Meski harga sewanya mahal dengan fasilitas sangat standard, ngekos di Condongcatur adalah pilihan paling ideal buat mahasiswa bahkan pekerja.
***
Kamar kos saya di kawasan Condongcatur sering kali mendadak berubah fungsi menjadi tempat transit. Jika ada kawan dari luar kota yang sedang mampir ke Jogja, kamar inilah yang hampir pasti menjadi titik kumpul sekaligus tempat menginap.
Alasannya, kata kawan-kawan saya, lokasi kos ini sangat strategis dan bebas. Tengah malam pun, jika perut mereka mendadak keroncongan, kami tinggal berjalan kaki keluar gang dan menemukan deretan warmindo, warung makan tenda, hingga kafe yang masih buka.
Mereka, dengan nada memuji, menganggap saya sangat beruntung karena mendapatkan kos dengan fasilitas lumayan lengkap, akses yang serba dekat, tanpa jam malam, dan yang terpenting, harganya terjangkau.
Di titik itulah saya biasanya harus jujur. Harga sewa yang saya bayarkan saat ini sebenarnya adalah sisa-sisa “harga pandemi”. Saya mulai menyewa kamar ini tepat saat badai Covid-19 sedang parah-parahnya dan harga sewa kos anjlok.
Lantaran saya sudah menetap bertahun-tahun dan dianggap sebagai “sesepuh kos“, sang ibu kos berbaik hati tidak pernah menaikkan tarif sewa saya. Padahal, untuk penghuni baru yang masuk belakangan ini, harganya sudah melonjak naik hingga dua ratus ribu rupiah lebih mahal.
Nyatanya, kos di Condongcatur lebih mahal yang yang dikira
Kenyataan di lapangan, mencari kos di kawasan Condongcatur hari ini ibarat masuk ke pasar dengan harga barang yang sudah digelembungkan.
Jika tidak beruntung mendapatkan harga lama seperti saya, bersiaplah menghadapi realitas bahwa fasilitas kos di sini sering kali tidak sebanding dengan harganya.
Uang enam ratus ribu rupiah di Condongcatur rata-rata hanya akan ditukar dengan kamar berukuran 2×3 meter persegi dan fasilitas kamar mandi luar.
Padahal, jika kita bergeser sedikit ke kawasan Karangmalang, Pogung, atau Samirono, nominal yang sama sudah bisa menjamin kamar yang jauh lebih luas lengkap dengan kamar mandi dalam.
Harga yang pantas untuk sebuah “kebabasan”
Pertanyaannya, mengapa kawasan Condongcatur tetap laku keras dan selalu dipenuhi mahasiswa serta pekerja? Jawabannya, biasanya tak jauh-jauh dari “kebebasan”.
Dimas (25) adalah satu dari sekian banyak pekerja yang memilih tutup mata pada ketimpangan rasio harga dan fasilitas tersebut. Ia sudah indekos di kawasan Condongcatur sejak masih berstatus mahasiswa, dan menolak pindah meski kini sudah bekerja full time.
Sebelumnya, ia sempat mencicipi tinggal di kos yang sangat dekat dengan area kampus.
“Dulu aku pernah ngekos di dekat kampus. Memang enak, ke kampus tinggal jalan kaki. Tapi begitu udah semester akhir dan mulai kerja sampingan, kos dekat kampus malah nggak enak,” ujarnya, Senin (31/8/2026) malam.
“Lingkungannya terlalu sepi kalau malam. Cari makan susah, dan rata-rata bapak kosnya tinggal serumah, jadi nggak bebas kalau pulang malam.”
Bagi Dimas, fasilitas kamar yang pas-pasan di Condongcatur bukanlah masalah besar. Sebagai pekerja, ia hanya butuh tempat untuk tidur dan mandi.
Hal yang jauh lebih ia hargai adalah ketiadaan induk semang yang tinggal satu atap. Ia bisa memegang kunci gerbang sendiri, pulang jam berapa saja tanpa perlu merasa bersalah membangunkan pemilik rumah, dan memiliki akses kuliner yang selalu hidup 24 jam.
Sebab, ngekos di dekat kampus banyak nggak enaknya
Realitas tentang harga sebuah kebebasan ini terasa jauh lebih emosional bagi Reza (24). Pekerja yang baru setahun pindah ke Condongcatur ini menjadikan kos barunya sebagai bentuk “balas dendam” atas penderitaannya di masa lalu.
Selama tiga tahun berturut-turut, Reza menghabiskan masa kuliahnya dengan menyewa kamar di kawasan Samirono. Secara geografis, area itu memang sangat strategis untuk menjangkau kampusnya.
Namun, lingkungan padat penduduk tersebut memberinya tekanan psikologis yang luar biasa. Ia harus setiap hari berhadapan dengan gang masuk yang sangat sempit. Belum lagi kondisi kamarnya yang lembap lantaran tidak pernah tertembus sinar matahari.
“Kos deket kampus itu emang murah. Tapi ya ada harga ada rupa,” ungkapnya.
“Sempit, mblungsrang! Mana satu atap sama pemilik, jadinya nggak bebas.”
Kos di Condongcatur overpriced, tapi tetap worth it
Puncak penderitaan Reza terletak pada otoritas induk semang, yang biasanya memang “kaku” dan agak galak. Saat ia mulai bekerja dan jam pulangnya tidak lagi menentu, aturan jam malam menjadi siksaan tersendiri.
“Di Samirono dulu, jam sepuluh malam pagar sudah digembok rapat. Kalau saya ada acara kantor sampai tengah malam, saya harus menahan malu menggedor pagar. Saya merasa sudah bisa cari uang sendiri, tapi masih diperlakukan seperti anak SMA yang jam tidurnya diawasi orang tua,” ungkap Reza.
Begitu menerima gaji dari pekerjaan tetapnya, hal pertama yang Reza lakukan adalah berkemas dan pindah ke Condongcatur, atas rekomendasi temannya.
Ia sangat sadar bahwa secara hitung-hitungan matematis, kamar kosnya saat ini sangat overpriced. Ukurannya kecil dan fasilitasnya biasa saja. Namun, bagi Reza, uang sewa bulanan itu adalah ongkos yang sangat layak untuk menebus kewarasan dan memegang kendali penuh atas hidupnya sendiri.
“Worth it lah. Meskipun mahal untuk fasilitas yang nggak seberapa, seenggaknya ngekos di sini saya lebih bebas dan memang ada di tengah-tengah. Kawasannya hidup banget,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan