Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Ilustrasi - Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Berlagak tajir saat pulang kampung menjadi siasat agar terlihat baik-baik saja di hadapan orang tua. Semata agar orang tua tidak kepikiran dengan kondisi sang anak yang jadi gembel dan remuk-remukan saat di perantauan. 

***

Belakangan ada istilah “orang kaya palsu”, untuk menggambarkan orang-orang yang berlagak kaya demi status soisal di masyarakat. Padahal kondisi finansialnya tidak aman-aman amat. Motifnya lebih ke arah gengsi. 

Namun, ada juga orang yang pura-pura kaya bukan karena ingin pamer ke tetangga. Melainkan demi menenangkan hati orang tua yang kerap kepikiran dengan nasib anak di perantauan. 

Jadi gembel dan hancur-hancuran di perantauan​​

Lewat tengah malam, saat perut keroncongan, alih-alih membeli sebungkus nasi, Andik (26) justru memilih melipir ke toko kelontong Madura. Ia lalu membeli dua bungkus roti Aoka. Bukan semata untuk mengganjal perut, tapi memang sebagai pengganti makan malam itu. 

Kebiasaan itu sudah Hendi lakukan sejak kuliah hingga sekarang kerja dobel-dobel di Surabaya. 

Di pagi hingga sore hari, Andik bekerja sebagai tukang sablon. Ia akan istirahat sejenak di waktu Magrib hingga Isya. Setelah itu ia akan menyalakan aplikasi oranye-nya: mencari orderan pesan-antar makanan hingga lewat tengah malam. 

“Kalau tukang sablon itu upahnya Rp2,5 juta. Jadi tetep harus nyambi jadi driver buat tambahan. Kalau driver memang sudah zaman kuliah,” tutur Andik. 

Sejak di perantauan—sejak kuliah hingga sekarang—Andik memang lebih sering nggembel. Ia tinggal di kos Rp350 ribu. Memang cari yang murah-murahan meski itu artinya tidak menawarkan kenyamanan. 

Rp350 ribu itu, kata Andik, kosongan. Karena eman mengeluarkan uang untuk beli kasur dan lemari. Andik lebih sering tidur beralas sajadah. Sementara baju-bajunya dibeber di atas alas sarung yang tidak terpakai. 

Begitu juga dengan persoalan makan. Sehari-hari ia makan dua kali. Namun itu pun dengan menu tidak pasti. Misalnya, jika siang hari sudah keluar uang makan Rp10 ribu saja, maka malamnya jangan sampai lebih. Begitu juga sebaliknya. 

“Kalau siang makan soto, anggap lah Rp12 ribu. Malamnya cari makan Rp8 ribuan atau makan roti atau mie instan,” kata Andik.

Momen untung jelas ketika salat Jumat. Jatah uang makan berkurang karena ia akan berebut menu makan gratis di masjid. Apalagi saat Ramadan, ia bisa berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk mencari buka puasa gratis. Sebelum ke masjid pun biasanya ia akan melipir terlebih dulu untuk berburu titik-titik bagi-bagi takjil. 

Numpang di kos teman cuma bayar Rp100 ribu

Nasib tidak jauh berbeda juga diceritakan Ratih (26), sarjana yang kerja 15 jam dengan gaji kerdil dan THR cuma Rp50 ribu di Sidoarjo.

Dalam rentang 2022-2024, Ratih bekerja dengan gaji Rp1,8 juta, di sebuah tempat yang tidak mau ia sebut. 

Saat itu, perempuan asal Mojokerto itu, yang baru saja lulus kuliah, memang harus menjadi tulang punggung bagi ibunya yang hidup sebagai single fighters. 

Gaji sekerdil itu dapat apa? Makan sendiri saja tidak cukup. Apalagi untuk lain-lain. Maka, ia gunakan uang tersebut untuk dikirim ke ibu. Sementara ia hanya mengambil sisa-sisanya. 

Untungnya, ia punya seorang teman baik yang memperbolehkannya numpang di kosnya. Sebenarnya ngekos berdua. Tapi karena si teman meminta Ratih hanya membayar Rp100 ribu dari total Rp750 ribu, Ratih lebih suka menyebutnya numpang. 

Lapar melilit di perantauan, tapi bilang sudah kenyang saat orang tua menelepon

Bukan tanpa alasan kenapa Andik memilih nggembel di perantauan. Sebab, sebagian banyak uang yang ia dapat dari kerja sablon, mesti ia kirim ke rumah. Untuk menyokong kehidupan orang tuanya di Bojonegoro, Jawa Timur, yang sehari-hari hanya petani.

Relatif Andik hanya mengandalkan pemasukan dari menjadi driver pesan-antar makanan untuk bertahan hidup. 

“Dulu kuliah sama juga sebenarnya. Jadi aku dapat Bidikmisi (KIP Kuliah), uang dari situ aku bagi juga ke orang tua, walaupun nggak banyak. Makanya dari kuliah udah jadi driver. Tapi sebelum itu sempat juga jaga warkop,” ungkap Andik. 

Sejak kuliah pula Andik terbiasa berbohong kepada orang tuanya di rumah. Setiap orang tua menelepon dan bertanya, “Apakah Andik sudah makan?”, Andik selalu menjawab “Sudah, tadi/barusan.”

“Kujawab kadang nasi goreng, soto, pecel, penyetan. Walaupun sering kali hanya mie instan. Biar mereka nggak kepikiran kalau sebenarnya aku nahan lapar sekali, perut melilit,” ucap Andik. 

Apalagi saat tengah menanti orderan di restoran-restoran tertentu. Bau dapur restoran dan penampakan orang-orang yang tengah menyantap makanan di meja kerap membuat bunyi “krucuk” di perut Andik makin nyaring. 

Capek kerja, berharap tidur nyenyak biar tidak kelaparan 

Sementara Ratih, kerap kali hanya mengandalkan makan siang dan camilan-camilan gratis di tempat kerjanya. Lebih sering makan berat sehari sekali. 

“Kalau teman ada rezeki, biasanya aku dibelikan sesuatu. Dia baik sekali karena kami berteman sudah sejak kuliah. Dia tahu kondisiku,” ungkap Ratih. 

Itulah kenapa Ratih berharap, dari rasa capek yang amat sangat karena kerja hampir 15 jam, ia bisa pulang ke kos dalam kondisi benar-benar kelelahan. Karena dengan begitu, ia bisa tidur dengan nyenyak di kosan. 

Bangun-bangun sudah subuh. Tidak lama kemudian berangkat kerja lagi. Paling tidak, di tempat kerja, sembari menunggu makan siang, ia bisa mengganjal perut dengan camilan yang tersedia. 

Berlagak tajir saat pulang kampung agar orang tua tidak kepikiran

Andik dan Ratih memang jadi seperti gembel di perantauan. Namun, beda soal kalau mereka sudah pulang kampung. Mereka akan berlagak tajir (punya duit banyak). 

Di rumah, Andik berusaha tidak menunjukkan raut susahnya selama di perantauan. Ia justru sangat royal: kerap tiba-tiba membawa martabak dua jenis atau jajanan-jajanan lain untuk disantap bareng orang tua di rumah. Bahkan sesekali juga mentraktir mereka makan di luar. Walaupun dalam kesendirian, Andik kerap mbrebes mili sendiri karena merasa nasibnya tidak kunjung membaik. 

“Kira-kira 2023 lalu. Aku kan menyisihkan uang buat beli tv. Akhirnya aku bli tv buat orang tua. Karena tv di rumah sudah rusak,” ujar Andik. 

Ratih pun sama halnya. Tiap pulang kampung, ia sebisa mungkin tidak akan menunjukkan raut lelahnya. Bahkan ia selalu bilang ke ibunya kalau sejauh ini uangnya alhamdulillah cukup untuk hidup.

“Tapi kalau di kamar sendirian ya nangis sesenggukan, hahaha,” kata Ratih. 

Andik dan Ratih sama-sama tidak ingin orang tua mereka tahu, kalau di perantauan, anak-anak mereka mengalami banyak kesulitan. Mereka tidak ingin orang tua masing-masing kepikiran: lalu membuat orang tua merasa bersalah karena menjadi beban bagi anak-anaknya

“Aku nggak mau mereka beranggapan aku jadi beban mereka. Karena ini wujud baktiku,” pungkas Andik. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 


Exit mobile version