Belakangan, saya menemukan fakta bahwa ternyata banyak orang tua di Rembang, Jawa Tengah, jauh lebih ringan mengeluarkan modal untuk anak kerja di Jepang daripada meneruskan pendidikan di perguruan tinggi.
Misalnya yang diungkapkan oleh Fatari (19) yang saat ini masih dalam masa pendidikan di sebuah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Magelang, Jawa Tengah.
Sudah banyak contohnya: kuliah mahal-mahal berujung tidak berguna
Fatari ingat, menjelang lulus SMA, orang tuanya sudah menegaskan kalau bisa Fatari tidak usah ikut-ikutan teman yang bisa lanjut kuliah. Bapak Fatari mengaku tidak sanggup untuk membiayai. Walaupun Fatari tahu, bapaknya sebenarnya punya beberapa petak tanah yang bisa dijual untuk modal kuliah.
Orang tua Fatari lebih ingin: setelah lulus SMK, Fatari bisa langsung mencari kerja sendiri. Alasannya, biar cepat mandiri.
“Dalam bayangan orang tua, dan kebanyakan warga di desaku, kuliah itu seperti menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas wujudnya alias uang,” kata Fatari, Selasa (5/5/2026).
Kondisi ekonomi serba sulit. Kalau bisa mencari uang, kenapa harus buang-buang uang dan waktu di pendidikan? Belum karuan nanti setelah sarjana bisa dapat kerjaan layak juga.
“Ibuku selalu ngasih contoh, ada lah anak sini yang dulu kuliah. Habis banyak (biaya). Sekarang cuma jadi guru (honorer) SD yang gajinya ratusan ribu,” beber Fatari.
Orang tua rela jual aset demi anak kerja di Jepang
Lulus SMA, Fatari memang tidak langsung kepikiran kerja di Jepang. Ia mulai tertarik justru ketika hal itu menjadi obrolan di lingkungan teman-teman kerjanya. Bagaimana tidak tertarik, gaji dua digit, kerja di Jepang pula dengan segala kemajuan dan suasana asrinya yang kerap menjadi jujukan wisata artis-atis Indonesia.
Namun, saat itu, Fatari agak ragu untuk kerja di Jepang. Pasalnya, sebelum dinyatakan siap kerja, Fatari harus mengikuti LPK terlebih dulu. Sementara biaya LPK tidak kecil untuk ukuran keluarganya, bisa menyentuh Rp40 juta lebih.
“Akhirnya iseng-iseng bilang ke orang tua, aku pengin kerja di Jepang. Tapi ada biaya pelatihan sebesar itu,” kata Fatari.
Orang tua Fatari awalnya mendiamkan. Akan tetapi, sepertinya setelah mencari tahu, orang tua Fatari akhirnya turut tergiur dengan potensi gaji yang bakal dikantongi Fatari jika benar-benar kerja di Jepang. Hasilnya jelas, balik modalnya cepet.
Orang tua Fatari langsung mengajak berembuk. Menimbang banyaknya keuntungan kerja di negeri Sakura, tidak butuh waktu lama untuk kemudian menyiapkan petak-petak tanah yang bisa dijual sebagai modal LPK dan modal keberangkatan Fatari nanti.
Rp40 juta ternyata angka yang kecil untuk LPK ketimbang untuk kuliah
Di antara kegiatan pelatihan yang padat di LPK—memperdalam kemampuan berbahasa Jepang, pendalaman pada budaya kerja, dan keterampilan kerja spesifik—jika ada waktu libur, Fatari sesekali pulang ke Rembang.
Ternyata, kabar bahwa bapak Fatari menjual tanah untuk LPK Fatari sudah menyebar di desa. Ketika Fatari pulang, perlakuan tetangga kepadanya benar-benar seolah ia adalah “anak andalan keluarga”.
“Padahal baru LPK, loh, belum benar-benar bekerja. Masih pakai biaya dari orang tua, loh, belum dapat gaji sendiri,” kata Fatari terheran-heran.
Dari apa yang Fatari alami, ia kemudian menyadari, betapa sangat berbeda respons tetangganya terhadap anak muda yang hendak kerja di Jepang dengan anak muda yang memilih jalan kuliah di perguruan tinggi.
“Sebelum LPK baru-baru ini, sebelumnya orang-orang itu selalu ngrasani: ‘Uang puluhan juta kok buat kuliah. Masa sekolah 12 tahun (SD-SMA) masih belum cukup.’’ Katanya terlalu gede. Itu ditujukan ke para orang tua yang menuruti anaknya kuliah,” jelas Fatari.
Tetapi berbeda ketika tahu kalau untuk mengikuti LPK kerja di Jepang pun uang puluhan juta harus melayang. Hanya saja, bagi tetangga-tetangga Fatari, uang Rp40 juta (misalnya) itu biaya yang seharusnya dikeluarkan oleh orang tua demi mendukung anaknya mengikuti LPK. Toh itu angka yang sepadan.
Malah, jika orang tua tidak mau mengusahakannya, justru dianggap sebagai orang tua bodoh.
“Ada temanku, dia kan mau ikut aku waktu awal-awal mau daftar LPK. Tapi pas minta izin orang tua nggak dibolehin kan. Alasannya ya ngapain kerja jauh-jauh? Selain itu karena biayanya,” ujar Fatari.
Lanjut Fatari, bagi beberapa tetangganya, harusnya masih bisa diusahakan. Jika tidak punya aset atau tanah untuk dijual, bisa mengajukan pinjaman ke bank. Toh kelak jika sudah kerja di Jepang utang bank tersebut bisa lekas terbayar.
Baru beberapa bulan kerja di Jepang, kantong lebih tebal dibanding sarjana
Salah satu anak muda di Rembang, Jawa Tengah, yang berhasil kerja di Jepang dengan modal utang bank adalah Babal (20). Ia baru berangkat ke Jepang pada penghujung 2025 lalu, diantar oleh kedua orang tua dan adik perempuannya, dilepas dengan caption status WhatsApp yang mengharukan.
“Semoga selamat sampai tujuan, semoga menjadi anak sukses di Jepang,” begitu tulis sang ibu.
Kata Babal saat dihubungi, cerita dari adik perempuannya: ponsel ibu Babal tidak henti-henti berbunyi. Banyak orang-orang di kontak sang ibu membalas dengan ungkapan doa serupa.
Bahkan, sepulang dari mengantar di Semarang itu, setiba di rumah ibu Babal harus maladeni tetangga-tetangga yang bertanya-tanya soal bagaimana mekanisme anaknya bisa sampai kerja di Jepang.
“Sampai sekarang pun, kata adikku, banyak tetangga yang kalau main tanyanya pasti soal kehidupanku di sini (Jepang) bagaimana. Terus udah dapat apa aja,” beber Babal dalam sambungan telepon.
“Bahkan kesannya tetangga ikut membanggakan, bilang: ‘Syukur sekarang kerja di Jepang. Nggak sia-sia utang bank-nya.’, karena orang tuaku kan ambil bank pas aku LPK,” sambungnya.
Dulu Babal sempat merasa rendah diri dengan teman-temannya yang kuliah. Namun, setelah beberapa bulan kerja di sektor jasa di Jepang, ia justru merasa lebih percaya diri karena isi kantongnya jauh lebih tebal. Wajar saja, gajinya ada di atas Rp10 juta sedikit. Angka yang, seturut yang ia baca di media-media massa, sukar dicapai oleh sarjana-sarjana di Indonesia yang hanya bergaji UMP bahkan di bawahnya.
Lebih-lebih, Babal memang sudah mulai bisa mengirim barang beberapa rupiah untuk keluarga di rumah. Dalam jangka waktu kontraknya selama tiga tahun kedepan, ia optimis kantongnya akan semakin menebal. Dengan begitu, ia bisa mencicil menebus utang orang tua di bank yang ia gunakan untuk LPK.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
