Mengelola kos pasutri, seperti di Jogja, tidak hanya tentang sumber cuan yang mengalir tiap bulan. Seringkali justru harus berhadapan dengan penghuni banyak akal yang bikin makan hati dan merugikan si pemilik kos.
***
Mengelola kos pasutri di kota-kota perantauan, seperti di Jogja, sudah barang pasti memiliki ceruk potensial. Pasalnya, banyak pasangan—muda maupun lama—yang hidup bersama di perantauan.
Sepintas memang terlihat banjir cuan tiap tanggal pembayaran di awal bulan. Namun, tidak demikian yang dirasakan oleh Pitasari (38), seorang pengelola sebuah kos pasutri di Sleman, Jogja.
Kos pasutri yang ia kelola saat ini sebenarnya milik bapaknya. Lantaran sang Bapak sudah sepuh, sementara anak-anak yang lain memilih kerja di bidang masing-masing, Pitasari akhirnya terlibat bantu-bantu mengurus kos tersebut. Sementara segala kebijakan masih harus mengikuti Bapaknya.
Tak gampang promosikan kos pasutri, karena perantau di Jogja gajinya tipis
Kos pasutri di Sleman, Jogja, tersebut rata-rata dipatok harga Rp750 ribu. paling mahal ada di angka Rp1,5 juta.
“Dari sepuluh kamar, lima kamar Rp750 ribu, dua kamar Rp800 ribu, satu kamar Rp1 juta, dan dua kamar Rp1,5 juta. Tergantung ukuran, semakin luas semakin mahal,” ungkap Pitasari, Sabtu (7/11/2026).
Memang kosongan. Namun, harga Rp750 ribu saja sudah mendapat kamar dengan kamar mandi dalam, dapur sendiri, dan include listrik, air, dan sampah.
Sementara untuk WiFi, ada swadaya sendiri antar-penghuni kos: kalau mau pakai WiFi ya silakan urun pembayaran, kalau tidak ya tidak masalah.
Dari sepuluh kos tersebut, saat ini ada empat kamar yang saat ini kosong. Satu kamar seharga Rp800 ribu, satu kamar Rp1 juta, dan dua kamar seharga Rp1,5 juta.
“Susahnya minta ampun buat cari penghuni baru, walaupun sudah nyebar info di grup-grup Facebook. Sebenarnya pasti ada saja yang datang buat cek lokasi, tapi kebanyakan mundur karena harga tidak bisa dinego,” ungkap Pitasari.
Bayangkan, lanjut Pitasari, untuk kamar seharga Rp800 ribu masih ada yang menganggap kemahalan. Tidak jarang ada pasangan pasutri yang datang menanyakan: apa tidak ada yang harganya Rp500 ribuan. Bagi Pitasari, bukan kosnya yang kemahalan (karena itu standar harga di Jogja), tapi gaji si calon penghuni saja yang terlalu tipis, sebagaimana umumnya UMR Kota Pelajar.
Penghuni kos pasutri suka nunggak jual iba
Jangankan calon penghuni, penghuni lama yang menempati kamar seharga Rp750 ribu saja masih merasa kemahalan. Ada saja penghuni yang nunggak tidak bayar sewa: dua bulan, tiga bulan, bahkan nunggak enam bulan dengan bayar nyicil pun ada.
Tentu saja situasi tersebut membuat Pitasari mumet. Sebab, kalau penghuni tidak tertib membayar, operasional kos seperti listrik dan air.
Yang menyebalkan adalah: sering kali ada penghuni yang kalau ditagih pada tanggal pembayaran pasti langsung menjual kesedihan, memelas iba. Bisa cerita panjang lebar soal kondisi ekonomi yang seret.
“Tapi ya memang ada yang benar-benar seret. Buat makan aja sampai harus nasi+sambal+krupuk saja. Kalau sudah begitu, siapa yang tidak iba. Satu sisi kesal, tapi satu sisi juga kasihan sekali. Apalagi kalau pasangan pasutri itu bawa anak, tambah nggak tega lagi karena pasti harus memikirkan susu atau popok,” beber Pitasari.
Namun, ada juga yang modelnya sok cuek. Kalau melihat Pitasari melintas di lorong kos, penghuni yang nyata-nyata belum bayar sewa malah langsung mengunci rapat-rapat pintu kamar. Atau tiba-tiba saja tancap motor dengan tergesa.
“Kok nggak diusir saja yang nggak bayar-bayar? Kalau ini urusannya sama Bapakku. Bapakku ini terlalu baik. Terlalu husnuzon, jadi kalau ada yang nunggak lama, disuruh memaklumi, nanti pasti bayar. Jadi saya juga nggak berani melangkahi Bapak, karena posisi saya hanya bantu, sementara Bapak masih pegang hak penuh,” ujar Pitasari.
Tidak terima kalau harga naik
Harga semurah itu saja masih ada yang nunggak, boro-boro kalau mau dinaikkan: misalnya dari Rp750 ribu menjadi Rp900 ribu.
Sebenarnya Pitasari kepikiran betul untuk menaikkan harga sewa kos pasutri di Sleman, Jogja, tersebut. Pasalnya, ia harus menyesuaikan dengan harga-harga yang saat ini serba naik.
Masalahnya, baru dalam tahap wacana saja, ketika para penghuni dengar, tidak pelak langsung protes di grup kosan. Bahkan ada yang mengultimatum akan langsung pindah kos kalau harga sewa kos tersebut Pitasari naikkan.
Agak dilematis memang. Bisa saja Pitasari membujuk Bapaknya agar melepas saja penghuni yang hendak pindah. Namun, Bapak Pitasari mengingatkan, cari penghuni baru nantinya juga tidak gampang di tengah situasi seperti sekarang. Toh, lebih dari itu, Bapak Pitasari juga sudah terlanjur akrab dengan beberapa penghuni, sudah seperti sanak sendiri.
“Kedekatan yang malah jadi petaka. Bapak malah lebih sering pakewuh kalau ngadepi penghuni kosanya. Padahal yang harusnya pakewuh kan para penghuni ndablek (yang bayarnya nunggak-nunggak),” ujar Pitasari.
Diam-diam bawa tambahan perangkat elektronik yang dilarang
Ada dua perangkat elektronik “besar” yang dibolehkan dibawa di kos pasutri milik Bapak Pitasari, yaitu rice cooker dan kipas angin. Sementara untuk setrika, televisi, bahkan kulkas, ada biaya tambahannya.
Namun, Pitasari mendapati ada beberapa penghuni yang diam-diam membawa setrika, televisi, bahkan kulkas (meski kecil). Tentu perangkat tersebut memakan banyak daya. Masalahnya, tidak seiring dengan ketertiban penghuni kos yang membayar biaya tambahan.
“Aku pernah menegur, jangan bawa televisi atau kulkas. Alasannya, nggak pernah dipakai, Mbak, atau, jarang dipakai, Mbak. Cuma dibawa saja dari kos sebelumnya,” kata Pitasari.
Pitasari tidak bisa langsung percaya. Tetapi, sekali lagi, ia masih belum punya kuasa penuh untuk menegakkan aturan.
Ia pernah meminta Bapaknya menegur secara langsung penghuni yang membawa perangkat elektronik tambahan. Tapi, saking halusnya hati sang Bapak, Bapak Pitasari langsung percaya saja dengan alasan yang dibuat-buat oleh penghuni.
“Nggak dipakai gitu kok, Nduk. Jadi ya sudah, wong cuma disimpan di kamar saja kok,” begitu kata Bapak Pitasari.
Saksi bisu keributan karena masalah ekonomi
Di tengah persoalan-persoalan yang menyebalkan tersebut, Pitasari mencoba memahami jalan pikir Bapaknya—yang menurutnya terlalu baik pada orang lain.
Rumah Pitasari yang berdekatan dengan kos pasutri di Sleman, Jogja, tersebut memungkinkannya bersinggungan dengan ragam aktivitas para penghuni. Termasuk jika tengah terjadi keributan.
“Kalau ribut parah, Mas. Ada satu kamar yang kalau ribut, sampai banting-banting piring seng atau apapun di dalam kos. Saling teriak, saling mengumpat,” ujar Pitasari.
“Samar-samar terdengar lah, pemicunya adalah masalah ekonomi,” sambungnya. Gara-gara itulah, ia tidak bisa tidak iba dan prihatin dengan kondisi si penghuni. Karena kenyataannya, kondisi ekonomi memang sedang amat sulit. Terlebih di Jogja yang sudah dikenal luas sebagai daerah dengan UMR kecil.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sisi Suram Kos Pasutri Jogja, Tetangga Tak Tahu Batasan hingga Jadi Kedok “Hubungan Terlarang” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan