Bermodal ijazah kuliah dan gelar sarjana nyatanya tak membuat Lily (23) mudah mencari pekerjaan, apalagi dia berasal dari kampus swasta dengan Jurusan Manajemen Dakwah. Jurusan yang dianggap kurang mentereng di kalangan siswa sekolahnya pada saat itu.
Namun, pilihan itu tidak diambil secara asal-asalan. Sejak SMA, Lily memang sudah ingin masuk jurusan tersebut karena setelah dia cari tahu, Jurusan Manajemen Dakwah menawarkan peluang karier yang luas di sektor publik, khususnya di bidang sosial.
Dia pun menggabungkan hal itu dengan minatnya di bidang pendidikan, mengingat pengalamannya mengajar anak-anak di sebuah lembaga sosial. Dari sana, ada satu pengalaman berharga yang masih dia ingat sampai sekarang.
Tamparan dari seorang anak yang tak bisa sekolah
Sebagai anak tunggal, Lily selalu diajarkan orang tuanya untuk mandiri dan menjadi perempuan yang tahan banting, apalagi dia sadar bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga yang berada. Guna mencukupi kebutuhannya sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai tukang tambal ban sementara ibunya merupakan pekerja rumah tangga.
Meski terimpit ekonomi dan bukan dari keluarga yang berpendidikan tinggi, ibunya selalu berpesan kepada Lily agar tidak lupa berbuat baik dalam segala kondisi.
Maka dari itu, semasa SMA, Lily sudah aktif mengajar di sebuah lembaga sosial walaupun dengan upah yang tak seberapa. Terlebih, ada satu peristiwa berharga yang mungkin tak akan dia dapatkan di luar sana.
“Dulu, ada salah satu siswa kelas 1 SD yang nggak sekolah dan belum bisa baca. Bahkan, untuk mengobrol dengan orang saja dia masih terbata-bata. Sampai akhirnya dia sering absen dan aku dapat kabar kalau dia meninggal,” ucap Lily tersendat di ujung kalimatnya.
“Aku merasa bersalah nggak bisa memahami dia. Aku baru tahu, kalau selama ini dia tidak tinggal dengan orang tuanya. Wajar kalau dia jadi tertinggal dengan anak-anak sebayanya. Rasanya aku gagal jadi orang dewasa,” lanjutnya berkaca-kaca.
Peristiwa itu membuat Lily seolah tertampar. Bahkan sampai sekarang, Lily masih rutin mengunjungi makam anak tersebut. Sekadar untuk mendoakan, sekaligus mengingat visinya.
“Kejadian itu memotivasiku untuk membuat daycare atau lembaga belajar,” ujar Lily yang akhirnya mendaftar di Jurusan Manajemen Dakwah.
Mantab memilih Jurusan Manajemen Dakwah
Sejak saat itu, Lily memutuskan kuliah di kampus swasta Jurusan Manajemen Dakwah dengan tekad mendirikan daycare maupun lembaga kursus yang mengedepankan pendidikan moral. Bahkan saat kuliah, Lily sudah membuat kursus belajar kecil-kecilan dan merekrut beberapa temannya untuk mengajar.
Namun, setelah beroperasi sekitar 4 tahun, usaha itu akhirnya tutup karena Lily terserang penyakit kronis beberapa hari setelah dia lulus kuliah. Perempuan asal Surabaya itu tak pernah membayangkan tubuhnya akan tumbang seketika.
“Aku merasa sudah makan dengan teratur, nggak pernah aneh-aneh. Tapi mungkin jarang tidur karena semuanya kulakukan sendiri. Apalagi ibuku juga sakit pada saat itu,” kata Lily.
Karena itu, dokter memintanya istirahat penuh. Dia pun harus menjalani pengobatan hampir satu tahun. Namun, Lily tak hanya berdiam diri. Dia tetap mencari pekerjaan seperti teman-temannya yang baru lulus.
“Dari kecil aku nggak pernah dimanja sama ayah dan ibuku. Bahkan hal sekecil masukin motor ke dalam rumah aja, harus aku lakukan sendiri. Ayahku pernah nyeletuk ‘engkok lak aku mati sopo sing nulungi? (nanti kalau aku meninggal, siapa yang akan menolong kamu?)’,” kata Lili mengingat nasihat ayahnya, Trisno.
Gelar S1 Manajemen Dakwah dianggap tak berharga
Dalam kurun waktu 5 bulan, Lily berhasil mengirim ratusan lebih lamaran kerja, tapi tak sampai 5 perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara. Bahkan beberapa di antaranya hanya panggilan bodong.
“Waktu wawancara responsnya positif, bahkan dia bilang mau menerima aku tapi ternyata PHP. Beberapa bulan setelahnya aku nggak dapat info apa-apa. Tiba-tiba mereka menghilang gitu aja,” jelas Lily bersungut-sungut.
“Bahkan sebelum itu mereka juga bilang mau menahan ijazahku sebagai jaminan, tapi aku menolak. Suamiku juga mengingatkan agar aku waspada, takut itu cuma modus,” lanjutnya.
Lebih dari itu, Lily juga memprotes syarat yang diajukan perusahaan. Misalnya, jurusan yang harus relevan dengan jabatan yang diinginkan. Sementara, sebagai alumnus manajemen dakwah, Lily merasa tidak diuntungkan.
“Beberapa kali aku daftar sebagai HR tapi tentunya mereka cari alumni di bidang psikologi yang memahami Sumber Daya Manusia (SDM). Jadi menurutku, mereka terlalu saklek (kaku) mencari kandidat,” ucapnya.
Padahal, Lily merasa apa yang dia pelajari di Jurusan Manajemen Dakwah tidak terlalu bertentangan dengan bidang pekerjaan yang ingin dia geluti. Dan yang lebih tidak masuk akal, kata dia, adalah syarat pengalaman kerja untuk lulusan baru.
“Mereka ingin fresh graduate tapi syarat pengalaman kerja minimal 1-2 tahun. Walaupun aku punya pengalaman mendirikan kursus, sepertinya itu belum cukup. Belum lagi, tantangan AI saat ini,” kata Lily.
Alumnus Manajemen Dakwah tak bisa disepelekan
Namun, Lily tak menyerah. Berkat ibunya yang selalu menerapkan pola pikir positif, Lily pun jadi anak perempuan yang dewasa. Hingga akhirnya, Februari 2026 lalu, Lily akhirnya mendapat panggilan kerja sebagai Trial Class Manajer (TCM) di sebuah sekolah internasional seiring dengan kondisinya yang perlahan pulih.
Dalam prosesnya, Lili harus melalui beberapa tahapan. Mulai dari seleksi berkas, wawancara bersama Human Resources (HR), wawancara dengan Supervisor (SPV), pelatihan selama 2 minggu, hingga quality control yang ditotal waktunya bisa sampai 2 bulan.
Pada tahap terakhir, Lily mengaku nyaris gagal karena kendala laptopnya yang usang dan mengharuskan dia pakai laptop teranyar, padahal dia tidak punya tabungan saat itu. Beruntung, suami Lily yang akrab dipanggil Japp mendorongnya untuk membeli laptop baru.
“Dia bantu meyakinkan aku untuk beli laptop baru dan percaya bahwa aku bisa. Dia juga yang selalu mendukungku bahkan sejak aku didiagnosis sakit dan belum diterima kerja. Alhamdulillah, berkat dukungan dia dan berbagai sunnatullah yang aku jalani, akhirnya aku diterima,” kata lulusan Manajemen Dakwah tersebut.
Meski begitu, Lily tak berhenti mengubur mimpinya untuk mendirikan daycare atau lembaga kursus. Dia ingin “menyelamatkan” lebih banyak anak yang masih tak bisa bersekolah yang seharusnya diberikan negara secara menyeluruh.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Meski Ditempa Sakit Kronis hingga Ditolak 500 Lamaran Kerja, Ibu Tak Pernah Ajarkan Saya untuk Menyerah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
