Menjadi penjaga kos eksklusif di Jogja yang kerap menjadi tempat esek-esek tidak hanya soal menjaga keamanan. Namun juga harus pandai menyimpan cerita orang-orang yang setiap hari melewati gerbangnya.
***
Ageng (26) sudah dua tahun menjalani pekerjaan tersebut. Sejak 2024, ia bekerja sebagai penjaga di sebuah kos eksklusif kawasan Gamping, Sleman. Dengan badan tegap dan potongan rambut cepak, penampilannya sekilas mengingatkan orang pada aparat keamanan. Padahal, sehari-hari ia hanya bertugas memastikan penghuni dan tamu kos keluar-masuk dengan tertib.
Awalnya, Ageng mendapatkan pekerjaan itu dari tawaran seorang teman yang mengenal pemilik kos. Ia kemudian dihubungi untuk membantu menjaga bangunan yang memiliki fasilitas cukup mewah tersebut.
“Awalnya dari tawaran teman. Kebetulan dia juga kenal sama yang punya kos. Saya dikontak untuk bantu jaga kos-kosan eksklusif. Ya sudah, saya iyakan karena memang gajinya cukup masuk,” ceritanya kepada saya, Rabu (04/11/2026) malam..
Ageng mengaku sejak awal sudah mengetahui bahwa beberapa penghuni kos tersebut menawarkan jasa seksual. Ia tidak terlalu mempermasalahkannya karena merasa urusan tersebut bukan bagian dari tanggung jawabnya.
Kos eksklusif di Jogja dengan fasilitas lengkap dan tamu yang silih berganti
Kos tempat Ageng bekerja memiliki sekitar 15 kamar. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari tempat tidur, lemari, pendingin ruangan, kamar mandi dalam, hingga dapur di setiap kamar. Bentuknya bahkan lebih menyerupai paviliun kecil ketimbang kamar kos konvensional.
Di area ruang tamu juga terdapat CCTV untuk membantu pengawasan. Meski demikian, keberadaan kamera tidak membuat aktivitas di tempat itu selalu sepi.
Menurut Ageng, ada saja tamu yang datang silih berganti, terutama pada malam hari. Namun, ia menegaskan tidak semua penghuni memiliki kebiasaan yang sama. Hanya beberapa kamar yang tamunya cenderung berganti-ganti, sementara penghuni lainnya menjalani kehidupan seperti orang kos pada umumnya.
Pola kedatangan tamu juga tidak selalu sama. Ageng melihat tanggal muda biasanya lebih ramai dibandingkan tanggal tua. Akhir pekan terkadang ikut meningkatkan jumlah tamu, meski tidak selalu demikian.
Tugasnya cukup sederhana. Setiap tamu yang datang akan ditanya hendak menemui siapa. Setelah mendapatkan jawaban, Ageng mengarahkan mereka ke kamar yang dituju. Beberapa tamu bahkan sudah dikenalnya karena cukup sering berkunjung.
“Kalau ada tamu, biasanya kami tanyakan mau ketemu siapa. Nanti kami arahkan ke nomor kamar. Ada juga tamu yang sering datang, jadi kadang sudah tahu itu tamunya penghuni kamar berapa,” ujarnya.
Tahu ada aktivitas esek-esek, tetapi memilih tidak ikut campur
Bekerja di lingkungan semacam itu tentu membuat Ageng sempat mengalami dilema. Namun, ia perlahan membangun batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi penghuni kos.
Baginya, selama tidak ada keributan dan aktivitas penghuni tidak mengganggu ketertiban lingkungan, ia merasa tidak perlu mencampuri urusan mereka.
“Awalnya memang dilema, tetapi saya kembali lagi bahwa pekerjaan saya menjaga supaya tetap tertib dan aman. Urusan di luar itu saya memilih diam atau tidak mau tahu,” katanya.
Sikap tersebut bukan berarti Ageng tidak pernah berinteraksi dengan penghuni. Justru beberapa orang cukup ramah kepadanya. Ada yang sering memberikan kopi dan rokok, bahkan pernah memberinya uang cukup banyak ketika salah satu penghuni sedang merayakan ulang tahun.
Ia juga pernah mendengar cerita beberapa penghuni mengenai alasan mereka menjalani pekerjaan tersebut. Sebagian mengaku sedang berusaha bertahan hidup di perantauan.
Ageng memilih tidak menghakimi cerita yang didengarnya. Ia merasa tidak memiliki hak untuk mengumbar kehidupan pribadi orang-orang yang setiap hari ditemuinya.
Lika-liku kos eksklusif Jogja: dari istri sah yang melabrak hingga satpam yang pernah diajak begituan
Selama dua tahun bekerja, Ageng punya beberapa pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satunya ketika seorang istri sah datang melabrak suaminya yang sedang bersama salah satu penghuni kos. Situasi tersebut cukup menegangkan dan bikin gaduh hingga akhirnya penghuni yang bersangkutan dikeluarkan dari kos.
Ada pula pengalaman yang lebih mengundang tawa. Suatu malam, seorang penghuni pulang dalam kondisi mabuk berat setelah nongkrong. Ageng kemudian membantunya berjalan sampai ke kamar.
Keesokan paginya, ketika sudah sadar, penghuni itu mengira bahwa orang yang membantunya sampai kamar adalah tamunya sendiri. Padahal, orang tersebut hanya Ageng yang sedang menjalankan tugas.
Namun, pengalaman paling mengejutkan justru ketika Ageng pernah diajak berhubungan seksual oleh salah satu penghuni.
“Jujur saya kaget. Diiyakan atau tidak, biar menjadi urusan saya dengan Tuhan,” ujarnya sambil tertawa.
Meski begitu, Ageng mengaku tidak pernah merasa terancam selama bekerja. Bahkan, ia menganggap hubungan dengan para penghuni berjalan baik-baik saja. Ia juga pernah mendengar cerita temannya sesama penjaga yang sempat dituduh menggoda seorang penghuni setelah menolak ajakan seksual. Dari rekaman CCTV, menurut cerita Ageng, justru menunjukkan kejadian sebaliknya.
Gaji Rp2 juta dan pekerjaan yang menuntut kesabaran
Di balik cerita-cerita unik tersebut, pekerjaan Ageng tetaplah pekerjaan menjaga keamanan dengan jam kerja yang cukup panjang. Ada dua sif penjagaan, yakni pukul 06.00–17.30 dan pukul 18.00–06.00.
Dengan jumlah petugas keamanan hanya satu orang setiap shift dan seorang petugas kebersihan, tanggung jawab menjaga lingkungan kos cukup besar. Untuk pekerjaan itu, Ageng menerima gaji sekitar Rp2 juta per bulan, di bawah upah minimum yang berlaku di Sleman.
Meski begitu, ia menganggap penghasilannya masih sebanding dengan pekerjaan yang dijalani. Hal paling melelahkan justru bukan menghadapi penghuni atau tamu yang datang, melainkan menahan kantuk dan kebosanan selama berjaga.
Keluarganya yang tinggal tidak jauh dari lokasi kerja juga mengetahui pekerjaannya. Ageng tidak merasa harus menyembunyikan profesinya hanya karena tempatnya bekerja memiliki reputasi tertentu.
“Tahu sih keluarga. Biasa saja, tidak menjadi aib juga. Toh saya bekerja tidak mencuri atau korupsi,” katanya.
Ketika ditanya apakah masih bersedia bekerja di tempat serupa, Ageng menjawab tanpa banyak pertimbangan: masih bersedia.
Barangkali bagi Ageng, menjaga kos bukan soal menyetujui atau menolak pilihan hidup setiap penghuni. Ia datang untuk bekerja, menjaga gerbang, mengarahkan tamu, dan memastikan lingkungan tetap aman.
Selebihnya, ada cerita-cerita yang cukup ia ketahui sendiri. Tidak semuanya harus dibawa keluar dari pos penjagaan.
Kos eksklusif, esek-esek, dan living together: potret lain kehidupan anak kos di Jogja
Fenomena kos eksklusif di Yogyakarta sebenarnya bukan hal baru. Penelitian Adityatma I dari Departemen Sosiologi UGM pada 2016 berjudul Interaksi Sosial dan Eksklusivitas (Studi tentang Pola Relasi Sosial Kos di Wilayah Seturan, Sleman, DIY) menjelaskan bahwa perkembangan kos eksklusif membuat tempat tinggal mahasiswa dan perantau semakin menyerupai hotel, dengan fasilitas yang lebih lengkap dan hubungan sosial yang cenderung transaksional.
Penelitian kualitatif yang melibatkan enam informan, termasuk pengelola dan penjaga kos, menemukan bahwa interaksi penghuni kos eksklusif lebih sering berlangsung ketika diperlukan atau sebatas formalitas.
Sementara itu, penelitian Odam Asdi Artosa yang diterbitkan dalam Jurnal Pemikiran Sosiologi UGM pada 2018, berjudul Pekerja Migran dan Ekonomi Informal Ilegal (Prostitusi) di Wilayah Pasar Kembang, Yogyakarta, memperlihatkan sisi lain kehidupan ekonomi informal di Jogja.
Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian tersebut mengulas bagaimana tekanan ekonomi dan keterbatasan akses pekerjaan formal dapat mendorong sebagian pekerja migran memasuki praktik esek-esek. Meski mengambil lokasi Pasar Kembang, penelitian ini memberikan konteks mengenai hubungan antara migrasi, kebutuhan ekonomi, dan praktik esek-esek di perkotaan.
Fenomena hubungan tanpa ikatan pernikahan atau living together juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan anak muda di Jogja. Penelitian Risvi Khairil Anam Ahmad yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial Politik pada Juli 2026 berjudul Motif dan Pola Komunikasi dalam Keputusan Living Together pada Mahasiswa di Yogyakarta mengungkap bahwa keputusan pasangan mahasiswa untuk tinggal bersama dipengaruhi faktor emosional, praktis, dan sosial. Penelitian tersebut juga menjelaskan bagaimana pasangan membangun komunikasi serta menghadapi tekanan lingkungan sosial.
Ketiga penelitian itu memang tidak membuktikan bahwa kos eksklusif di Jogja identik dengan esek-esek atau living together. Namun, semuanya memperlihatkan bahwa kos bukan sekadar tempat untuk tidur dan menyimpan barang. Di dalamnya terdapat perubahan pola relasi sosial, kebutuhan ekonomi, hingga pilihan hidup para penghuninya.
Bagi Ageng, semua dinamika tersebut adalah bagian dari lingkungan tempatnya mencari nafkah. Ia tidak merasa perlu menghakimi, apalagi menceritakan kehidupan pribadi penghuni kepada orang lain. Tugasnya tetap sama: menjaga gerbang, mengarahkan tamu, dan memastikan lingkungan kos tidak gaduh.
Barangkali, setelah dua tahun bekerja menjadi penjaga kos eksklusif di Jogja, Ageng sudah memahami satu hal sederhana: menjadi penjaga kos bukan berarti harus mengetahui semua urusan penghuninya. Ada cerita yang cukup disaksikan dari pos penjagaan, lalu dibiarkan tetap menjadi rahasia di balik pintu kamar.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pengalaman Tinggal di Kos Bebas yang Dihuni Pasangan Living Together, Serba Tak Nyaman dan Waswas Setiap Saat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan