Bandung adalah kota yang problematik. Penuh dengan masalah kronis yang seolah dibiarkan saja oleh pemerintahnya dan bikin anak mudanya frustrasi. Satu-satunya hal yang bisa mereka banggakan dan menjaga kewarasan adalah Persib.
***
Harus saya akui, dulu saya sempat terjebak dalam romantisme Bandung sebagai kota yang indah dan nyaman ditinggali. Wajar saja, sudut pandang saya adalah sebagai turis.
Seumur hidup, saya baru tiga kali menginjakkan kaki di Bandung. Itu pun tidak pernah tinggal lama, hanya kunjungan singkat dua atau tiga hari karena ada acara tertentu atau menonton konser musik.
Bagi pendatang yang cuma singgah sebentar, Bandung memang terasa menyenangkan. Udara sejuk (di beberapa daerah atas), banyak kafe “lucu”, dan anak muda yang saya kenal juga ramah.
Namun, ilusi itu pelan-pelan luntur setelah saya banyak mengobrol dengan kawan-kawan yang lahir dan besar di sana. Dari cerita mereka, mata saya terbuka bahwa Bandung ternyata kota yang cukup problematik.
Bagi kawan-kawan yang menaruh perhatian pada isu perkotaan, tata ruang Bandung menyimpan sisi gelap berupa penggusuran yang brutal. Kasus Tamansari dan Dago Elos adalah bukti nyata bagaimana ruang hidup warga direbut paksa demi dalih penataan kota dan kepentingan komersial. Estetika yang dinikmati turis rupanya dibangun di atas tangisan sebagian warganya.
Namun, bagi warga kelas pekerja pada umumnya, masalah Bandung tidak berhenti pada konflik lahan. Kota ini menyimpan penyakit kronis yang membuat warganya menderita setiap hari.
“Tua di jalan” karena transportasi umum amat jelek
Masalah kronis Bandung, salah satunya diungkapkan Awan (27), seorang pekerja swasta asli Kota Kembang. Keluhan pertamanya adalah soal transportasi publik.
Bagi warga lokal, hidup di Bandung berarti harus rela tua di jalan. Transportasi umum masih sangat terbatas, angkot mulai ditinggalkan tapi penggantinya belum memadai. Alhasil, ojek online pun jadi satu-satunya andalan.
“Coba tanya ke mahasiswa yang pada kuliah di sini. Kalau nggak punya motor sendiri, ya susah, karena transportasi publik memang sejelek itu,” kata Awan, Sabtu (23/5/2026).
Awan menambahkan, penderitaannya memuncak setiap akhir pekan tiba. Ketika warga lokal ingin istirahat atau keluar rumah, kota mereka justru “diinvasi” oleh lautan kendaraan berpelat luar kota.
Ujung-ujungnya, warga lokal lebih memilih mengurung diri di rumah ketimbang harus stres menghadapi macet.
Uneg-uneg Awan bukan isapan jempol. Berdasarkan laporan lembaga navigasi global TomTom Traffic Index 2024, Bandung resmi dinobatkan sebagai kota termacet nomor satu di Indonesia, mengalahkan Jakarta. Sementara di tingkat global, kemacetan Bandung menduduki peringkat ke-12 dunia.
“Minimal orang Jakarta masih enak, macet tapi transportasi publiknya memadai. Banyak opsi. Lah kami, busuk banget.”
Banjir di Bandung jadi masalah menahun
Banyak quotes berseliweran bilang, “hujan di Bandung itu terasa syahdu dan romantis.” Namun, bagi Awan, mendung gelap saja sudah terasa ancaman, apalagi hujan.
“Kalau di Bandung hujan deras agak lama sedikit, mending nggak usah ke mana-mana, pasti ada jalan yang tenggelam,” keluh Awan.
Faktanya, Bandung memang punya masalah tata kota yang semrawut. Salah satu ironi terbesar ada di kawasan Gedebage, Bandung Timur.
Kawasan yang dulunya rawa dan resapan air ini disulap habis-habisan menjadi pusat keramaian baru. Mulai dari Stadion GBLA, Masjid Al-Jabbar, sampai stasiun kereta cepat.
Sayangnya, pembangunan megah itu tidak dibarengi dengan sistem drainase yang memadai. Hasilnya, setiap musim hujan, kawasan Gedebage rutin berubah menjadi kolam raksasa yang melumpuhkan lalu lintas di sekitarnya.
“Bandung Lautan Sampah”
Masalah lain yang bikin Awan sering merasa malu dengan kotanya sendiri adalah pengelolaan sampah. Bandung seolah hanya bersih di titik-titik wisata.
Begitu masuk ke area permukiman atau jalan-jalan raya tertentu, tumpukan sampah mudah sekali ditemukan.
Data dan rekam jejak pemerintah membuktikan betapa rentannya kota ini. Bandung Raya sangat bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang sebenarnya sudah kelebihan kapasitas (overload) sejak bertahun-tahun lalu.
Puncaknya pada pertengahan 2023, saat TPA Sarimukti kebakaran, sistem pengangkutan sampah di Bandung langsung lumpuh total. Status darurat sampah ditetapkan, dan warga dipaksa hidup berdampingan dengan gunungan sampah yang membusuk di sudut-sudut kota.
Persib, penyelamat kewarasan anak mudanya
Di tengah semua rasa frustrasi menghadapi macet, banjir, dan bau sampah, lantas apa yang membuat orang Bandung tetap bertahan dan mencintai kotanya?
“Kalau bukan karena Persib, Bandung itu overrated,” kata Awan sambil tertawa getir. “Sumpah, mending jangan pernah bercita-cita tinggal di sini.”
Bagi Awan dan jutaan warga lokal lainnya, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Persib adalah oase di tengah kacaunya tata kelola kota.
Ketika pemerintah gagal memberikan kenyamanan hidup bagi warganya, sepak bola mengambil alih peran tersebut. Bagi Awan, Persib menjadi simbol kebanggaan yang belum direbut dari mereka.
Lebih dari itu, kecintaan pada klub ini menjadi “perekat” sosial yang sangat kuat bagi anak mudanya, menghidupkan kolektif-kolektif suporter dan pertemanan yang solid di gerakan.
Jika kita melihat linimasa X baru-baru ini, narasi yang Awan sampaikan juga bergema sangat keras. Setelah Persib secara resmi menjuarai Liga 1 untuk ketiga kalinya secara beruntun, banyak warga Bandung yang menyuarakan hal yang sama.
Mereka terang-terangan mencuitkan bahwa kemenangan Persib adalah satu-satunya pelipur lara yang membuat mereka bisa melupakan sejenak kacaunya hidup di kota ini.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kecamatan Gedebage Bandung Rusak karena Salah Urus Pemerintahnya, Warga Menderita oleh Banjir dan Bau Busuk Sampah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
