Di tengah sempitnya lahan belajar bagi anak di Jogja, terdapat sebuah daycare yang menyediakan fasilitas umum bermain anak. Tak hanya itu, daycare yang berdiri sejak tahun 2012 ini juga menjamin pendidikan untuk anak baik dari segi akademik maupun akhlak. Ialah Alifa Moslem Babypreneur Daycare.
***
Sebuah utas di Threads menarik perhatian warga Jogja. Bunyinya begini, “Kota Jogja itu salah satu kota besar yang menurut saya minim sekali ruang terbuka hijau (RTH) alias satu titik yang banyak pepohonannya. Beberapa kota besar punya lho semacam Hutan Kota,” ucap @fasius.anggit diunggah Kamis, (23/4/2026).
Sebagian komentar bahkan menyetujuinya. Desti misalnya, ia sangsi jika Wisdom Park Universitas Gadjah Mada (UGM) dijadikan salah satu RTH milik pemerintah kota. Padahal menurutnya, RTH mestinya ada di setiap kecamatan.
Berdasarkan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI pada 12 Juni 2025, Pemerintah Kota Jogja memang berencana menambah RTH publik berbasis kampung. Mengingat total persentase RTH di Kota Jogja masih mencapai 23,351 persen. Padahal, secara aturan idealnya adalah 30 persen.
RTH seperti taman kota atau taman bermain anak penting dalam tata ruang kota yang berkelanjutan. Menurut Unicef dalam laman resminya, ruang hijau membantu perkembangan optimal anak. Masalahnya, sebagian anak sekarang jarang bermain di luar ruangan karena kurangnya RTH seperti di Jogja.
Maka, salah satu pilihan yang bisa membantu orang tua adalah membawa anak-anaknya ke daycare. Terutama daycare yang memiliki fasilitas bermain (RTH privat) menjanjikan dan terpercaya. Adanya daycare juga membantu para orang tua yang harus bekerja dan bingung mau menitipkan anaknya ke mana.
Fasilitas dan pembina yang menjanjikan
“Bisa dibilang Alifa Daycare adalah solusi untuk orang tua bekerja, tidak khawatir soal jam antar-jemput karena buka dari 6.45 WIB sampai 18.00 WIB pada Senin sampai Jumat. Sementara Sabtu di jam 7.00 WIB sampai 16.00 WIB. Semua karyawan ramah dan fast respon,” kata Kunthi Prawidyasari, salah satu orang tua yang menitipkan anaknya di Alifa Moslem Babypreneur Daycare Pandega Marta.
“Jadwal kegiatan dan makan harian selalu dibagikan, ditambah fasilitas pemeriksaan dokter rutin dan kegiatan pendukung lain seperti mengaji dan outing class,” lanjutnya.

Selain sebagai tempat penyelamat bagi orang tua yang bekerja, Cici, salah satu orang tua yang menitipkan anaknya di Alifa Moslem Babypreneur Daycare, merekomendasikan tempat tersebut karena konon semua pendampingnya merupakan perawat dan bidan. Serta fasilitas yang bagus. Oleh karena itu, Cici merasa yakin menitipkan anaknya di sana.
“Dengan biaya kurang lebih Rp2,1 juta untuk fasilitas fullday. Daycare ini juga menawarkan berbagai layanan premium seperti laporan harian dengan buku kendali dan grup WhatsApp aktif, stimulasi bayi, baby gym ball, baby spa, dan lainnya,” ujar Cici.
Alifa Daycare di Jogja muncul karena realita orang tua bekerja
Pemilik Alifa Moslem Babypreneur Daycare, Nurul Esturina Ratna Subekti bercerita awalnya ia mendirikan sebuah Taman Kanak-kanak (TK) dan playgroup guna memberikan pendidikan anak berbasis akademik dan akhlak.
Ternyata, banyak orang tua datang dan membawa anak-anaknya yang mayoritas usia di bawah 2 tahun untuk sekolah. Melihat keresahan itu, Nurul dan suaminya akhirnya membuka daycare guna membantu para orang tua yang harus bekerja.
“Tentu waktu itu belum ada frame dan tidak bisa kami terima. Kemudian, saya bersama suami akhirnya menginisiasi untuk mendirikan daycare,” kata Nurul saat dikonfirmasi Mojok, Sabtu (25/4/2026).
Nurul sendiri mencintai dunia pendidikan anak bersama suaminya, walaupun Nurul lebih lama berkutat di dunia perbankan sedangkan suaminya memiliki latar belakang teknik. Namun, ia aktif menulis soal kisah anak di daycare dan parenting.
Kegiatan Alifa Moslem Babypreneur Daycare, kata Nurul, dimulai dari sarapan, bersih-bersih bahkan kalau perlu mandi bagi yang belum, lalu tidur siang. Sementara, untuk kegiatan ekstra berupa karate, musik, dan mendengarkan cerita atau dongeng.
“Karena sebetulnya anak usia dini itu belum terfokus untuk mengasah bakat tapi kami memperkenalkan mereka lebih dulu dengan banyak hal di dunia. Bahkan mengenalkan soal makanan. Dari yang mungkin nggak suka sayur, sekarang suka,” jelas Nurul.
Nurul menegaskan daycare sejatinya memiliki peran sebagai jembatan antara keluarga yang barangkali tidak bisa berkumpul atau kesulitan berkomunikasi dengan anak mereka, maka di daycare-lah mereka seharusnya bisa menjalin kembali hubungan yang lebih baik.
“Peran kami adalah mendampingi bukan menggantikan orang tua alias mitra bagi mereka,” kata Nurul.
Kini, Alifa Moslem Babypreneur Daycare telah membuka 9 cabang di Jogja, 3 cabang di Bandung, dan 1 cabang di Purwokerto. Setiap cabangnya menampung sekitar 30-50 anak mulai dari baby new born yang baru berusia 2 bulan hingga usia 4 tahun.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














