ADVERTISEMENT

Jadi Penjaga Makam hingga Perawat Rumah Kosong: 3 Profesi ‘Aneh’ di Desa yang Cocok In This Economy, Jobdesk Mudah tapi Cuan Besar

logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Menjadi penjaga makam biar nggak dicuri macan jadi-jadian, pelafal doa di acara kenduri kecil-kecilan, hingga perawat rumah kosong yang ditinggal merantau pemiliknya, bisa dicoba. Apalagi kalau kamu mulai muak dengan bursa kerja di kota. Siapa tahu, potensi cuan kamu ada di desa.

***

ADVERTISEMENT

Ketika bursa kerja di kota semakin tak masuk akal, perdesaan sebenarnya menyimpan ekosistem pekerjaannya sendiri. Di balik kentalnya mitos lokal, terdapat semacam gig economy yang jarang diketahui oleh para pencari kerja di kota. 

Profesi-profesi ini mungkin terdengar tidak masuk akal, lekat dengan klenik bagi orang kota. Namun, secara matematis, beban kerja dan rasio pendapatannya sangat masuk akal bagi Gen Z yang mulai muak dengan hustle culture.

Berikut 3 pekerjaan di antaranya. 

#1 Penjaga Makam

Bagi warga pesisir selatan Jawa, khususnya di wilayah Wonogiri hingga Gunungkidul, ada sebuah kepercayaan lokal yang pantang dilanggar. Jika ada warga yang meninggal dunia bertepatan dengan hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, makamnya wajib dijaga selama 40 hari penuh, siang dan malam. 

Mitosnya, jika kuburan dibiarkan sepi, jasad tersebut rawan dicuri oleh harimau jadi-jadian untuk dijadikan pesugihan.

Pada masa lalu, di desa saya sendiri, tugas menjaga makam ini dibebankan secara bergilir kepada kerabat atau keluarga mendiang. Namun, hari ini, seiring dengan kesibukan warga yang enggan repot, kewajiban kultural tersebut menjadi ceruk cuan.

Mulai bermunculan orang-orang yang bersedia menyewakan jasa begadang di area pekuburan.

Pekerjaannya hanya menuntut kesiagaan. Biasanya mereka bekerja secara kelompok, membagi sif jaga, dan bergantian tidur di area makam. Untuk ukuran perdesaan, standar upah jasa ini terbilang besar, yakni mencapai Rp2 jutaan per orang untuk masa 40 hari penjagaan. 

ADVERTISEMENT

Menggiurkannya lagi, upah tersebut adalah pendapatan bersih tanpa potong pajak. Urusan logistik seperti makan pagi, siang, hingga malam sudah ditanggung sepenuhnya oleh keluarga yang sedang berduka.

#2 Tukang Ikral di acara kenduri desa

Jika di kota sebuah acara kecil-kecilan ditangani oleh event organizer, di desa, setiap ritus kehidupan warga digerakkan oleh figur pelafal doa. Istilah resminya adalah tukang ikrar. Namun, karena penyesuaian lidah masyarakat setempat, sebutannya bergeser menjadi tukang ikral.

Siklus kehidupan di pedesaan selalu diiringi dengan tradisi kenduri (genduren). Peringatannya bermacam-macam; mulai dari selamatan peringatan weton, syukuran kelahiran anak sapi peliharaan, hingga perayaan turunnya motor baru dari dealer. 

Untuk kenduri berskala kecil yang hanya mengundang beberapa tetangga terdekat, warga biasanya tidak mengundang tukang ikral “legend” seperti modin atau bayan. Mereka cukup mengundang siapa saja yang luwes secara sosial dan hafal rangkaian doanya.

Di sinilah tukang ikral, yang kini biasanya diisi anak-anak muda, tampil. Modalnya cukup kemampuan bersosialisasi dan hafalan doa. Kompensasinya dibayarkan secara instan begitu acara bubar. 

Selain bisa ikut makan gratis bersama tamu lainnya, tukang ikral akan pulang membawa sembako atau makanan dalam besek, plus sebuah amplop berisi uang tunai. 

Di desa saya, ini adalah profesi yang sangat efektif untuk menyambung logistik harian.

#3 Perawat Rumah Kosong

Wilayah seperti Wonogiri sudah lama dikenal sebagai pemasok utama kaum boro–sebutan lokal untuk para perantau yang sukses mengadu nasib di kota besar seperti Jakarta. 

Para kaum boro ini punya kebiasaan membangun rumah-rumah berukuran besar nan mewah di desa mereka. Ironisnya, istana-istana perdesaan itu sering kali kosong melompong dan hanya dihuni setahun sekali saat mudik Lebaran.

Dahulu, para perantau ini menitipkan perawatan rumah kepada sanak kerabat. Namun, karena roda ekonomi, banyak kerabat yang akhirnya ikut merantau juga. 

Solusinya, para pemilik rumah menyewa jasa tetangga atau warga sekitar untuk menjadi pengurus properti.

Beban kerjanya tergolong sangat ringan dan bisa dikerjakan sembari menjalankan profesi lain. Job desk harian hanya berkisar pada urusan menyalakan lampu saat senja dan mematikannya di pagi hari, menyapu halaman, dan sesekali mengecek jika ada kerusakan bangunan seperti genteng bocor. 

Pembersihan total yang menguras tenaga biasanya hanya dilakukan seminggu sekali. Sebagai imbalan, perawat rumah akan digaji sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan, tergantung luasan rumah dan seberapa loyal sang majikan. 

Menjelang hari raya, mereka juga rutin mendapatkan THR.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 7 Profesi yang Diremehkan Padahal Cuan dan Work-Life Balance di Kampung atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 November 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.