Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM

Ilustrasi - Pekerja Jakarta WFH (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bekerja tidak pernah gagal memberikan momok tersendiri. Ditambah kewajiban pergi ke kantor, sebagian pekerja tidak jarang merasa terbebani dengan keharusan “unjuk muka” selama lima hari kerja. Karenanya, wacana work from home (WFH) untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) menjadi peluang mendapatkan keringanan kerja, tak terkecuali bagi pekerja kantoran Jakarta.

Skema WFH dipertimbangkan sebagai kebijakan yang akan mulai diterapkan setelah libur Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Pemerintah diketahui mencoba mengantisipasi dampak krisis global akibat lonjakan harga minyak dunia yang terjadi setelah perang antara AS dan Israel versus Iran pada Februari lalu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan kebijakan WFH untuk menghemat energi ini berlaku bagi ASN dan diimbau untuk pekerja sektor swasta. Rencananya, nantinya pekerja akan bekerja dari rumah selama satu hari dalam satu pekan, yakni pada hari Jumat.

Kesempatan pekerja Jakarta multitasking

Masalah pertama yang akan muncul dari diterapkannya skema WFH adalah pekerja yang akan mempunyai peluang untuk melakukan aktivitas lain, selain bekerja.

Dimulai dari aktivitas sederhana yang bisa dilakukan sambil bekerja sampai kegiatan yang membutuhkan mobilisasi dan berpotensi meninggalkan pekerjaan akan dilakoni dengan penerapan WFH. Salah satu contohnya sudah direncanakan oleh Lala (24), yakni bekerja sambil bermain dengan kucingnya.

Aktivitas ini tidak bisa Lala lakukan di kantor. Karena itu, pekerja swasta ini mengatakan, akan mengambil kesempatan untuk bekerja dalam kondisi yang lebih nyaman apabila melakukan WFH.

“Pastinya [bekerja sambil main] kucing-kucing yang bawel dan caper itu,” kata perempuan asal Jakarta ini kepada Mojok, Rabu (25/3/2026).

Sambil melakukan kegiatan itu, Lala juga mengatakan, dirinya akan mencoba untuk mengeksplor lagu baru di aplikasi musik—hal yang tidak bisa dilakukan saat bekerja di kantor. Dengan kata lain, Lala akan multitasking dengan melakukan tiga kegiatan pada saat bersamaan.

“Eksplor playlist lagu baru di YouTube,” kata dia.

Kemungkinan selain mengerjakan tiga sekaligus, Lala akan beralih cepat antar tugas dalam waktu yang singkat. Misal, pekerjaan utamanya terpampang di layar laptop, Lala melakukannya sambil mengelus kucing yang menemaninya bekerja. Di sela waktu menunggu pekerjaan baru atau menelusuri kembali pekerjaannya, ia bukan tidak mungkin bisa beralih ke laman musik atau mengajak kucingnya bermain.

Inilah yang disebut multitasking.

Sayangnya secara psikologis, multitasking disebut berdampak buruk pada produktivitas.

Bukannya hemat BBM, pekerja di Jakarta malah WFC

Namun, apabila mencoba mencari jalan keluar agar tidak multitasking saat WFH, Lala terpikir untuk keluar dari rumah agar mendapatkan suasana yang lebih kondusif untuk bekerja. Misal, dengan mengunjungi coffee shop di Jakarta.

Sebagaimana coffee shop dimanfaatkan oleh sebagian orang, suasana bekerja di ruangan yang lebih serius semacam coffee shop bisa membantu pekerja Jakarta seperti Lala untuk lebih fokus terhadap pekerjaannya saat harus WFH.

Namun tentu saja, konsep ini melawan skema WFH yang mengharuskan pekerja untuk melakukan pekerjaannya dari rumah. Bukannya dari rumah, bekerja dari coffee shop sendiri sudah disebut sebagai work from cafe (WFC).

Selain itu, ada kemungkinan BBM digunakan dalam mobilisasi WFC.

“Pakai transum (transportasi umum),” kata Lala menyanggah.

Tentu, menggunakan transportasi umum bukan tidak memungkinkan di Jakarta. Namun, survei Litbang Kompas juga menunjukkan bahwa mayoritas atau 71,7 persen responden pengguna transportasi umum di Jakarta pada 2025 juga menggunakan layanan transportasi online, seperti ojek online. Artinya, BBM tetap tidak mustahil digunakan.

Belum lagi, Lala menambahkan bahwa dirinya akan mencoba menelusuri coffee shop yang dapat mendukung konsentrasi kerja di Jakarta. “Kerja sambil menjelajah coffee shop unyu di Jakarta yang kemungkinan masih sepi since gelombang mudiknya belum semua datang,” tambahnya.

Pekerjaan berujung ditelantarkan

Meski begitu, Lala bilang, pekerjaan akan tetap menjadi prioritasnya. Akan tetapi, ia tidak menampik kemungkinan bahwa dirinya akan lebih bersantai menyikapi pekerjaan ketimbang saat berada di kantor.

Bukan tidak mungkin juga, kata Lala, akan meninggalkan pekerjaan untuk beristirahat. Padahal, dirinya menyadari bahwa harus siap sedia selama jam kerja.

“Tetap [prioritas], tapi biasanya kalau udah kelar ya santai banget,” kata dia.

“Malah kadang kutinggal tidur, padahal harusnya standby ya,” katanya menambahkan.

Tidak hanya Lala, dua pekerja Jakarta lainnya juga mengatakan akan melakukan hal yang sama. Mereka tidak menutupi kemungkinan akan melakukan aktivitas lain, yang berujung menelantarkan pekerjaannya.

Salsa (25) mengatakan, akan bekerja sambil memasak. Ia juga akan melakukan aktivitas selayaknya akhir pekan karena tidak harus pergi ke kantor.

“Aku mau kerja sambil masak,” katanya kepada Mojok, Rabu (25/6/2026).

“Kayak pas weekend, pagi-pagi ke pasar karena nggak perlu ke kantor. Aku bisa multitasking goreng ayam sambil kerja,” tambahnya.

Sementara itu, Nanda (24) bilang akan bekerja sambil bermain video game. “Kerja, sambil main,” ujar dia. 

Setidaknya, menurut Nanda, dirinya masih akan berdiam di rumah. Meski untuk itu, Nanda mengatakan tidak hanya sekadar bekerja karena mempunyai kesempatan untuk melakukan aktivitas lain, selain bekerja.

Skema WFH sudah tidak efisien

Rencana bekerja sambil melakukan kegiatan lain seiring dengan adanya wacana WFH bukan tanpa alasan. Ekonom energi sekaligus Dosen UGM, Fahmy Radhi, menilai akan sangat sulit menuntut ASN dan pekerja swasta dalam menerapkan WFH sebab kebijakan ini menyangkut perubahan pola kerja.

Ia menyatakan, dalam skenario WFH 1 hari yang direncanakan akan diterapkan pada Jumat, memungkinkan pekerja tidak hanya bekerja di rumah. Melainkan, mereka bisa work from anywhere (WFA) sekaligus menikmati long weekend, menambahkan hari Jumat pada libur akhir pekan.

“Sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan,” ucapnya seperti dikutip dari Tempo, Rabu (25/3/2026).

Keberhasilan skema WFH menghemat BBM saat pandemi Covid-19 dipengaruhi adanya keterpaksaan agar tidak tertular Covid-19. Sementara itu, Fahmi menilai, variabel ini tidak ada pada kebijakan WFH 1 hari yang akan diterapkan.

Tanpa keterpaksaan seperti sebelumnya, sangat sulit WFH bisa diterapkan dan benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Anak Muda Isi BBM Tergantung Antrean SPBU: Pertalite-Pertamax Dianggap Sama, padahal Terbiasa Buru-buru dan “Buta” Kualitas dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version