan itu. Tinggal di Gamping, Sleman, membuat saya beberapa kali mendapat pertanyaan ketika menyebut Jalan Kabupaten sebagai salah satu penanda lokasi tempat tinggal. Biasanya, ketika saya ditanya orang “Gampingnya mana mas?” dan saya jawab “Jalan Kabupaten” akan ada celetukan yang hampir seragam: “Oh, yang banyak tempat pijat plus-plus itu, ya?”

Jawaban tersebut memang terdengar seperti candaan biasa. Namun, anggapan bahwa setiap tempat pijat di kawasan tersebut identik dengan layanan seksual rupanya tidak berhenti sebagai bahan obrolan. Bagi Mawar (23) *bukan nama sebenarnya, seorang terapis pijat yang pernah bekerja di salah satu rumah pijat di Jalan Kabupaten, stigma semacam itu justru menjadi bagian dari pengalaman pekerjaannya.

Baru dua hari bekerja, sudah diminta layanan plus-plus

Mawar bukan orang yang sejak awal bercita-cita menjadi terapis. Setelah lulus SMA, ia memilih pekerjaan tersebut karena belum menemukan kesempatan kerja lain. Kebetulan, almarhumah ibunya juga pernah bekerja sebagai terapis pijat kesehatan dan herbal. Dari sanalah ia sedikit banyak mengenal pekerjaan yang kemudian menjadi sumber penghidupannya.

“Dari lulus SMA, mas. Ya sekitar tiga sampai empat tahun yang lalu,” cerita Mawar melalui pesan WhatsApp, Sabtu (7/11/2026).

Ia sempat mengikuti beberapa pelatihan menjadi terapis pijat sebelum mengembangkan keterampilannya secara mandiri. Layanan yang dikuasainya meliputi pijat tradisional, kerikan, hingga teknik shiatsu. Dari beberapa jenis tersebut, pijat tradisional dan kerik menjadi layanan yang paling banyak diminati pelanggannya.

Namun, pengalaman awal Mawar bekerja di sebuah rumah pijat di Jalan Kabupaten tidak sepenuhnya berjalan sesuai bayangannya. Ketika mendaftar, ia mengaku tidak mengetahui bahwa tempat tersebut juga biasa menyediakan layanan pijat plus-plus.

“Dua hari setelah mulai bekerja, seorang pelanggan sudah meminta layanan tambahan di luar pijat. Saya jelas menolak. Keputusan itu justru membuat saya dimarahi pemilik bos saya,” jelas Mawar.

ADVERTISEMENT

Setelah berdiskusi, ia akhirnya diperbolehkan menolak layanan seksual. Konsekuensinya, setiap kali ada pelanggan yang meminta layanan tersebut, Mawar harus menjelaskan penolakannya dan mengarahkan pelanggan kepada terapis lain.

“Awalnya rasanya pengen nangis, mas. Karena takut diapain juga. Masalahnya, di ruangan cuma berdua. Kita kan nggak tahu kalau orangnya nekat bagaimana,” ungkapnya.

Pengalaman itu membuat Mawar menyadari bahwa persoalan pekerjaannya bukan sekadar perkara keterampilan memijat. Ada pelanggan yang datang dengan kebutuhan berbeda, sementara dirinya harus mempertahankan batas layanan yang sejak awal ingin ia berikan.

Tangan yang seharusnya memijat, malah jadi sasaran godaan

Mawar bercerita, permintaan layanan tambahan tidak selalu disampaikan secara terang-terangan. Ada pelanggan yang menggunakan kode, bersikap canggung, hingga secara langsung meminta layanan seksual.

Bentuk perilakunya pun beragam. Ia mengaku pernah menghadapi pelanggan yang sengaja menyenggolkan tangan ke bagian tubuhnya, disertai sikap genit. Mawar biasanya tetap berusaha menjaga kesopanan ketika menolak.

“Maaf mas, saya tidak melayani yang tambah-tambah, ya,” begitu kalimat yang biasa digunakannya.

Tidak semua pelanggan langsung menerima penolakan dari terapis pijat tersebut. Beberapa di antaranya justru mencoba merayu, bahkan menawarkan uang dalam jumlah lebih besar agar Mawar bersedia memberikan layanan tambahan. Namun, tawaran itu tidak membuatnya berubah pikiran.

Bagi Mawar, persoalannya bukan semata-mata nominal uang. Ia memang bekerja untuk mencari nafkah, tetapi bukan berarti seluruh permintaan pelanggan harus dipenuhi. Apalagi jika permintaan tersebut membuatnya tidak nyaman.

Ia mengaku pernah memangkas durasi pijat dari 120 menit menjadi 90 atau 100 menit ketika merasa situasi mulai tidak menyenangkan. Alasannya sederhana: waktu layanan sudah habis dan pelanggan diminta mengakhiri sesi.

Jalan kabupaten dan reputasi esek-esek yang terlanjur melekat

Stigma yang diceritakan Mawar bukan muncul tanpa konteks. Di Sleman, keberadaan tempat pijat yang diduga menjadi kedok prostitusi memang pernah menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah.

Pada November 2025, Satpol PP Sleman menertibkan sejumlah usaha spa dan salon yang diduga beralih fungsi menjadi tempat prostitusi terselubung. Kepala Satpol PP Sleman, Indra Darmawan, menjelaskan bahwa operasi tersebut berawal dari aduan masyarakat mengenai aktivitas mencurigakan di sejumlah tempat usaha. Meski demikian, petugas ketika itu belum bisa menjerat pemilik usaha dengan pasal prostitusi karena tidak menemukan praktik tersebut secara langsung saat penertiban.

Bahkan, pada Oktober 2026, muncul aduan warga di situs resmi Pemerintah Kabupaten Sleman yang secara khusus menyoroti tempat pijat dan spa ilegal di kawasan Jalan Kabupaten. Aduan tersebut memperlihatkan bahwa citra kawasan itu memang menjadi bahan keresahan sebagian masyarakat. Namun, aduan warga tentu bukan bukti bahwa seluruh tempat pijat di sana menyediakan layanan seksual.

Penelitian Kenang Teja Permana dari Departemen Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada pada 2018 juga pernah mengkaji penggunaan layanan pijat plus-plus oleh mahasiswa di Yogyakarta. Penelitian kualitatif dengan empat informan tersebut membahas alasan dan pengalaman pengguna layanan seksual yang dikemas melalui fasilitas spa.

Sementara itu, penelitian Datuk Muda Arivan Arviansyah dari UPN Veteran Yogyakarta pada 2018 mengkaji pola komunikasi terapis dengan pelanggan di sebuah spa plus-plus di DIY. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi antara terapis dan pelanggan dalam praktik semacam itu memiliki kode serta pola interaksi tersendiri.

Dua penelitian tersebut memang membahas praktik pijat plus-plus, bukan seluruh profesi terapis pijat. Namun, keduanya menunjukkan bahwa layanan seksual berkedok tempat pijat bukan sekadar cerita yang muncul dari prasangka masyarakat.

Keluar dari rumah pijat, memilih bekerja sebagai terapis dengan aturan sendiri

Setelah mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman, Mawar akhirnya memutuskan keluar dari rumah pijat. Kini, ia menjalankan layanan pijat panggilan dengan mengatur sendiri jadwal, pelanggan, dan batas layanan yang diberikan.

Menurutnya, pekerjaan terapis pijat secara mandiri membuatnya lebih leluasa. Sebelum menerima pesanan, ia sudah memberikan penjelasan bahwa dirinya hanya menyediakan jasa pijat dan tidak menerima permintaan layanan seksual dalam bentuk apa pun. Perubahan cara bekerja itu juga memengaruhi jumlah pelanggan yang bisa dilayani. 

“Ketika masih bekerja di rumah pijat, saya biasanya menangani delapan sampai sembilan pelanggan sehari. Setelah menjadi terapis panggilan, jumlahnya bisa mencapai 12 hingga 13 orang karena jadwal dapat  saya atur sendiri,” terangnya.

Untuk layanan pijat tradisional selama 120 menit, Mawar mematok tarif Rp200 ribu. Ia juga mengetahui bahwa beberapa tempat pijat plus-plus menawarkan tarif berbeda, bahkan bisa mencapai Rp350 ribu hingga Rp400 ribu untuk durasi yang sama. Namun, angka tersebut merupakan informasi berdasarkan pengalaman dan cerita yang ia ketahui, bukan patokan harga seluruh tempat pijat di Jogja.

Pilihan menjadi terapis pijat yang bekerja secara mandiri juga bukan berarti tanpa risiko. Terapis pijat panggilan harus lebih cermat menerima pesanan dan memastikan keamanan ketika mendatangi pelanggan. Mawar memilih memberikan peringatan sejak awal agar tidak ada kesalahpahaman mengenai layanan yang ditawarkan.

Tidak semua terapis pijat mau melayani plus-plus

Menjadi terapis pijat juga membawa persoalan tersendiri bagi kehidupan personal Mawar. Ia mengaku tidak selalu langsung menceritakan pekerjaannya ketika berkenalan dengan laki-laki atau memiliki gebetan.

“Bukan karena saya malu terhadap keterampilan yang saya miliki, melainkan karena khawatir orang lain terlanjur memiliki penilaian negatif sebelum mengenal saya lebih jauh. Jatuhnya seperti aib, padahal saya bekerja juga halal,” jelas Mawar.

Di lingkungan tempat tinggalnya, komentar miring sudah tidak terhitung lagi. Beruntung, keluarganya cukup memahami pekerjaannya, terlebih almarhumah ibunya juga pernah menjadi terapis pijat.

Mawar sendiri tidak meminta masyarakat untuk menutup mata terhadap keberadaan tempat pijat yang memang menawarkan layanan seksual. Ia hanya berharap orang tidak menyamaratakan semua pekerja di bidang tersebut.

“Tidak semua yang bekerja sebagai terapis pijat itu pasti mau pijat plus-plus. Berhenti mengajak semua terapis pijat melakukan itu, karena jujur tidak semua terapis pijat nyaman diajak esek-esek dengan orang tak dikenal,” pesannya.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Mawar, ada batas yang ingin ia pertahankan di tengah pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.

Ia memilih memijat orang yang membutuhkan jasanya, bukan memenuhi setiap keinginan pelanggan. Sebab, meskipun sama-sama berada di ruangan pijat, tidak semua terapis datang untuk menjual sesuatu selain keterampilan kedua tangannya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pengalaman Jadi Satpam di Kos Eksklusif Jogja yang Jadi Tempat Esek-esek, Harus Sabar dan Tahan Godaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 November 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.