Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia

Gagal daftar CPNS usai lulus Unair, pilih slow living di Bali. MOJOK.CO

ilustrasi - gagal cpns dan pilih kerja di Bali. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Orang tua Mega* (25) barangkali sudah jengkel melihat kegiatan anaknya yang malas-malasan di rumah seperti makan, tidur, dan nonton film. Padahal, mereka tidak tahu perjuangan Mega untuk mencari kerja usai lulus dari Universitas Airlangga (Unair) dan daftar CPNS sesuai keinginan mereka.

Setelah lulus kuliah di Unair pada tahun 2019, Mega tak terhindar dari nasihat orang tuanya untuk segera daftar CPNS. Paling tidak, ayahnya yang juga seorang PNS paham bahwa pekerjaan tersebut lebih terjamin dari segi tunjangan dan gaji.

Karena jengah dengan perintah tersebut, Mega akhirnya mendaftar CPNS dan gagal. Begitu Pula saat ia daftar di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Agar terhindar dari omelan ayah dan ibunya, Mega berusaha mencari kesibukan lain. Tapi tetap saja, omelan dari orang tuanya terus saja menghunjam telinganya.

Terpaksa turuti keinginan orang tua untuk daftar CPNS

Mega bukannya malas-malasan. Ia pun khawatir dengan masa depannya. Dari dulu, ia ingin menjadi independent women seperti yang sering ia lihat di media sosial. Pokoknya, setelah lulus dari Unair, ia ingin dapat duit.

Mega berharap bisa kerja apa saja, asal tidak PNS karena ia tidak suka kerja di bawah pemerintahan. Yang jelas, ia ingin kerja di Jakarta atau Bali. Sebab, ia lebih senang dengan pekerjaan yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang perilaku manusia, budaya, dan sosial, sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya saat kuliah.

“Baik di Jakarta maupun Bali, warganya kayak campur aduk. Nggak hanya orang asli sana, tapi ada orang Jawa, orang dari Timur, bahkan luar negeri. Intinya, semua suku melebur di sana,” kata Mega.

Tapi nyatanya, lulus dari kampus top tak bikin Mega mudah cari kerja. Ia bahkan mengirim minimal 20 lamaran kerja dalam sehari, hingga daftar sebagai management trainee (MT). Namun, dari 5 MT yang ia daftar, tak ada satupun yang menerimanya. 

“Aku kira lulus dari Unair bakal gampang cari kerja gitu kan, secara dia punya nama besar. Nyatanya nggak. Meskipun ada embel-embel universitas top, nggak jamin banget buat kita dapat kerja atau pekerjaan yang memang sesuai impian kita,” kata Mega dihubungi Mojok, Sabtu (11/4/2026).

8 bulan berlalu, Mega masih belum mendapat pekerjaan sesuai minatnya. Ia pun nyaris putus asa karena terlalu lama menganggur. Alhasil, ia mencari pekerjaan asal, misalnya menjadi staff event atau semacamnya. 

Tapi justru dari pekerjaan kecil-kecilan itu lah Mega belajar soal kepemimpinan dan manajemen. Ia bahkan diamanahi sebagai kepala branch manager di kotanya. Namun, pekerjaan itu hanya ia lakoni selama 3 bulan karena gajinya tak sesuai harapan.

Gagal CPNS setelah turuti kemauan orang tua

Karena kembali menganggur, Mega lagi-lagi harus tahan dengan omelan orang tuanya. Apalagi, saat acara kumpul keluarga. Bukannya diapresiasi karena sudah berusaha mencari kerja sampingan, Mega justru dibanding-bandingkan dengan anak tetangga maupun saudaranya.

“Kamu tuh lulusan Unair loh, kenapa nggak masuk CPNS?” tiru Mega saat orang tuanya mulai menyindir, “aku marah banget rasanya, kayak kesal dibanding-bandingin terus,” lanjutnya.

Saking putus asanya mendapat kerja sekaligus jengah mendengar hal itu, Mega pun menuruti permintaan orang tuanya untuk daftar CPNS tapi gagal. Untungnya, Mega punya saudara yang menjadi support system di rumahnya. 

Saudaranya ini juga menyarankan Mega untuk mengikuti MT di salah satu tempat kerjanya. Mega mau-mau saja mengikuti saran tersebut. Ia tak mau tebang pilih. Toh, selama ini ia sudah mengirim ratusan lamaran kerja tapi tak kunjung berhasil.

Masalahnya, Mega tak menyangka kalau tes seleksi MT itu bakal full menggunakan Bahasa Inggris, sementara ia merasa kemampuannya masih kurang. Begitu pula saat wawancara bersama HRD. 

“Akhirnya aku gagal karena cuma bisa komat-kamit. Bahasa Inggrisku compang-camping,” kata Mega.

Bukannya sedih karena gagal, pengalaman itu malah bikin Mega semangat untuk melatih Bahasa Inggrisnya, mengingat mimpinya yang juga ingin kerja di Bali. Dibantu kakaknya, Mega akhirnya les Bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus selama beberapa bulan.

Bisa kerja di Bali dan hidup bahagia

Setelah merasa Bahasa Inggrisnya lancar, Mega akhirnya mencoba daftar kerja di Bali. Beruntung, saat itu ia mendapatkan kesempatan dari kakak tingkatnya Unair yang kerja di bidang perhotelan

“Aku lumayan dekat dengan dia, karena dari SMP sampai kuliah di Unair selalu bareng,” kata Mega.

Pada akhirnya, Mega pun memutuskan untuk merintis kariernya di Bali, dan bekerja di salah satu hospitality business di sana. Ia mengaku lebih bahagia dengan pekerjaannya yang sekarang alih-alih menjadi PNS. 

Ia juga bersyukur karena ilmu yang didapatkan dari Unair tidak sia-sia. Bahkan di Bali, ia bertemu banyak orang yang memiliki perspektif unik. Sesekali ia juga bisa main ke alam, salah satunya pantai, spot favoritnya untuk beristirahat.

“Aku yang dulunya sempat menyesal masuk Unair di jurusan kurang top, sekarang malah bersyukur karena ilmu itu sangat bermanfaat ketika aku kerja di Bali,” kata Mega.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version