Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis

Laki-laki Pakai V-Neck Nggak Selalu Gay, Bisa Jadi Cuma Fashion. MOJOK.CO

ilustrasi - laki-laki dianggap gay ketika pakai V-Neck padahal enggak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pemerintah Malaysia dulu sempat melarang pria menggunakan baju berkerah V alias V-neck. Sebabnya, V-neck dianggap simbol atau ciri orang yang memiliki ketertarikan seksual kepada sesama pria alias gay. Bagi mereka, gay yang merupakan bagian dari komunitas LGBTQ+ telah melawan kodrat alam.

Oleh karena itu, pemerintah Malaysia membuat semacam panduan tentang kecenderungan orang menjadi gay. Salah satunya, pria yang suka memakai V-neck. Ciri ini tak bisa sepenuhnya dianggap salah, dalam komunitas LGBTQ+ pakaian sering digunakan sebagai simbol perlawanan. Di era 1960-an sampai 1980-an misalnya, komunitas tersebut mulai berani menantang peran gender konvensional seperti maskulin atau feminin.

Sehingga, muncullah istilah evolusi mode queer sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan mengaburkan batasan gender. Lalu, mengapa V-neck pada pria sering kali dipermasalahkan?

Fungsi V-neck dalam dunia fashion

Tren V-neck sendiri populer pada tahun 1960-an pasca Perang Dunia II dan Perang Korea, di mana industri fashion Amerika Serikat mengalami ledakan investasi. Saat itu, model V-neck tak hanya ada untuk sweater melainkan pakaian dalam. 

Pakaian dalam berbentuk V-neck menjadi salah satu solusi praktis bagi pria yang mengenakan kemeja, tapi ia tidak ingin garis leher kaosnya terlihat ketika kancing kemeja bagian atas mereka terbuka. Kaos V-neck juga tidak membuat pakaian serasa tertumpuk dan lebih dingin walau ditumpuk-tumpuk. 

Melansir dari laman Epic Fits, V-neck juga bisa memberikan siluet bagi tubuh agar tampak tinggi dan ramping. Area di sekitar pangkal leher yang terlihat terbuka, menarik pandangan mata secara vertikal atau dari atas ke bawah dan bukan dari samping ke samping. Sebaliknya, kerah berbentuk bulat cenderung memperbesar tampilan bahu dan wajah. 

Seiring berkembangnya waktu, V-neck mengalami modernisasi yang menunjukkan bagian dada dan leher lebih terbuka. Yang mana, bagian tubuh tersebut dianggap memiliki muatan erotis. Tak pelak, pandangan masyarakat terhadap pria yang menggunakan V-neck ikut berubah.

Pakai V-neck agar terlihat menarik

Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berjudul “Busana Sebagai Penanda Identitas dan Performativitas Homoseksual dalam Program Queer Eye”, busana dan atribut seorang pria gay dapat menjadi penanda identitas homoseksual mereka. 

Salah satu yang ciri yang dibahas dalam jurnal tersebut ialah seorang pria gay yang mengenakan kemeja dengan kancing terbuka hingga dada. Dalam konteks maskulin juga, penggunaan deep V-neck mulai dihubungkan dengan stereotip douchebag alias pria narsis dan berusaha terlalu keras untuk terlihat menarik. 

Krisna, bukan nama sebenarnya (24), selaku bagian dari komunitas LGBTQ+ tak menampik jika deep V-neck seringkali dipakai untuk memamerkan bagian dada, apalagi badan yang sejatinya kekar. Namun hal itu, kata dia, tak merujuk pada orientasi seksual tertentu. 

“Ini lebih ke sex appeal (daya tarik seksual atau kemampuan seksual seseorang untuk memikat minat erotis orang lain) saja. Sama kayak orang buka kancing atas, satu atau dua kancing kemeja,” jelas Krisna.

Sentimen yang muncul terhadap gay

Krisna berujar sentimen gay identik dengan V-neck muncul karena para gay seringkali memakai V-neck untuk menarik perhatian gay lainnya. Namun hal itu, kata dia, bisa terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung kepada semua orang terlepas dari orientasi seksualnya.

“Dalam dunia fashion, pengguna V-neck merupakan orang yang percaya diri dengan bagian dadanya. Bahkan ada yang mungkin menambahkan gayanya dengan outer agar tampak lebih bagus,” ujar Krisna.

Krisna menegaskan tak semua gay nyaman menggunakan V-neck. Ahmad, seorang individu yang tinggal satu atap dengan komunitas LGBTQ+ selama 4 tahun ini mengungkap banyak teman-temannya yang jarang memakai V-neck dalam kehidupan sehari-hari. 

“Sepanjang pengamatanku, cara berpakaian mereka tidak jauh berbeda dengan gaya orang pada umumnya. Biasa saja. Bahkan kalau ada yang suka dengan sebuah band tertentu, mereka lebih sering pakai baju band,” jelas Ahmad. 

Ahmad yang sudah mengenal 5 orang gay di tempat tinggalnya juga berujar fashion memang berfungsi untuk menunjukkan identitas seseorang tapi masih ada dari mereka yang memilih tertutup. Tak semuanya mau terbuka dan berdamai dengan dirinya, mengingat stigma buruk dari masyarakat.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kus Sri Antoro, Suarakan Isu Difabel Melalui Wayang Limbah Plastik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version