Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan

Ilustrasi - Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Cicilan kerap diasosiasikan dengan tidak adanya kemampuan untuk membayar lunas secara langsung, sehingga harus membayar berangsur-angsur. Namun, lain hal dengan tren saat ini yang telah bergeser. Salah satu contohnya dibuktikan oleh pekerja Jakarta yang memilih untuk mencicil iPhone, padahal sanggup membayarnya tunai.

Sudah ada uang tunai, tapi memilih cicilan ketika sampai toko iPhone

Cerita ini datang dari Bri (23). Pekerja Jakarta ini bercerita, dia sudah memiliki cukup uang untuk langsung membeli iPhone saat itu.

Dengan kemampuan finansial yang sudah disiapkan, Bri datang ke salah satu toko yang menjual iPhone di bilangan Jakarta. Ia memutuskan untuk membeli seri iPhone keluaran terbaru, yakni iPhone 17, dengan pembayaran tunai.

Setidaknya, sebelum ia berbincang dengan salah satu staf toko tersebut. Sebab setelahnya, ia mengaku berubah pikiran.

Pembayaran tunai berganti menjadi cicilan.

Alasannya, kata dia, adalah promosi dari salah satu pemberi kredit untuk cicilan produk iPhone yang menarik. Salah satu sales toko tersebut rupanya menawari Bri untuk membayar cicilan dengan tenor 12 bulan sebab tidak dikenai bunga sama sekali, atau dikatakan bunga 0 persen.

Menurutnya, penawaran ini lebih baik daripada membayarkan sekaligus seluruh uangnya untuk pembelian. “Kebetulan waktu saya datang ke toko untuk transaksi, salesnya memberi tahu saya bahwa ada promo dari salah satu pemberi kredit yang memberikan bunga 0 persen jika tenor yang digunakan adalah 12 bulan atau 1 tahun,” kata dia kepada Mojok, Senin (13/4/2026).

Bri mengubah rencana metode pembayarannya saat itu juga. Ia beralih memilih kredit alih-alih tunai, sekalipun telah memiliki uang cukup untuk langsung membayar.

Gali lubang tutup lubang dengan investasi uang, tapi bayar cicilan dengan uang bulanan

Setelah memutuskan untuk mengambil cicilan, Bri mengaku tidak menyesal. Justru, ia merasa menyesal karena selalu membayar tunai dalam pembelian barang yang dibanderol dengan harga cukup mahal, seperti iPhone ini sebelumnya.

Pekerja Jakarta ini mengatakan, cicilan memberikannya kesempatan untuk menyimpan uang dalam nominal besar yang telah disiapkan. Ia merasa lebih aman ketika mengeluarkan uang secara bertahap dibandingkan langsung pada satu waktu.

Bri menjelaskan, uang yang telah disiapkan ia simpan kembali ke dalam bentuk investasi, yakni obligasi. Sementara itu, uang untuk membayar cicilan akan diambil dari gaji bulanan

“Setelah saya pikir-pikir dan kalkulasi ternyata lumayan oke di saya. Jadi, uang yang tadi bisa saya investasikan, dan untuk pembayaran cicilan masih aman jika menggunakan monthly income,” kata dia.

Meski terkesan gali lubang tutup lubang, strategi ini dipilih untuk keuntungan jangka panjang. Bri mengatakan, cicilan dengan bunga 0 persen membuat dirinya hanya harus membayarkan biaya admin sebesar Rp140 ribu setahun. Sementara itu, uang sebesar Rp17 juta yang semulanya untuk pembelian iPhone 17 dapat ditambahkan ke obligasi yang menjanjikan imbal hasil atau bunga tetap sebesar 6 persen per tahun. Artinya, ia memungkinkan untuk mendapat keuntungan kotor sebesar Rp1.020.000 per tahun dengan mengalihkan dana pembayaran.

Keputusan mengambil cicilan juga membantu Bri untuk menyisihkan uangnya lebih baik atau menabung. Ia mengaku belum begitu baik dalam menabung sehingga pengalihan dana dengan membayar cicil alih-alih tunai ini menjadi kesempatan baginya.

“Kalau di saya, saya sendiri soalnya agak kurang teratur kalau menabung,” kata dia

“Sedangkan kalau cicilan kan harus dibayar langsung pas gajian jadi semacam ada dorongan kewajiban supaya rajin bayar,” kata dia menambahkan.

Baca halaman selanjutnya…

Tren absurd orang kaya Jakarta, lebih baik mencicil daripada membayar tunai

Tren keuangan orang kaya yang lebih baik mencicil daripada membayar tunai

Bri bukan satu-satunya orang yang melakukan hal ini. Keputusan mengambil cicilan daripada cash mengindikasikan pola pikir atau mindset orang dari ekonomi berkecukupan—dalam istilah mudahnya, orang kaya—untuk mengatur keuangan.

Dilansir dari laman biro psikologi, Smile Consulting, orang kaya seringkali memiliki strategi finansial berbeda. Mereka cenderung memilih cicilan, sekalipun mampu membayar penuh.

Berkaitan dengan aspek psikologis, keputusan ini dianggap sebagai kesempatan memanfaatkan opsi investasi yang dinilai lebih menguntungan. Mindset orang kaya ini berangkat dari pemahaman nilai waktu dan  kesempatan investasi yang bisa dimanfaatkan dengan memilih cicilan. Alhasil, mereka lebih suka menjaga dana dan keuntungan melalui investasi daripada membayar penuh secara langsung di depan.

Pilihan membayar cicilan menunjukkan kecenderungan untuk tidak terburu-buru mendapatkan kepuasan setelah memperoleh barang melalui pembayaran cash. Mereka memilih menunda kepuasan, berbeda dengan kalangan ekonomi menengah ke bawah yang lebih memilih cepat dan segera dalam menyelesaikan segala sesuatu, termasuk pembayaran. Padahal, penundaan kepuasan semacam ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh sesuatu yang lebih besar, serta meringankan diri.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Sage Journals pada 2024 juga menunjukkan bahwa cicilan dinilai efektif karena dapat mengurangi hambatan finansial yang dirasakan. Memecah pembayaran menjadi cicilan kecil yang bebas bunga, seperti yang dilakukan Brii, memberikan pengurangan beban biaya secara psikologis.

Selain itu, penelitian ini mengungkap konsumen merasa lebih terbantu dalam mengelola arus kas melalui cicilan. Mereka merasa lebih mampu membeli barang yang terasa terlalu mahal jika harus dibayar penuh di awal.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version