ADVERTISEMENT

Realitas Pahit Fenomena Downgrade Gaya Hidup: Bukan Sekadar Berhemat tapi Bertahan Hidup karena Pendapatan Stagnan

Fenomena downgrading: mau tidak mau downgrade gaya hidup dan kebutuhan konsumsi karena pendapatan stagnan dan masa depan tidak pasti MOJOK.CO

Fenomena downgrading (downgrade gaya hidup) bisa dibaca menjadi alarm bahaya jika skalanya meluas. Karena ini bukan semata persoalan masyarakat ingin berhemat atau mengatur ulang skala prioritas belanja. 

Belakangan, media sosial diramaikan oleh warganet yang saling sharing perihal gaya hidup maupun kebutuhan konsumsi yang terpaksa mereka downgrade. 

Misalnya, dari semula memakai mobil mahal untuk mobilitas sehari-hari, kini mobil tersebut dijual dan beralih menjadi motor. Pokoknya asal sama-sama kendaraan dan bisa digunakan untuk jalan. Contoh lain, budget makan yang semula ada di angka tinggi perhari, mau tidak mau harus diturunkan. Prinsipnya masih bisa makan dan kenyang saja sudah syukur. Apalagi biaya-biaya untuk kebutuhan sekunder-tersier seperti nongkrong hingga gadget, semua di-downgrading. 

Itulah yang kemudian disebut dengan fenomena downgrading, yakni perubahan pilihan konsumsi ke barang dan layanan yang lebih murah. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh FOLKATIVE™ (@folkative)

Fenomena downgrading jadi respons rasional terhadap ketidakpastian ekonomi

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho menjelaskan, fenomena downgrading

(perubahan gaya hidup, pengurangan angka konsumsi, hingga penyesuaian kepemilikan aset) bisa dipicu lantaran pendapatan yang relatif stagnan. Sementara kebutuhan sekaligus harganya terus meningkat. Terlebih masyarakat kini tengah berada di dalam masa ketidakpastian ekonomi. 

Wisnu menilai, downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, dan bukan pilihan gaya hidup semata.

“Rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan dengan mengurangi (downgrade) pengeluaran yang lebih fleksibel atau tersier ketika pendapatan mengalami tekanan atau ketidakpastian,” jelas Wisnu di FEB UGM, Rabu (7/10/2026). 

Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut lebih dikenal sebagai consumption smoothing. Yakni upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti agar tetap relatif stabil. Adapun caranya adalah dengan mengorbankan konsumsi yang lebih fleksibel. 

“Dengan demikian, masyarakat melakukan penyesuaian bukan karena sedang ingin berhemat, tetapi karena ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran kian terbatas,” jelasnya. 

Pendapatan stagnan dan overthinking terhadap masa depan

Dalam penilaian Wisnu, setidaknya ada dua faktor yang saling memperkuat terjadinya downgrading. Pertama, pendapatan riil yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi. Kondisi tersebut, membuat kemampuan belanja riil rumah tangga menyusut meskipun pendapatan nominal tidak mengalami perubahan.

Faktor kedua, yakni terjadinya penurunan ekspektasi ekonomi. Pasalnya, masyarakat saat ini tengah menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan yang berkurang, tetapi juga karena muncul kekhawatiran (overthinking) terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang, termasuk keamanan pekerjaan. 

Akibatnya, pola belanja yang sebelumnya bersifat rutin berubah menjadi lebih menahan. “Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas,” papar Wisnu. 

Pola ini, lanjut Wisnu, menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu. 

Dari dua faktor tersebut bisa dilihat bahwa persoalan utama dari fenomena downgrading bukan terletak pada praktik downgrade gaya hidup maupun konsumsi. Lebih luas, fenomena ini harus dilihat dari skala dan kelompok masyarakat yang melakukannya. 

Bagi Wisnu, apabila downgrading hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, penyesuaian tersebut masih dapat dipandang sebagai hal yang bersifat sementara. “Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” beber dosen FEB UGM itu.

Downgrading yang wajar dan tidak wajar

Meski begitu, Wisnu menilai tidak semua downgrading menunjukkan penurunan kesejahteraan. Sebab, penyesuaian konsumsi dapat terjadi secara wajar ketika kebutuhan rumah tangga berubah. Misalnya ketika anak telah mandiri atau seseorang memasuki masa pensiun. 

Namun sebaliknya, downgrading bisa menjadi tanda tekanan ekonomi ketika rumah tangga usia produktif harus menurunkan kualitas konsumsi karena keterbatasan anggaran. 

“Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran,” ungkap Wisnu.

Lama-lama bukan soal mengatur prioritas, tapi bertahan hidup

Terakhir, Wisnu menegaskan bahwa tekanan daya beli yang berlangsung lama dapat berdampak pada perekonomian secara lebih luas. Ketika masyarakat menahan konsumsi, aktivitas perdagangan dan jasa ikut melambat sehingga pelaku usaha dapat menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja. 

Lebih-lebih ketika masyarakat mulai menggunakan utang jangka pendek atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

“Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup,” tutup dosen FEB UGM tersebut. 

Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)

BACA JUGA: Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.