Selama menjadi WNI kerap menerima perlakuan buruk dan rasis. Akhirnya putuskan lepas paspor Indonesia untuk jadi WNA di Jerman dan temukan kehidupan yang cenderung lebih mudah dari sebelumnya.
***
Lahir sebagai keturunan Tionghoa membuat Anne (42), bukan nama asli, sudah berhadapan dengan situasi buruk sejak kecil. Tinggal di Jakarta, ia dan keluarganya kerap menjadi sasaran rasis. Apalagi di tahun 1998.
Sebenarnya sejak kecil Anne telah membekali diri dengan beragam tameng. Ia belajar bela diri, sedia pisau di tas kalau sedang keluar karena takut jadi korban pelecehan seksual.
“Belum lagi urusan administratif sebagai WNI yang rasa-rasanya selalu dipersulit,” ungkap Anne berbagi cerita pada Senin (9/3/2026) sore.
Itulah kenapa, pada akhirnya Anne berpikir untuk meninggalkan Indonesia, menjauh dari Jakarta (tempat ia dan keluarganya tinggal).
WNI asing di negara sendiri, pilih pindah ke Jerman
Pada 2008, Anne bertemu dengan laki-laki WNA (yang kemudian menjadi suaminya). Bersama sang suami, Anne memutuskan pindah ke Jerman.
“Waktu itu nggak ada diskusi panjang dengan keluarga di Jakarta. Karena menurutku kalau di negara sendiri dianggap asing (meski masih berstatus WNI), kenapa nggak sekalian mencoba hidup di negara asing,” beber Anne.
Keluarga Anne mengerti keputusan Anne untuk pindah ke Jerman. Karena faktanya memang Indonesia tidak ramah untuk WNI dengan garis keturunan seperti keluarga Anne.
Lepas paspor Indonesia dan status WNI karena tidak mau ribet
Setelah bertahun-tahun tinggal di Jerman, pada 2022 Anne memutuskan untuk melepas paspor Indonesia/status WNI.
“Karena di Indonesia waktu itu ada lagi perubahan aturan mengenai nama: di mana nama di paspor harus sesuai dengan KTP Indonesia. Kecuali kita melakukan banding di pengadilan,” ungkap Anne.
“Meskipun nama di LN sudah sejak lama ditambahkan nama suami dan selama itu juga di paspor ada nama suami di halaman depan, eh mendadak di Indo ganti aturan,” sambungnya.
Karena tidak mau ribet-ribet lagi, Anne pun mantap melepas status WNI dan paspor Indonesia yang selama ini ia pegang. Sekalian pindah jadi WNA saja.
Belum pernah terima perlakuan buruk meski berbeda, tak seperti di Indonesia
Sedari awal pindah ke Jerman, walaupun masih status WNI, Anne mengaku tidak mendapat perlakuan rasis. Bahkan hingga sekarang.
“Ya ada satu/dua tindakan rasis. Tapi bisa dihitung jari. Yang jelas nggak separah di Indonesia,” katanya. “Itu pun selalu ada orang lokal (WN setempat) yang meminta maaf atas perilaku asosial pelaku rasis tersebut.”
Selain itu, Anne nyaris tidak pernah menerima olok-olok sebagaimana yang ia alami sejak kecil hanya karena beda warna kulit dan bulatan mata. Bahkan, di Jerman, sekalipun bahasa Jerman Anne masih kacau di awal-awal (indikasi bukan warga asli Jerman), tidak ada yang lantas menjadikannya olokan.
Rasakan kemudahan kerja di Jerman, nelangsa sama orang Indonesia
Selain itu, dengan melepas status WNI dan paspor Indonesia, Anne merasa lebih mudah dalam bekerja.
“Karena aku kerja di Jerman yang kerjaanku mengharuskan banyak on the way. Kalau pakai paspor Indonesia report apply visa melulu, ribet,” ucap Anne. Selain juga memudahkan dalam urusan perjalanan yang lain dan saat sesekali mengundang keluarga Indonesia ke Jerman.
Saat Anne memutuskan pindah dan kerja di Jerman, keluarganya (orang tua dan adik Anne) memilih tetap menetap di Indonesia sebagai WNI. Ada banyak alasan kenapa keluarga Anne enggan ikut pindah. Di antara yang fundamental karena sudah berkeluarga dan tidak cocok dengan cuaca di Jerman.
“Kalau tidak kuundang di Jerman, aku masih sesekali pulang ke Jakarta,” tutur Anne.
Di konteks minimnya perbuatan rasis padanya sekaligus kemudahan akses kerja, Anne memang bersyukur pindah ke Jerman. Namun, tentu ada sisi sentimentil lantaran melepas status WNI sebagai negara tempat keluarganya berkumpul.
“Tapi di satu sisi juga nelangsa melihat kondisi Indonesia yang semakin ke sini kok kelihatan tambah memburuk,” pungkas Anne. Karena memang, nyaris setiap hari ada saja kebijakan aneh yang tidak berpihak ke rakyat dan kabar buruk-kabar buruk lain akibat ulah pejabat.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ironi Kejar Mimpi Kuliah S2 di Jerman: Bisa Kerja sambil Numpang Gratis di Rumah Warga, tapi Diremehkan sampai Diusir Majikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














