Lupakan Condongcatur, Kos di Nologaten Lebih Nikmat dan Murah meski Dicap Jorok

kos nologaten

Menikmati hidup di kos Nologaten dengan fasilitas yang lengkap, murah, dan nyaman. Namun, sering terganggu karena dicap jorok dan angker.

***

Bagi sebagian mahasiswa UNY, mencari kos biasanya tidak jauh-jauh dari Karang Malang, Kuningan, Klebengan, atau Condongcatur. Kawasan-kawasan itu sudah lama menjadi pilihan mahasiswa karena dekat kampus dan pilihan kosnya beragam.

Gangga (28) justru mengambil jalan berbeda. Sejak semester 1 sampai semester 7, ia memilih bertahan di sebuah kos di Nologaten. Pilihan itu bertahan cukup lama, sampai akhirnya ia pindah karena sudah bekerja di kawasan Maguwoharjo. Selama bertahun-tahun tinggal di sana, Gangga tidak merasa sedang menjalani kehidupan anak kos yang kurang beruntung. Justru sebaliknya.

“Kenapa harus pindah-pindah kalau di sini sudah nyaman?” kata Gangga ketika menceritakan kos lamanya kepada saya.

Kos di nologaten, Rp350 ribu sudah dapat semuanya

Harga menjadi alasan paling masuk akal kenapa Gangga betah. Saat mahasiswa lain mungkin harus menyiapkan uang kos lebih besar untuk mendapatkan fasilitas yang dianggap layak, ia cukup membayar Rp350 ribu setiap bulan.

Dengan harga tersebut, kamarnya sudah dilengkapi kasur dan lemari. Wifi tersedia. Listrik juga sudah termasuk. Bagi Gangga, fasilitas itu sudah lebih dari cukup untuk menunjang kehidupannya sebagai mahasiswa.

“Rp350 ribu sudah dapat kasur yang nyaman, lemari besar, wifi sama listrik juga sudah disediakan. Mau nyari apa lagi?” ujarnya.

Saya kemudian bertanya apakah selama bertahun-tahun tinggal di sana ia tidak pernah tergoda pindah ke kawasan kos yang lebih terkenal.

“Ya kepikiran, tapi buat apa? Di sini murah dan nyaman, bahkan kalau kelaparan tengah malam pun banyak warmindo dan warung kaki lima yang buka sampai pagi,” jawabnya.

Kos itu memang bukan jenis kos yang biasanya dipamerkan di situs Mamikos atau grup-grup Facebook. Tampilan bangunannya tidak bisa disebut proper. Bahkan, menurut Gangga, kesan pertama orang yang melihatnya bisa berbeda jauh dari pengalaman orang yang tinggal di dalamnya.

Kos nologaten berjumlah lima kamar yang isinya anak UIN

Keanehan berikutnya ada pada jumlah penghuni. Kos Gangga hanya memiliki lima kamar. Mayoritas penghuninya adalah mahasiswa UIN. Gangga menjadi satu-satunya mahasiswa UNY di sana.

“Bayangin, satu kos isinya anak UIN semua. Aku sendiri anak UNY, itupun hanya aku yang kebetulan non Muslim jadi ya keliatan jomplang banget situasi kos kami,” katanya sambil tertawa.

Situasi itu membuat Gangga menjadi semacam anomali kecil di antara penghuni kos lainnya. Ia tidak merasa terganggu. Justru selama tinggal di sana, kehidupan bersama penghuni kos dan ibu kos berjalan biasa saja.

Perbedaan kampus maupun latar belakang tidak menjadi persoalan besar. Semua tetap menjalani rutinitas masing-masing: kuliah, pulang, makan, beristirahat, lalu kembali menjalani aktivitas pada hari berikutnya. Masalahnya hanya satu, ibu kos sampai sekarang masih mengira Gangga adalah seorang Muslim.

Dikira muslim dan diajak tadarus

Kesalahpahaman itu pernah membuat Gangga mengalami salah satu cerita paling lucu selama tinggal di kos Nologaten. Saat Ramadan, ia pernah diajak ibu kos untuk tadarus bersama penghuni lainnya. Waktu itu Gangga masih tergolong anak baru di kos tersebut.

Gangga sebenarnya tidak ingin menolak. Apalagi ketika ajakan itu datang bersama iming-iming yang sulit diabaikan.

“Aku diajak tadarus. Terus ada nasi berkat, ya masak aku tolak, nggak enak sama ibu kosnya” katanya.

Akhirnya Gangga duduk bersama ibu kos dan penghuni lainnya. Tadarus berlangsung seperti biasa. Ia yang awalnya hanya ingin menerima nasi berkat akhirnya berusaha umak-umik membaca Al-Qur’an bersama penghuni kos.

Dari pengalaman itu, Gangga bahkan mengaku sampai mengenal Surah Maryam. Tidak ada drama besar dalam kejadian tersebut. Ibu kos tetap menganggap Gangga sebagai Muslim, sementara Gangga memilih membiarkan kesalahpahaman itu berjalan begitu saja.

Kerap dicap jorok dan angker

Kalau soal penampilan, Gangga tidak berusaha membela kosnya mati-matian. Ia mengakui bahwa tempat tersebut memang tidak terlihat seperti kos mahasiswa yang proper. Orang yang hanya melihat kondisi fisiknya bisa saja menganggapnya jorok atau bahkan angker.

“Memang kalau dilihat ya kayak gitu, di depan ada pohon mangga yang memang besar, juga sampah di pojok pagar itu yang sering menjadi sumber stigma joroknya,” katanya.

Namun, kesan tersebut tidak otomatis membuat Gangga merasa tidak nyaman. Ada perbedaan antara bagaimana sebuah tempat terlihat dari luar dan bagaimana rasanya ketika tempat itu sudah menjadi rumah selama bertahun-tahun.

Bagi Gangga, kos itu tetap menjadi tempat pulang setelah kuliah. Tempat ia menyimpan barang, tidur, menggunakan internet, dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Harga murah juga membuat kekurangan visual tersebut terasa tidak terlalu penting.

Kos nologaten dan kenangan yang tidak murahan

Gangga akhirnya meninggalkan kos itu ketika pekerjaannya membuatnya harus tinggal lebih dekat dengan kawasan Maguwoharjo. Perpindahan tersebut bukan karena ia menemukan kekurangan fatal di kos lamanya. Ia hanya sudah tidak lagi menjadi mahasiswa yang setiap hari membutuhkan tempat tinggal dekat kampus.

Bertahun-tahun tinggal di Nologaten membuat Gangga punya cerita yang mungkin tidak akan ia dapatkan jika sejak awal memilih kos yang lebih mahal di kawasan favorit mahasiswa UNY.

Nologaten akhirnya bukan sekadar alamat tempat Gangga menyewa kamar selama kuliah. Tempat itu menjadi bagian dari masa mudanya—dengan harga Rp350 ribu per bulan, lima kamar lengkap dengan wifi, kasur, lemari, dan satu cerita tentang bagaimana seorang mahasiswa UNY bisa tersesat cukup jauh dari stereotip kehidupan anak kos kampusnya sendiri.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saya Bersaksi Condongcatur adalah Kawasan Kos Terbaik di Jogja, Meski Harganya Jauh Lebih Mahal dengan Fasilitas yang Kurang Sesuai atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Exit mobile version