Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 Februari 2026
A A
papua.MOJOK.CO

Ilustrasi Papua (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Deky menolak kesempatan bekerja di Amerika Serikat serikat demi mengabdi ke tanah kelahirannya di Papua. Ia ingin memajukkan pendidikan di wilayah yang selama ini dinomorduakan tersebut.

***

Bayangkan, kamu baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Arizona State University (ASU), salah satu kampus ternama di Amerika Serikat. Di depan mata, tawaran karier sebagai pengajar di Negeri Paman Sam sudah menanti dengan segala fasilitas digital yang serba canggih dan kenyamanan hidup yang terjamin. 

Namun, di tengah gemerlap itu, ingatan Anda justru melayang jauh ke sebuah distrik terpencil di Kabupaten Puncak, Papua.

Itulah gejolak yang dihadapi oleh Medelky Anouw. Pria yang akrab disapa Deky ini adalah seorang putra asli Papua yang berhasil menaklukkan kerasnya pendidikan internasional.

Namun, alih-alih menetap dan mengejar kemapanan di luar negeri, Deky memilih jalan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap “mundur”. Ia memilih pulang ke kampung halaman di pelosok Papua.

Perjuangan dari Beoga ke Arizona

Lahir dan besar di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, perjalanan pendidikan Deky tidaklah bertabur kemudahan. Ia tumbuh di daerah yang secara geografis sangat menantang. 

Kehilangan sosok ayah saat masih menempuh studi S1 sempat menjadi pukulan berat baginya. Namun, duka itu tidak membuatnya berhenti. Dengan dukungan keluarga, ia terus melangkah.

Ambisi Deky untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tanah kelahirannya membawanya mengejar beasiswa LPDP. Jalan menuju Amerika pun tidak instan. Deky harus jatuh bangun mengejar skor IELTS sebagai syarat bahasa Inggris.

Selama sembilan bulan ia bergelut dengan buku dan latihan soal, menolak untuk menyerah meski berkali-kali gagal mencapai target. 

“Yang paling penting adalah saya tidak menyerah,” kenangnya singkat. Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil; ia diterima di jurusan Kimia, Arizona State University.

Kontras teknologi di Amerika dan Papua

Selama di Amerika, Deky melihat bagaimana teknologi dan fasilitas pendidikan bisa membuat proses belajar menjadi begitu mudah.

Namun, setiap kali ia melihat kemajuan itu, ia teringat pada sekolah-sekolah di pelosok Papua yang bahkan untuk mendapatkan buku teks saja sulit.

Ia menyadari bahwa jika semua orang pintar dari Papua memilih tinggal di luar negeri atau di kota besar, lalu siapa yang akan membenahi pendidikan di sana? 

Iklan
papua.MOJOK.CO
Foto Medelky Anouw alias Deky. Ia menolak kesempatan bekerja di Amerika Serikat serikat demi mengabdi ke tanah kelahirannya di Papua. (dok. Istimewa)

Kesadaran inilah yang menguatkan tekadnya untuk menolak tawaran mengajar di AS. Ia ingin membawa ilmu yang ia dapatkan untuk menyentuh langsung anak-anak di tanah kelahirannya.

Menyederhanakan sains dengan kearifan lokal Papua

Kini, Deky menjabat sebagai Plt Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan di Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire. Namun, jangan bayangkan Deky hanya duduk manis di balik meja kantor yang nyaman. Sebagai seorang mantan guru kimia, jiwanya tetaplah seorang pendidik.

Deky punya cara unik dalam mengajar sains. Ia percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terasa asing bagi anak-anak Papua. Baginya, sains harus diajarkan dengan bahasa sehari-hari dan menyentuh realitas hidup mereka.

“Kami langsung tunjukkan penjumlahan lewat hal-hal yang biasa mereka lihat. Misalnya ubi, wortel, atau benda-benda lain di lingkungan mereka sebagai alat peraga,” cerita Deky. 

Dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar, anak-anak tidak lagi menganggap kimia atau matematika sebagai momok yang menakutkan, melainkan bagian dari hidup mereka sendiri.

Memastikan bantuan pendidikan sampai di tangan yang tepat

Tugasnya di Dinas Pendidikan Nabire juga membawanya kembali ke medan-medan sulit. Untuk memastikan bantuan pendidikan dan beasiswa sampai ke tangan yang tepat, Deky seringkali harus terbang menggunakan pesawat perintis kecil, menembus cuaca yang tidak menentu dan mendarat di lapangan rumput di tengah pegunungan.

Ia turun langsung ke lapangan bukan sekadar untuk formalitas. Deky ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisi guru dan murid di sekolah-sekolah terjauh. 

Ia ingin memastikan bahwa dana pendidikan yang dikelolanya tidak hanya habis di atas kertas, tapi benar-benar berubah menjadi fasilitas yang layak bagi anak-anak Papua.

Baginya, transparansi dan pemerataan akses adalah kunci. Ia tidak ingin ada anak berbakat yang kehilangan kesempatan sekolah hanya karena mereka tinggal di daerah konflik atau wilayah yang sulit dijangkau.

Percaya anak-anak Papua juga punya potensi

Kisah Medelky Anouw adalah pengingat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari keputusan sederhana untuk “pulang”. Deky menunjukkan bahwa gelar tinggi dari luar negeri bukanlah sekadar aksesori untuk meningkatkan status sosial, melainkan alat untuk memberikan dampak yang lebih besar.

Di tengah segala keterbatasan fasilitas dan tantangan keamanan di beberapa wilayah Papua, Deky tetap optimis. Ia percaya bahwa anak-anak Papua memiliki potensi yang sama besarnya dengan anak-anak di Amerika, asalkan mereka diberi kesempatan dan bimbingan yang tepat.

Langkah kecil Deky di Nabire mungkin belum mengubah wajah pendidikan nasional secara instan. Namun, bagi anak-anak di pelosok yang kini bisa melihat guru mereka membawa ubi sebagai alat peraga sains, atau bagi mereka yang mendapatkan akses sekolah berkat dana yang tersalurkan dengan benar, kehadiran Deky adalah secercah cahaya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Upaya Petani di Papua Kembangkan Bisnis Parfum Kelas Dunia, hingga Dilirik Brand Ternama seperti Chanel dan Hermes atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2026 oleh

Tags: kesenjangan di papuaPapuapapua pegununganpendidikan di papua
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO
Otomojok

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
Rugi Buka SPBU di Papua? DPR Bisanya Cuma Omong Kosong MOJOK.CO
Esai

Rugi Buka SPBU di Papua? Kalau DPR Menantang, Korporasi Bisa Menantang Balik karena DPR Cuma Bisa Melempar Retorika

3 Oktober 2025
Sejarah Indonesia Berisi Kekerasan dan Negara Paksa Kita Lupa MOJOK.CO
Esai

Sejarah Indonesia Berisi Luka yang Diwariskan dan Negara Memaksa Kita untuk Melupakan Jejak kekerasan itu

30 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
Tips Mengelola Gaji Jakarta yang Kelihatan Besar tapi Cuma Ilusi MOJOK.CO

Tips Mengelola Gaji Jakarta yang Kelihatan Besar, tapi Nyatanya Bisa Bikin Pusing kayak Gaji Jogja yang Tiarap Itu

12 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.