ADVERTISEMENT

Pengalaman Tinggal di Kos Bebas yang Dihuni Pasangan Living Together, Serba Tak Nyaman dan Waswas Setiap Saat

Pengalaman ngekos di kos bebas campur living together (kumpul kebo) di Malang: canggung dan waswas MOJOK.CO

Ngekos di kos bebas yang penghuninya campur dengan pasangan living together alias kumpul kebo membuat terpapar beragam polusi dan selalu waswas. 

***

ADVERTISEMENT

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit mahasiswa di Malang, Jawa Timur, menjalani living together alias kumpul kebo. Toh memang ada kos bebas yang memang membebaskan penghuninya melakukan praktik tersebut, asal harga sewanya cocok. 

Mojok pernah berbincang dengan eks mahasiswa Malang yang dengan sadar menjalani praktik kumpul kebo, termuat dalam tulisan, “Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah“. 

Jika penghuni merasa hal itu sebagai kewajaran, lantas bagaimana dengan penghuni lain yang pada dasarnya tidak melakukan praktik serupa? Salah satu pengakuan diberikan oleh Maldini (27), nama samaran untuk mengamankan identitas, semasa ngekos di kos bebas Malang waktu kuliah dulu. 

“Alasan ngekos di situ ya karena agak jauh dari kampus. Memang sengaja agak jauh biar nggak sekos dengan teman sekampus. Selain itu, kalau kos bebas kan nggak banyak aturan,” ujar Maldini saat berbagi ceritanya. 

Ngekos di kos bebas campur kumpul kebo bikin suasana serba canggung

Karena kos bebas campur, ya campur antara laki-laki dan perempuan. Hanya memang dibuat kompleks terpisah. 

Kendati begitu, sejak pertama masuk, pemilik kos sudah mewanti-wanti agar Maldini tidak bicara macam-macam soal kos tersebut. Sebab, pemilik kos secara terbuka memberitahu kalau ada setidaknya dua pasangan mahasiswa living together. 

“Malah aku dibilangin, kalau aku mau bawa pasangan, silakan. Tapi ada penyesuaian harga. Begitu juga kalau misalnya ada temanku yang mau kumpul kebo, aku diminta info-info aja soal kos itu,” ujar Maldini. 

Maldini akhirnya tahu dua kamar yang dihuni oleh pasangan mahasiswa living together. Apalagi kamar yang ia tempati berseberangan dengan kamar pasangan itu, berhadap-hadapan pintu, karena sama-sama kamar di ujung depan bangunan leter U tersebut. 

ADVERTISEMENT

Tidak jarang pula ia berpapasan dengan mereka. Misalnya di jam-jam pagi ketika hendak berangkat kuliah. Agak aneh memang. Serba canggung. 

Si perempuan pasti keluar dengan wajah tertutup masker, berjalan agak menunduk kalau bertemu penghuni lain seperti Maldini. Sementara si laki-laki percaya diri saja. 

Bahkan kerap kali, dalam beberapa kesempatan papasan, si laki-laki menatap Maldini dengan tatapan intimidatif. Sorot matanya seolah hendak bicara, “Apa kamu? Jangan sok menghakimi deh!”

“Jujur, kalau menghakimi sih nggak ya. Cuma kalau di kepalaku agak bertanya-tanya aja, kok bisa ya? Kok nggak takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ke mereka. Gitu aja sih,” beber Maldini. 

“Kadang kan aku duduk-duduk depan pintu, ngerokok. Nah, pas kalau pintu kamar pasangan itu terbuka, buru-buru langsung ditutup. Jadi malah kayak aku yang orang aneh ya di situ,” sambungnya. 

Mengikuti drama pura-pura karena saling kenal

Dalam kasus Maldini, untungnya ia tidak ngekos bareng teman sekampus. Tetapi ada teman organisasi Maldini yang mengaku tinggal di kos yang sama dengan teman laki-lakinya yang living together. 

Seturut cerita yang Maldini dapat, pada akhirnya si teman harus mengikuti drama kepura-puraan. Karena memang pasangan si teman dikenal sebagai perempuan pendiam dan salehah. 

“Kata temanku, temannya itu kalau di kampus ya pura-pura aja, seolah hanya pacaran biasa. Temanku akhirnya harus mengikuti, ya berlagak biasa saja. Nggak nyebar-nyebar cerita karena kan berteman baik, seorganisasi juga kan,” beber Maldini, menceritakan ulang cerita dari temannya. “Ya walaupun akhirnya tetep bocor-bocor juga hahaha.” 

Terpapar polusi suara dan pikiran, tahan-tahan godaan 

Sementara dalam konteks Maldini, gangguan yang harus ia hadapi di kos bebas campur living together itu lebih karena terpapar beragam polusi. 

Pertama, polusi suara. Jujur, sepanjang tinggal di kamar yang berhadapan dengan kamar pasangan living together itu, ia tidak pernah mendengar suara-suara yang mengindikasikan “aktivitas haram” pasangan bukan menikah. Paling ya samar-samar suara tawa, kadang juga tangis.

Meski di satu sisi ia juga mengaku terpapar polusi pikiran: berpikir yang tidak-tidak perihal aktivitas yang terjadi di dalam kos pasangan mahasiswa living together tersebut. Polusi pikiran itu lantas memberinya godaan-godaan: masa iya nggak pengin seperti itu, bawa pasangan tinggal bersama? 

“Punya pacar, tapi pacarku punya batas yang tegas soal hubungan. Nggak berani macam-macam lah. Tapi aku juga masih waras lah untuk menimbang baik-buruk dari menjalani kumpul kebo,” kata Maldini. Justru bukan perkara religiusitas, tapi perkara berikutnya yang lebih konkret di depan mata: 

Ngekos di kos bebas campur pasangan living together: waswas razia

Inilah risiko paling ngeri dari ngekos di kos bebas campur. Memang, sepintas terlihat aman-aman saja dari razia. Namun, kadang angin berhembus tanpa diduga: tiba-tiba saja ada razia. 

Ngekos dari semester 2 hingga 5 di kos tersebut, Maldini sudah berulang kali mendengar razia di kos-kos bebas-campur di Malang. Untung saja kosnya tidak terjaring. Apalagi jika ada temuan-temuan yang membuat razia semakin digencarkan: seperti temuan perihal HIV. 

Alhasil, karena takut kosnya suatu saat bakal dirazia, Maldini pun memutuskan pindah di kos putra saja. “Aku nggak tahu setelah itu apakah masih aman atau nggak. Cuma aku ngeri aja bayangin, kalau misalnya ada razia, kan tetep kita-kita ini keseret juga. Minimal dimintai keterangan. Nggak asyik lah, walaupun kita nggak melakukan kumpul kebo, ya tetep saja waswas,” beber Maldini. 

Temuan kasus HIV di Malang memicu dorongan pengawasan ketat rumah kos

Memang, sekali ditemukan data HIV, maka pengawasan terhadap rumah kos pun akan diperketat. Sebagaimana yang terjadi pada Juli 2026 lalu. 

Pada Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat 186 kasus baru HIV di Kota Malang sepanjang Januari hingga Mei 2026. Atas temuan tersebut, anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan (Dapil) Malang Raya, Puguh Wiji Pamungkas, menyebutnya sebagai alarm serius. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan untuk segera memperkuat langkah pencegahan dan penanganan untuk menekan kasus HIV tersebut.

Dalam siaran pers di Kominfo Jatim, Legislator dari Fraksi PKS itu menilai kondisi tersebut menjadi paradoks karena Kota Malang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan dengan puluhan perguruan tinggi dan menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, ia mendorong Pemerintah Kota Malang bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak hanya fokus pada penanganan pasien, tetapi juga memperkuat upaya preventif agar penyebaran HIV tidak semakin meluas. 

“Langkah pencegahan, penanganan, dan mitigasi harus dilakukan secara serius. Jangan sampai ini menjadi bom waktu yang semakin sulit dikendalikan,” ujarnya waktu itu. 

Salah satu langkah yang diusulkan adalah memperketat pengawasan terhadap rumah kos yang banyak dihuni mahasiswa. Menurutnya, pemerintah daerah dapat menyusun regulasi yang mengatur tata kelola rumah kos sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap administrasi maupun kepatuhan pengelolanya.

“Saya mendorong adanya regulasi yang mengatur tata kelola rumah kos secara lebih baik, termasuk pengawasan berkala terhadap kelengkapan administrasi dan kepatuhan pengelolanya. Ini merupakan bagian dari langkah preventif untuk meminimalkan berbagai potensi persoalan sosial,” tegasnya.

Selain itu, Puguh juga meminta aparat penegak hukum dan pemerintah daerah meningkatkan pengawasan terhadap praktik prostitusi, termasuk yang dilakukan secara terselubung, karena dinilai berpotensi menjadi salah satu faktor penyebaran HIV.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kisah Dua Wajah Mahasiswa di Kota Pelajar Jogja: Alim di Desa, Kumpul Kebo di Kota Demi Hemat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.