Nilai iPhone sebagai ponsel yang dianggap paling “mewah” tampaknya tidak mudah digeser. Produk Apple ini tidak hanya bisa mempertahankan penggunanya untuk setia, tetapi juga menarik user baru dengan bujukan naik level melalui produknya. Padahal, gaya elite pengguna berbanding terbalik dengan ekonomi, yang bisa jadi sulit.
***
SQ Magazine mencatat Apple dapat mempertahankan kesetiaan penggunaanya di atas 90 persen selama beberapa tahun. Loyalitas pengguna ini, secara spesifik, dilaporkan mencapai angka 92 persen.
Survei yang sama menunjukkan 92 persen tercatat sebagai pengguna iPhone, dengan 48 persen di antaranya mengatakan tidak akan beralih dari ponsel berlogo apel ini.
Dibandingkan dengan pengguna Android, misal Samsung, pengguna iPhone masih lebih unggul pada 92 persen, sedang Samsung hanya 77 persen. Hal ini menunjukkan kesan berbeda dari iPhone sebagai ponsel yang lebih bergengsi.
Tak ayal, mereka yang belum memilikinya berbondong-bondong untuk membeli. Padahal, soal naik kelas, harga iPhone keluaran terbaru pun tidak bisa membelinya.
Beli iPhone karena gengsi ingin naik kelas
Fenomena ini menuntun pembelian iPhone meningkat. Berdasarkan data Business of Apps, pendapatan Apple meningkat 6,4 persen dari tahun sebelumnya, menjadi 416 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Penjualan ponsel keluaran Apple ini tercatat menyumbangkan 50 persen dari total pendapatan Apple pada tahun 2025.Penjualan diperkirakan mencapai 247 juta unit.
Hingga tahun 2025, lebih dari 1,5 miliar unit iPhone tercatat aktif di seluruh dunia.
Meski sebenarnya, tidak ada yang salah dengan membeli iPhone. Akan tetapi, pembelian ponsel ini mulai disalahartikan bukan untuk spesifikasinya yang unggul. Melainkan, untuk nilai “gengsi” yang tidak didapatkan dari ponsel lainnya.
Hauntzer (27) mengaku, mulai muak melihat fenomena ini dari orang-orang di sekelilingnya. Bekerja sebagai barista di coffee shop, pemuda ini mengatakan, mayoritas orang yang ditemuinya membeli iPhone untuk mengamankan status.
Fitur-fitur unggulan yang ditawarkan ponsel itu dikesampingkan.
“Mayoritas orang beli iPhone itu bukan cuma soal spek, tapi soal rasa aman dan status,” kata dia kepada Mojok, Kamis (16/4/2026).
Menurut dia, alasan ini mengacu kepada rasa aman sebab ekosistem Apple yang terbilang rapi. Dilihat dari fitur kamera, misal, kualitasnya jarang mengalami penurunan sebagaimana pada ponsel Android.
Sementara itu, keamanan status merupakan hasil dari kesalahan tujuan sebagian orang yang menganggap iPhone sebagai ponsel bergengsi. Karena itu, membelinya dipahami sebagai kesempatan naik kelas. Artinya, mereka bisa dipandang menempati status sosial yang lebih tinggi daripada sebelumnya hanya dengan memiliki ponsel ini.
“Aman karena ekosistemnya rapi, kamera konsisten, jarang aneh-aneh. Status karena ya, di mata banyak orang, iPhone masih kebaca ‘naik level’,” ujar dia.
Muak dengan pengguna iPhone haus validasi
Pemuda asal Semarang ini mengatakan, alasan yang kedua adalah kekeliruan terbesar pengguna iPhone. Ia menilai, alasan ini mengarah pada kebutuhan akan validasi. Mereka ingin terlihat lebih baik, meskipun kenyataannya justru sebaliknya.
“Yang agak keliru itu ketika alasannya cuma buat validasi,” kata dia.
“Kalau beli karena kebutuhan dan cocok, sah, tapi kalau beli biar ‘kelihatan’, padahal kondisi belum siap, itu yang sering jadi masalah HP-nya flagship, hidupnya masih buffering,” kata dia menambahkan.
Ketidaksesuaian ini memunculkan ironi tersendiri. Menurut dia, iPhone tidak serta-merta dapat dijadikan simbol naik kelas. Meski memang, sebagai salah satu dari barang yang selalu dibawa dan diperlihatkan lebih dulu, sebagian orang akan lebih mudah menilai orang lain melalui penampilannya.
Salah satunya, melalui ponsel yang digunakan.
Bagi pengguna iPhone, ini menjadi kesempatan tersendiri untuk tampil.
“Soal simbol naik kelas, karena di realita sosial kita, barang masih sering jadi shortcut penilaian. Orang belum kenal kita, yang dilihat duluan ya yang kelihatan HP, outfit, tempat nongkrong. Jadi wajar kalau iPhone kebawa jadi simbol,” kata dia.
Namun begitu, Hauntzer bilang, simbol ini tidak menjadi bukti konkret kelas seseorang. Justru, sebagian orang yang menggunakan iPhone masih tertatih-tatih untuk bertahan hidup dari hari ke hari.
Ia menilai, inilah yang menyebabkan ponsel tidak bisa menjadi jalan cepat untuk dianggap lebih berkelas.
“Bisa jadi simbol, tapi bukan bukti. Naik kelas itu harusnya keliatan dari cara mikir, cara ngatur uang, cara bawa diri. iPhone bisa bantu ‘first impression’, tapi yang bikin orang stay respect itu isi kepalanya, bukan logo di belakang HP,” kata dia.
Menyaksikan langsung tingkah user ponsel elite, dompet sulit di coffee shop
Sebagai barista yang bertemu banyak orang di coffee shop, Hauntzer juga menemukan langsung fenomena ini. Ia menyaksikan bagaimana tidak semua pengguna iPhone bersifat bijak, justru menjadikan ponselnya sebagai “tameng” sosial semata.
Dari para pengunjung yang silih berdatangan ke coffee shop tempatnya bekerja di Semarang, ia mengamati para pengguna iPhone yang tidak menunjukkan kelas yang sesuai.
Artinya, katakanlah pengguna iPhone keluaran terbaru, yakni iPhone 17 dengan harga saat ini yang dibanderol sekitar Rp17 juta. Dengan kemampuan membeli ponsel harga tersebut, Hauntzer mengasumsikan, seseorang sudah berada dalam kapasitas ekonomi yang mampu.
Namun kenyataannya, mereka tidak jarang tidak mencerminkan hal tersebut. Bahkan, sebagian yang ditemuinya menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik.
“Kalau dari sudut pandang barista, jujur keliatan banget. Ada yang pegang iPhone terus duduk lama, kerja, meeting itu kelihatan value-nya. Tapi, ada juga yang pegang iPhone cuma buat foto kopi 10 menit terus cabut, bahkan kadang lebih ribet bayar,” kata dia.
“Jadi ya, iPhone bisa bikin first impression naik, tapi setelah itu kelihatan kok mana yang beneran ‘naik kelas’, mana yang cuma kelihatan doang,” tambahnya.
Ini juga yang membuat Hauntzer tidak termakan bujuk rayu menjadi salah satu pengguna iPhone. Ia tidak menganggap penting untuk memiliki ponsel yang bergengsi, sebab ada kebutuhan hidup yang perlu diprioritaskan.
Ponsel keluaran Amerika Serikat ini, kata dia, memang tampak keren. Tidak heran juga, ia bisa memberi kesan pertama yang meningkatkan kelas penggunanya. Akan tetapi, Hauntzer lebih memilih untuk tidak mengesampingkan kebutuhan hidup hanya untuk bergaya,
“Aku pribadi bukan user iPhone, bukan karena gak suka lebih ke prioritas aja. Selama kerjaan masih bisa jalan, kamera cukup, dan dompet gak ngos-ngosan, itu udah cukup. iPhone keren, tapi buat aku sekarang masih nice to have, belum must have,” tutup dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
