Cara Senior Kampus Ngeles saat Tahu Adik Tingkat Lebih Dulu Sukses, Agar Wibawa Abang-abangan Tidak Runtuh

Cara senior atau kating yang jadi abang-abangan kampus buat ngeles saat tahu adik tingkat lebih dulu sukses MOJOK.CO

Senior kampus alias kakak tingkat (kating) bukannya tidak nelangsa ketika melihat adik tingkat lebih dulu sukses. Namun, kating selalu punya cara untuk ngeles, agar wibawanya selama menjadi abang-abangan kampus tidak runtuh. 

***

ADVERTISEMENT

Sebagian banyak pembaca barangkali sudah sangat familiar dengan konten dari akun @alfarizi_syahrul: parodi abang-abangan kampus di Jurusan Sastra Mesin yang selalu punya cara ngeles tiap ia kepergok tidak menjadi apa-apa ketimbang omong besarnya. “Ntar duluuu,” menjadi kalimat pamungkas yang pasti diucapkan setiap dicengin adik-adik tingkat. 

Kenapa kontennya selalu ramai? Karena banyak yang relate: tidak sedikit orang mengaku menemui model senior alias abang-abangan kampus yang suka ngeles saat tahu adik tingkatnya lebih sukses.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Auh (@alfarizi_sahrul)

Misalnya yang diungkapkan oleh Wasil (29), sebagai orang yang pernah berada di posisi sebagai mahasiswa abadi dan abang-abangan kampus. “Sejujurnya, tiap tahu adik tingkat lebih sukses itu di hati rasanya mangkel (kesal). Tapi sebagai mantan abang-abangan kampus yang disegani, orang-orang sepertiku dan sejumlah senior lain, mesti punya perasaan denial, akhirnya ngeles,” ungkap Wasil saat berbagi cerita. 

Saat adik tingkat lulus duluan, senior kampus keluarkan nyinyiran

Wasil termasuk dalam kategori mahasiswa abadi. Baru lulus saat nyaris DO. Ia menyaksikan teman seangkatannya—yang sibuk jadi abang-abangan kampus di organisasi ekstra—DO satu persatu. Pada saat yang sama, ia juga menyaksikan banyak adik tingkatnya telah lulus lebih dulu. 

ADVERTISEMENT

Setiap kali ada informasi perihal adik tingkat yang wisuda, atau mendengarnya dalam obrolan di meja kedai kopi, hati Wasil langsung dongkol. Ia sebenarnya menyadari kalau ia tertinggal. Di titik tertentu juga merasa kalah pintar. 

“Tapi yang keluar dari mulut adalah: halah cepet-cepetan lulus, nggak bakal jadi apa-apa kalau pengalaman berorganisasi di kampus cuma singkat,” ujar Wasil. “Atau, buat apa sih lulus cepet-cepet, kuliah seseru ini kok.” 

Organisasi, bagi Wasil, adalah segalanya. Organisasi memberi janji-janji relasi, pengalaman, dan memberi prinsip hidup yang siedalnya: sebagai manusia berdikari. Lulus cepat adalah tanda bahwa si adik tingkat tidak mau menempa diri lebih jauh. 

Selain itu, Wasil di masa menjadi kating mahasiswa abadi tersebut, membantah keras bahwa skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. “Tapi sejujurnya itu denial saja, karena orang-orang yang sudah terlanjur sibuk di organisasi kampus, mentok mau garap skripsi saja. Beberapa temanku, melewati beberapa kali penolakan judul saja bisa langsung nyerah,” beber Wasil. 

Nyanyian orang kalah kemudian akan menggema di tengah-tengah Wasil dan teman-teman seangkatannya yang belum lulus-lulus: meromantisasi status sebagai mahasiswa abadi. Menyandang status tersebut seolah keren: hanya orang-orang berani dan sibuk yang kuliahnya molor. 

Sampai kemudian Wasil tahu, kini di media sosial, mahasiswa abadi justru menjadi bahan ceng-cengan, yang paling umum: disebut “beban keluarga”. 

Bagi kating yang belum lulus, adik tingkat kerja itu egois dan budak kapitalis

Nyinyiran kating atau senior kampus terhadap adik tingkat masih berlanjut ketika ternyata adik tingkat bisa langsung kerja. Apalagi jika pekerjaannya jauh lebih baik ketimbang pekerjaan si kating (kalau si kating juga sedang bekerja). 

Pertama-tama, yang ada di benak si senior kampus adalah: halah pasti si adik tingkat itu punya privilege. Sebab, di situasi serba sulit mencari pekerjaan seperti sekarang, hanya orang-orang berprivilege (punya orang dalam atau memang dari keluarga berada) lah yang bisa langsung kerja. Terlebih di korporat. 

“Di benak abang-bangan kampus, orang punya privilege itu hidupnya nggak menantang, nggak bisa dijadikan patokan. Bukan zero to hero,” ujar Wasil. 

Hanya saja ia mengakui, pikiran tersebut muncul lantaran perasaan insecure karena sebagai kakak tingkat—yang dulu mengospek, mengkader, hingga menjejali adik tingkat dengan diskusi-diskusi filsafat, agama, dan politik—ternyata nasibnya cuma jadi pekerja swasta atau freelancer. Hidup dalam ketidakpastian finansial, lalu membawa narasi kemiskinan struktural. 

Tidak pelak, Wasil mengakui, untuk mengatasi perasaan insecure itu, ia bisa menuding adik tingkatnya sebagai orang egois: memilih menjadi budak korporat—yang artinya juga budak kapitalis. 

Egois karena memilih mementingkan kantong sendiri, berseberangan dengan nilai-nilai sosialisme dan pembawa perubahan yang sama-sama dilahap selama aktif di organisasi kampus. 

“Mereka adalah orang-orang yang tidak punya prinsip dan idealisme. Mereka hanya menghafal idealisme sebagai kemewahan terakhir–nya Tan Malaka sebagai jargon, tapi munafik, karena nyatanya idealisme digadaikan demi uang. Apalagi buat mereka yang akhirnya masuk partai politik,” begitu kira-kira komentar Wasil saat itu. 

Bukan apa-apa. Lebih karena ia marah karena ia tidak punya kesempatan yang sama dengan adik tingkat atau teman seangkatannya. 

“Hidup bukan perlombaan” jadi senjata terakhir senior kampus

Jika Wasil berbicara dari sudut pandang kating, Dipta (28) mencoba memberi sudut pandang dari adik tingkat yang pernah muak dengan cara ngeles senior kampus. 

Ketika Dipta lulus kuliah setelah melampaui 10 semester, ia hafal betul dengan cara ngeles para kating ketika melihat adik tingkatnya lulus dan mendapat kerja lebih dulu. 

Pertama-tama, kating memastikan, “Kerja di mana kamu sekarang?” Setelah itu, si kating akan merendah kalau dirinya saat ini memang masih begini-begini saja dan tetap menikmatinya. 

“Hidup bukan perlombaan, jadi buat apa terpaku dengan jalan hidup orang. Kalimat itu sering aku dengar,” ujar Dipta. 

Sebenarnya kalimat itu tidak sepenuhnya keliru. Namun, menjadi tidak tepat jika kalimat itu dilontarkan oleh seorang senior kampus yang ogah-ogahan mengerjakan skripsi, kuliah molor tapi uang jajan masih minta orang tua, dan minimnya hasrat untuk upgrade diri. 

“Dikira ngopi-diskusi sampai Subuh, lalu bangun kesiangan sampai bolos kuliah cukup buat membuka jalan hidup. Ya hidup memang bukan perlombaan, tapi kalau cuma begitu-begitu aja, nggak ada upaya, ya selamanya akan gitu-gitu aja,” sambung Dipta dengan nada kesal. 

Sampai akhirnya Dipta menyimpulkan bahwa itu adalah senjata terakhir sebagai penenang atas payahnya si kating yang masih terseok-seok di kampus tersebut. 

Hidup dalam bayang-bayang isi kepala sendiri

Dipta adalah orang yang realistis dan pragmatis. Apalagi in this economy. Sehingga ia memahami betul kalau ada kawan yang dulu menggebu-gebu selama kuliah, tapi setelah bekerja menjadi sangat lunak dan mudah berkompromi dengan hal-hal yang bertentangan dengan idealismenya. Karena itu menjadi satu-satunya cara untuk mendapat uang, untuk hidup. 

Namun, ada tipikal kating yang menyebalkan: setiap bertemu selalu mengkritik teman-teman yang memilih jalan realistis tersebut. Sementara di kating datang dengan membawa gambaran-gambaran soal hidup ideal yang masih abstrak, yang ia sendiri tidak tahu cara mengeksekusinya. 

“Misalnya, selalu ngomong, sarjana sekarang pada lupa dengan kampung asal. Mereka memilih mencari uang di kota tapi nggak bisa membangun kampung halamannya, membantu pendidikan atau swasembada ekonomi di desa asalnya mereka nggak bisa, nggak peduli,” beber Dipta. 

Setelah itu lantas keluar bayangan-bayangan soal bagaimana proses membangun desa sendiri. Tentu merupakan cita-cita luhur. Namun, kalimat itu keluar dari seseorang yang kuliahnya tidak kelar-kelar dan bahkan tidak punya keberanian pulang karena takut dilempar pertanyaan, “Kapan lulus?” atau “Kapan wisuda?”

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gabung Organisasi Mahasiswa demi Relasi agar Kelak Dibantu Cari Kerja, Relasinya (Para Senior) Malah Nggak Lulus-lulus karena Sibuk Ngopi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 6 November 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.