Buat kebanyakan mahasiswa perantau, tulisan “Free WiFi” di depan kos adalah fasilitas yang paling dicari. Tapi bagi Vosa (21), embel-embel itu belakangan malah jadi sumber masalah yang tiap malam bikin dia pening.
Vosa adalah seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jogja. Saat ini, ia menyewa sebuah kamar kos di kawasan Demangan, sebuah daerah padat yang menjamur dengan kos-kosan mahasiswa dan pekerja.
Niat awalnya, ia ingin mencari tempat beristirahat yang murah, dekat dengan kampus, dan punya koneksi internet untuk mengerjakan tugas. Sayangnya, realitas yang ia hadapi jauh dari kata tenang.
Jadi tongkrongan “senior” mabar dan berisik sampai pagi
Setiap malam, kos Vosa berubah laiknya warnet gratisan. Sekelompok pemuda, yang bukan penghuni kos, rutin datang. Mereka menggelar tikar, menguasai teras, menyambungkan ponsel ke WiFi kos, dan mulai bermain game online.
Suara umpatan karena kalah bermain, tawa meledak-ledak, hingga kepulan asap rokok menjadi makanan sehari-hari Vosa. Kegaduhan ini biasanya baru berhenti menjelang azan Subuh.
“Itu bikin pening. Bayangin aja, jam sembilan malam kos udah gaduh, pada teriak-teriak sama pukul-pukul tembok. Itu sampai pagi,” kata Vosa, Kamis (23/72026).
Sebagai pihak yang merasa terganggu, insting wajar Vosa tentu ingin menegur. Namun, ada rasa sungkan yang menahannya.
Para tamu berisik ini adalah teman-teman dari tetangga kos Vosa, yang kebetulan berstatus sebagai penghuni lama. Sementara itu, Vosa adalah anak baru. Ia belum genap enam bulan tinggal di sana.
Biasanya, penghuni lama ini merasa sudah jadi “tuan rumah” karena ngekos lebih lama. Rasa senioritas inilah yang seolah jadi tameng buat teman-temannya. Mereka merasa bebas nongkrong dan berteriak semaunya karena merasa di-back up sama si penghuni lama.
“Jadi kebayang kan bagaimana nggak enaknya aku kalau mau negur,” jelasnya.
Sebenarnya, Vosa pernah mencoba memberi teguran halus. Hasilnya? Nihil. Teguran itu hanya dibalas dengan senyum cengengesan, dan keesokan harinya keributan yang sama kembali terulang.
Mau pindah kos tapi dompet pas-pasan
Pertanyaan kemudian muncul: Kalau nggak nyaman, kenapa tidak pindah kos saja?
Faktanya, Vosa sudah mempraktikkan saran tersebut. Kos di Demangan ini bukanlah kos pertamanya di Jogja. Ia sudah berpindah-pindah kos beberapa kali, dan tebak apa yang terjadi? Ia selalu menemui masalah yang sama.
Usut punya usut, alasannya sangat klasik dan mentok di satu hal: isi dompet yang pas-pasan
Bagi mahasiswa dengan uang saku pas-pasan, mencari kos murah dengan fasilitas WiFi sudah menjadi kebutuhan mutlak. Masalahnya, kos-kosan di kelas harga ini memang cenderung longgar soal aturan jam malam dan penerimaan tamu. Bapak atau ibu kos biasanya tinggal di rumah yang berbeda, jarang mengontrol keadaan.
Vosa sadar, jika ia ingin mendapatkan ketenangan, solusinya adalah pindah ke kos eksklusif atau kos dengan aturan jam malam yang ketat. Namun, harga sewa kos dengan fasilitas dan ketertiban seperti itu bisa dua kali lipat lebih mahal. Dompetnya jelas tidak akan sanggup.
“Aku tidak sekaya itu buat seenaknya pindah-pindah kos.”
Memilih ngungsi ke kos teman demi ketenangan
Sadar posisinya serba salah–cuma anak baru dan uangnya pas-pasan–Vosa akhirnya memilih ngalah. Daripada capek hati nyari ribut sama tetangga, ia mengambil jalan tengah yang sebenarnya malah bikin dia rugi sendiri.
Kini, setiap kali tumpukan tugas kuliahnya menggunung, Vosa tidak pernah mengerjakannya di kamar. Suara teriakan tamu tetangganya membuat ia mustahil bisa fokus.
“Aku milih keluar aja, nugas di kafe,” ujarnya.
Apesnya lagi, pengeluaran Vosa malah jadi boros. Sudah bayar kos yang ada fasilitas WiFi-nya, tapi masih harus jajan kopi di luar biar bisa belajar tanpa gangguan. Sinyal WiFi kos malah dinikmati tamu tak diundang, sedangkan dia yang bayar kamar justru keluar duit dobel.
Puncaknya waktu Vosa harus ujian pagi dan butuh tidur nyenyak. Sadar kamarnya bakal berisik sampai subuh, dia akhirnya kemas-kemas baju ganti. Malam itu, Vosa mengalah. Ia mengungsi dan numpang tidur di kos temannya demi bisa istirahat tenang.
“Intinya jadi wong kalahan aja. Nggak apa-apa mengalah daripada konfrontasi malah jadi konflik besar,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
