ADVERTISEMENT

Jogging di Malam Hari: Kemewahan Terakhir Perempuan Umur 30-an yang Kini Tak Nyaman Lagi karena Orang-Orang Nyinyir dan Catcalling

lari malam, Pelari kalcer, fenomena olahraga lari.MOJOK.CO

Lari malam, dulunya menjadi kemewahan untuk melepas stres bagi perempuan pekerja usia 30-an. Kini, hobi ini rusak oleh nyinyiran FOMO di medsos dan bahaya catcalling di jalanan.

***

ADVERTISEMENT

Bagi Abi, memasuki usia kepala tiga rasanya seperti kehabisan napas. Mencari kegiatan yang sekadar bikin pikiran tenang saja, kini sudah menjadi sebuah kemewahan yang sulit dijangkau. 

Jangankan menjajal hobi baru yang butuh banyak persiapan. Bagi pekerja asal Sleman ini, sekadar membagi waktu untuk hal-hal sederhana saja susahnya minta ampun. 

Stres pekerjaan di kantor, tekanan sebagai tulang punggung keluarga, ditambah rentetan ekspektasi sosial, membuat sisa energinya terkuras habis. Pada titik ini, menurut Abi, menghabiskan waktu luang dengan rebahan di atas kasur terasa jauh lebih masuk akal daripada harus keluar rumah mencari aktivitas lain.

Sudah hobi lari malam hari sejak pandemi

Namun, di tengah segala kepenatan itu, Abi sempat menemukan cara untuk merawat kewarasannya. Ya, dengan berlari di malam hari. 

Ia sebenarnya sudah rutin melakukan kegiatan ini jauh sebelum lari menjelma menjadi tren gaya hidup perkotaan belakangan ini. Abi memulainya sejak era pembatasan Covid-19 beberapa tahun lalu. 

Karena kebijakan WFH memberinya lebih banyak waktu luang, ia mencoba lari malam sekadar untuk mencari rasa capek. Tujuannya, dengan fisik yang lelah, ia bisa langsung tertidur pulas.

“Biar bisa langsung blek, tidur pulas tanpa harus overthinking mikirin beban hidup,” ujar Abi, Minggu (25/10/2026).

Awalnya, rute lari Abi hanya memutari jalanan sepi di sekitar kompleks kos-kosannya. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya stamina, rutenya merambah lebih jauh ke area kampus terdekat. 

ADVERTISEMENT

Perlahan, ia mulai berani menyusuri trotoar jalan raya, menikmati senyap dan angin malam yang dingin.

“Dulu waktu Covid enak jalanan masih sepi. Di area-area kampus yang dibolehin masuk juga sama sepinya.”

Lari malam sudah tak nyaman lagi sejak ada stigma “FOMO”

Sayangnya, kenyamanan itu kini mulai terusik. Tren lari yang sedang digandrungi banyak orang nyatanya memunculkan kelompok masyarakat baru yang entah kenapa rajin melontarkan komentar sinis. 

Awalnya, Abi hanya melihat fenomena mengganggu ini di media sosial. Setiap kali ada kenalannya di Instagram yang mengunggah aktivitas lari malam, selalu saja ada komentar miring yang singgah. 

Mereka dituduh “caper”, disindir sebagai “si paling sehat”, hingga dikritik dengan pertanyaan meremehkan, “Kenapa sih larinya nggak siang saja kayak orang normal?”

“Padahal kan orang seperti kami ini alasannya jelas banget. Kalau siang ya kerja. Nggak ada ada waktunya buat lari,” tegasnya.

Lama-kelamaan, nyinyiran tak beralasan itu ia alami di kehidupan nyata. Abi bercerita, suatu malam, saat ia berpamitan kepada teman-temannya di tongkrongan karena ada jadwal lari, respons yang ia terima justru nyinyir. 

Beberapa kawannya dengan enteng melabeli Abi sedang FOMO, menuduhnya cuma sekadar ikut-ikutan tren. 

“Padahal aku udah lari sejak belum ngetren. Sejak Covid lho.”

Sering mengalami catcalling

Di tahap ini, penilaian buruk dari sirkel pertemanan dan media sosial mungkin “hanya” menyerang mental dan bikin jengkel. Namun, bagi banyak perempuan lain, hobi lari malam menyimpan teror yang jauh lebih mengerikan di dunia nyata.

Jika kita menengok keluhan-keluhan yang bertebaran di platform Threads, keresahan yang dialami para pelari perempuan ternyata jauh lebih eskalatif. Berulang kali mereka membagikan pengalaman pahit terkena catcalling atau pelecehan verbal dari gerombolan pria di pinggir jalan. 

Sekadar lewat di depan sekumpulan orang bisa memicu siulan pelecehan yang membuat langkah kaki mendadak kaku. Alasan usang soal pakaian pun terbantahkan dengan sendirinya, karena mayoritas dari mereka mengaku sudah mengenakan setelan olahraga yang sopan, longgar, dan tertutup. 

Kenyataannya, jalanan malam memang masih menjadi ruang yang beringas bagi perempuan yang sedang sendirian.

Akibat rentetan pelecehan di ruang publik tersebut, tidak sedikit perempuan yang akhirnya mengalami trauma. Ketakutan-ketakutan itu bikin mereka terpaksa mengubur dalam-dalam hobi lari malam tersebut. Ruang aman terakhir untuk melepas penat itu kini sudah dirampas habis-habisan oleh predator jalanan.

Bagi Abi sendiri, kenyataan ini terasa sangat menyesakkan. Perempuan di usia 30-an yang setiap harinya sudah dihantam beban hidup ternyata masih harus berjuang keras hanya untuk sekadar menikmati waktu luangnya sendiri. 

“Padahal aktivitas kita nggak mengusik, apalagi merugikan orang lain. Kita cuma mau menikmati hobi saja kok rasanya susah,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.