Jakarta bukan lagi primadona. Dulu, ia dikenal sebagai pusat tujuan utama migrasi penduduk Indonesia. Berbagai lapangan pekerjaan pun terbuka, menarik minat para perantau untuk mengadu nasib di sana. Namun kini, pola urbanisasi sudah berubah seiring dengan gaya hidup masyarakat urban yang semakin dinamis. Buktinya, terjadi pergeseran tujuan tempat tinggal masyarakat dari kota besar seperti Jakarta ke Jogja.
Hal itu dapat dilihat dari Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang secara implisit menyebut, jumlah penduduk yang keluar dari Jakarta lebih besar dibandingkan yang masuk, alias migrasi neto negatifnya minus sebesar 5,40 persen.
Mendengar temuan tersebut, Sitaresmi (52) tak terlalu kaget. Perempuan yang pernah merantau ke Jakarta selama 25 tahun itu, kini malah lebih betah tinggal di Jogja. Tak bisa dipungkiri, sebelum krisis 1998, Sita mengaku Jakarta menjadi kota impiannya.
“Jakarta tampak keren, dinamis, dan sepertinya untuk mengembangkan karier di sana bakal lebih mudah. Pilihan lowongan kerja pun banyak seperti perbankan, manufaktur, bahkan proses rekrutmen di Kementerian dilakukan secara regular,” jelas Sita kepada Mojok, Senin (18/5/2026).
Masalahnya, jika sekarang Sita disuruh kembali atau menetap tinggal di Jakarta, ia memilih ogah, “never! Biarpun gajinya lebih besar,” tegasnya.
Masalah Jakarta yang semakin runyam
Sejak mengadu nasib di Jakarta tahun 1997, Sita mengaku kota itu tak lagi sama. Bukannya berbenah ke arah yang lebih positif, masalah Jakarta justru semakin runyam. Seperti jalanan yang terkenal macet, belum lagi aturan ganjil-genap yang menyulitkan.
“Artinya, harus punya 2 mobil kalau nggak mau pakai transportasi umum yang terkenal penuh sesak,” ujar Sita.
Belum lagi, kondisi lingkungannya yang tak sehat. Sebut saja kualitas udara di sana, dia menempati posisi terburuk keenam di dunia. Sampai sekarang, Selasa (19/5/2026), indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 137 dengan angka partikel halus alias masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Sementara di Jogja, Sita masih bisa mengakses tempat-tempat bernuansa alam dengan mudah. Mau ke gunung ayo; mau ke laut gas! Bahkan pemandangan hijau seperti sawah juga tak sulit didapat.
Jakarta tak menarik jadi tempat tinggal
Begitu pula yang dirasakan Angga saat pindah dari Jakarta ke Jogja di tahun 2021. Dulu, saat kerja di Jakarta, Angga mengaku mudah stres dan gampang capek karena harus bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar jam masuk kerja.
“Di sisi lain, aku harus pulang larut malam demi menghindari jam-jam macet di jalan,” kata Angga.
Senada dengan Angga, Sita berujar kerja di Jakarta artinya harus rela mengorbankan mental. Bahkan untuk berkendara di jalan saja harus dilatih sabar. Belum lagi, menghadapi tukang parkir yang sering minta tarif sambil bentak-bentak.
“Mau nggak mau, warga Jakarta harus berani berjuang, berdebat, kadang-kadang bahkan sampai berantem,” kata Sita.
Saking kerasnya Jakarta, ucap Sita, kembalian Rp500 saja susah didapat. Oleh karena itu, demi menginginkan kualitas hidup yang lebih baik, baik Angga dan Sita memilih keluar dari Jakarta dan pindah ke Jogja.
Menurut Kepala Program Studi Sarjana Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), I Dewa Made Frendika Septanaya, Jakarta kini belum tentu menarik sebagai tempat tinggal jangka panjang, meskipun masih menjadi episentrum ekonomi yang menarik untuk mobilitas sosial.
Sebab, kata dia, terdapat persaingan tenaga kerja yang semakin tinggi dan biaya hidup yang mahal. Menurutnya, Jakarta telah bertransformasi dari kota industri menjadi kota jasa dan teknologi, sehingga tenaga kerja yang dibutuhkan lebih ke spesialis.
“Jakarta tidak lagi mudah dimasuki oleh semua kelompok pencari kerja seperti dekade sebelumnya,” ujarnya dikutip dari Suara Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Jogja dengan segala kebebasan berekspresinya
Selain tidak menarik sebagai tempat tinggal, warga Jakarta juga sudah punya opsi daerah yang menawarkan fasilitas maju seperti Jogja, terutama dalam hal pendidikan. Kota yang mendapat julukan Kota Pelajar itu, kata Sita, selalu menghadirkan kegiatan berkualitas tiap minggunya.
“Banyak sekali kegiatan komunitas yang berkualitas, mahal hingga murah, bahkan kadang gratis. Misalnya, tari klasik kraton, walking trip sejarah, workshop bikin aneka produk, komunitas spiritual, komunitas dog lovers, sepedaan, pecinta museum, komunitas lari,” kata Sita.
“Atau kegiatan akademis dan seni yang berskala Internasional, contohnya symposium Kraton Jogja, agenda di GIK UGM, ART JOG, Prambanan Jazz Festival, Jogja Netpac Film Festival, Royal Orchestra-nya Kraton, sampai pameran rutin di museum. Bahkan di Jakarta saja levelnya masih kecil,” lanjutnya.
Jakarta vs Jogja, siapa yang paling cocok tinggal?
Selain agenda umum seperti di atas, fasilitas publik di Jogja juga tak kalah dengan Jakarta. Sita berujar para orang tua tak perlu khawatir mencarikan anak-anak mereka ke sekolah swasta internasional. Selain pendidikan, fasilitas kesehatan juga tergolong bagus.
“Di sini bahkan ada regular international flight. Kalau ingin ke Singapore atau Kuala Lumpur, ada direct flight. Bandingkan sama Semarang dan Bandung, ribet dan mesti ke Cengkareng dulu,” jelas Sita.
Pada akhirnya, baik Angga dan Sita pun sepakat jika Jogja cocok sebagai tempat pensiunan maupun keluarga yang baru memulai rumah tangga. Namun, bagi orang yang masih mengukur kesuksesan dengan standar kota metropolitan, Kota Jogja mungkin tak akan cocok.
“Bagi yang ukuran suksesnya adalah hidup mindful, bermakna, berempati, menikmati pertemanan berdasar kesamaan minat, frekuensi dan kesadaran, Jogja lah tempatnya,” ujar Sita.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
