Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pukul 19.00 WIB, Meisha (27) baru saja keluar dari kantornya di salah satu titik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel). Namun, kepalanya masih sangat penuh oleh tumpukan pekerjaan yang harus ia bawa pulang, alih-alih bisa menjalani kehidupan secara seimbang alias Work Life Balance. 

Berjalan agak lesu, Meisha kemudian mampir di salah satu sudut trotoar jalan, memesan semangkuk bakso malang langganan, lalu menyantapnya dengan setengah bergairah. 

Saya duduk persis di sebelah Meisha. Itu terjadi pada awal 2026 lalu saat saya jalan-jalan random di kawasan Kebayoran Baru selepas meliput sebuah event olahraga internasional. 

Obrolan kami terjadi beberapa saat setelah Meisha menuntaskan tangis dan santapnya. “Karena ngerasa capek banget, jadinya tiba-tiba nangis,” ujarnya waktu itu. Ia mengaku memang sering seperti itu: kalau merasa sangat capek, pasti tiba-tiba menangis. 

Kerja kantoran di Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Jaksel) memang bikin terlihat elite

Meisha adalah pekerja kantoran di Kebayoran Baru. Ia bekerja di divisi brand activation. Bekerja di Kebayoran Baru, Jaksel, memang memberi kesan elite bagi beberapa orang. Begitu yang Meisha akui. 

Bukan semata karena ekerja dengan outfit elegan atau lanyard kantor yang menggantung di leher. Tapi salary yang didapat pun terbilang elite. “Duit Jakarta” lah kalau kata Meisha, bukan di bawahnya. 

“Di pekerjaanku sebelumnya aku cuma dapat di bawah UMR. Tapi di kantor baru (di Kebayoran baru), tarafnya naik lah,” ujar perempuan asal Bekasi tersebut. 

Pada akhirnya, di mata keluarga pun Meisha lolos dari kesan diremehkan. Lolos pula dari potensi dibanding-bandingkan. 

Kerja kantoran di Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Jaksel) susah buat Work Life Balance

Seiring waktu, Meisha merasa hidupnya habis untuk urusan pekerjaan. Tubuh Meisha mungkin berada di rumah atau suatu tempat yang jauh dari kantor, tapi pikirannya masih tertambat dengan tumpukan pekerjaan yang menuntut segera dituntaskan. 

Work Life Balance pun menjadi istilah yang jauh dari jangkauannya. Meisha ingin, sepulang kerja, ia benar-benar bisa menikmati rebahan sembari menonton series di OTT misalnya. 

Kenyataannya, setiba di rumah, selepas bebersih, ia harus kembali membuka laptop. Sering pula, bahkan sebelum ia tiba di rumah, notifikasi grup menunjukkan instruksi baru dari atasan. 

“Aku pernah mengabaikan WhatsApp tentang kerjaan di malam hari dan hari libur. Ujungnya aku malah ditegur,” ungkap Meisha. 

“Aku berargumen, wajar saja slow response karena di luar jam atau hari kerja. Tapi argumen baliknya: pekerjaan ya pekerjaan. Selama masih nyari uang di sebuah kantor, ya ikuti rules kantor,” sambungnya. 

Alhasil, Meisha merasa tidak bisa menerapkan Work Life Balance. Karena memang tidak punya pilihan lain. 

Di hari libur, misalnya ia tengah menghabiskan waktu untuk healing, ia tetap siaga dengan ponselnya. Sebab pesan-pesan seputar pekerjaan yang harus direspons cepat bisa muncul sewaktu-waktu. Serba tidak jenak. 

Ketika nongkrong dengan teman-teman lama pun sama halnya. Tapi untungnya tongkrongan Meisha sudah saling paham, bahwa mereka bergantung hidup dari perusahaan kapital yang memposisikan pekerja tidak lebih dari sekadar robot pematuh perintah. 

Resign demi Work Life Balance bukan jalan keluar

Belakangan, Meisha menemukan banyak narasi di media sosial maupun media massa perihal pilihan hidup gen Z: ambil risiko resign demi Work Life Balance. 

Anehnya, Meisha sama sekali tidak “termakan”: tidak lantas mempengaruhi pilihannya untuk resign dari kantornya di Kebayoran Baru, Jaksel. 

“Capek, nangis, ya udah akhirnya cuma kuanggap bagian dari konsekuensi aja,” beber Meisha. 

Alih-alih berpikir untuk resign, Meisha sekarang justru berpikir untuk mencari pekerjaan sampingan (side hustle), sebagaimana yang dilakukan oleh sejumlah temannya. Sebab, di situasi seperti sekarang, belum kena PHK saja sudah untung. Maka, strategi selanjutnya untuk mengamankan hidup adalah mencari pegangan lain (side hustle). 

“Kalau ada narasi, ‘Kerja ngoyo-ngoyo ngejar apa, sih?’, aku sih merasa nggak relate ya. Karena emang situasinya menuntut kita buat gini kalau mau survive. Harga yang harus dibayar ya nggak bisa Worl Life Balance,” beber Meisha. 

Mitos yang diromantisasi

Obrolan kami terputus ketika Meisha menyadari ternyata sudah menjelang jam 8 malam. Sebelum membayar semangkuk bakso malangnya, ia sempat mengecek ponsel. 

Pertama-tama yang ia cek adalah grup kantor, kemudian baru membuka pesan-pesan lain yang masuk dan belum terbaca. Tangisnya sudah benar-benar mereda, lalu ia kembali menyusuri trotoar untuk menuju stasiun MRT. 

Dari arah belakang, tampak ia berjalan sembari menundukkan kepala, sembari dua tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Lalu aku terngiang ucapannya sebelum berpamitan: “Work Life Balance itu mitos bagi pekerja urban yang saat ini sedang diromantisasi..” 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version