Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Merawat Festival dan Jalan Menghidupkan Budaya Lokal

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
26 Juni 2024
A A
Kusen Alipah Hadi, Pangeran Festival yang Lihai Mengubah Peristiwa Menjadi Acara .MOJOK.CO

Ilustrasi Kusen Alipah Hadi, Pangeran Festival yang Lihai Mengubah Peristiwa Menjadi Acara (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada banyak cara untuk merawat budaya lokal yang amat beragam. Salah satu caranya adalah melalui festival.

Bicara soal festival, ia tak hanya soal bersenang-senang. Di dalamnya, ada proses saling tukar gagasan antarwarga. Dalam sebuah festival pula, semua masyarakat bisa berperan, bergotong-royong dalam merayakan sebuah peristiwa kebudayaan.

Iklan

Proses inilah yang oleh antropolog dan praktisi manajemen seni, Kusen Alipah Hadi (49) sebut sebagai “pelumbungan”. 

Istilah ini berasal dari kata dasar “lumbung”, yang berarti tempat penyimpanan pangan (padi) yang dikelola secara kolektif oleh warga. 

Menurut Kusen, sebenarnya istilah pelumbungan muncul sekadar untuk menamai kerja kolektif tadi, yang sudah lama eksis tapi belum ada definisi yang pas buat menamainya.

“Di masyarakat ‘kan kerja-kerja kolektif yang belakangan kita sebut ‘pelumbungan’ ini sebenarnya sudah berjalan melalui tradisi-tradisi warga. Misalnya yang masih eksis itu bersih desa, di mana semua warga berkontribusi,” kata Kusen saat berbincang dengan Kepala Suku Mojok Puthut EA dalam acara Putcast, Rabu (26/6/2024).

“Paling sederhana kalau ada mantenan (pernikahan) saja. Itu kan yang terlibat semua warga, bergotong royong buat menyongsong acara,” lanjutnya.

Menghidupkan tradisi lokal

Di banyak daerah, kerja-kerja pelumbungan sebenarnya sudah eksis dan menjadi tradisi yang turun temurun. Hanya saja, gaungnya sedikit redup karena masih kurang acara-acara yang bisa menghidupkannya lagi.

Bagi Kusen, buat menghidupkannya lagi maka festival adalah cara yang ideal. Alasannya, dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, elemen yang paling menarik sekaligus penting dalam upaya memajukan budaya adalah pada aspek kesejahteraan.

“Nah, festival, adalah cara buat menjawab persoalan tersebut, karena selain edukatif di dalamnya juga ada kegiatan-kegiatan yang bisa menyokong perekonomian rakyat,” jelasnya. “Di dalam kegiatan kolektif itu ‘kan mulai dari penjual cilok, orang memasak, anak-anak yang dianggap bikin darah tinggi orang tuanya, semua bisa berperan, bertukar gagasan. Sudah seperti sekolah bagi orang banyak,” sambungnya.

Setidaknya, Kusen sudah beberapa kali membuktikannya. Bersama Koalisi Seni Indonesia (KSI), ia telah membuat beberapa festival di berbagai daerah. Seperti Pasa Harau Arts and Culture Festival di Sumatera Barat, Festival Panen Kopi Gayo di Aceh, Festival Padang Melang, dan lain sebagainya.

Melalui festival-festival tersebut, Kusen menyadari betul bahwa sebenarnya masyarakat cuma perlu diberi sedikit pembekalan terkait manajemen acara. Sebab, secara pondasi–seperti bekerja secara kolektif, gotong royong, dan sebagainya–ia sudah melekat dalam tradisi masyarakatnya.

Pengalaman di Pasa Harau, festival sukses berkat kerja kolektif

Kusen menyadari betul bahwa pelumbungan atau kerja kolektif merupakan kunci sukses dalam membuat sebuah festival. Di Pasa Harau, salah satu tempat festival yang paling berkesan baginya, Kusen menyebut kalau muda-mudinya turut aktif dalam menyukseskan acara.

Kusen Alipah Hadi, Pangeran Festival yang Lihai Mengubah Peristiwa Menjadi Acara.MOJOK.CO
Kusen Alipah punya banyak kesan selama ia membuat festival di berbagai daerah (Mojok.co)

Sedikit cerita, alasan Kusen dan kawan-kawan koalisi memilih Pasa Harau untuk dibuat festival karena dua hal. Pertama, lokasinya strategis dan mudah diakses. Daerah ini menjadi jalur penghubung Pekanbaru dengan Sumatera Barat, sehingga selama 24 jam dilintasi para pengendara.

Iklan

Alasan kedua, di Pasa Harau juga ada objek yang punya nilai historis. Di lokasi yang nantinya dipilih buat menyelenggarakan festival, terdapat foto-foto yang menunjukkan kalau di sana pernah jadi tempat piknik orang-orang Belanda.

Sayangnya, kata Kusen, tempat tersebut mulai tak terurus. Masyarakatnya pun mulai malu buat piknik ke sana lagi meskipun pemandangan alamnya mempesona. Alhasil, dibuatlah Pasa Harau Arts and Culture Festival yang menyajikan berbagai seni pertunjukan tradisi, musik, dan kontemporer pada 1-3 September 2023 lalu. 

“Kalau boleh jujur, sebenarnya pemuda di sana itu punya aset dan perencanaan untuk bikin festival, tapi di skill tata kelolanya nggak ada. Makanya, kami dari koalisi seni inilah yang tugasnya mengadvokasi, menjadi penghubung, mengajari tata kelola. Sisanya mereka yang mengerjakan.”

Festival yang bikin masyarakat kembali bergeliat

Festival di Pasa Harau sendiri diinisiasi dengan semangat gotong-royong. Hampir semua komponen warga Harau terlibat dengan menyumbang tenaga, pemikiran, bahkan material untuk penyelenggaraan festival.

Namun, yang begitu membekas bagi Kusen adalah kesan setelah acara. Selain membekali para pemudanya dengan kemampuan melihat peristiwa menjadi acara, festival tadi juga bikin jejaring masyarakat Harau dengan luar jadi menguat.

“Pasa Harau ini sebenarnya strategis, dekat dengan kota besar lain, tapi tak punya koneksi. Makanya pekerjaan kami adalah membuat koneksi ke luar,” jelas Kusen.

“Karena koneksi itu kemudian Pasa Harau jadi lebih bergeliat. Tentu itu di luar ekspektasi kami,” sambungnya.

Hal serupa juga ia rasakan ketika menginisiasi Festival Panen Kopi Gayo di Aceh. Semula, festival ini diadakan untuk merespons keprihatinan harga kopi gayo di tingkat petani yang sangat rendah. Maka dari itu, festival ini dibikin sebagai tempat bertemunya antara pedagang dengan petani kopi.

“Memang kita terseok-seok karena risetnya kurang lama. Tapi model ini sekarang berjalan di 13 desa,” katanya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Jogja Tak Pernah Lengkap Tanpa Buku, Musik, dan Seni Rupa

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2024 oleh

Tags: festivalkoalisi seni indonesiakusen alipahpelumbungansni
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bedog Arts Fest 2025 Mojok.co
Kilas

Bedog Arts Fest 2025: Perayaan Seni Kerakyatan, Lingkungan, dan Semangat Keberlanjutan

19 Oktober 2025
Kiat Merawat Festival Budaya Warga Lokal dengan Pelumbungan
Video

Kiat Mengelola Festival Budaya Warga Lokal dengan Pelumbungan

27 Juni 2024
patjarmerah mojok.co
Hiburan

Di Solo, Festival Literasi Patjarmerah Terus Melokal dan Kolaboratif

8 Juli 2023
avorestation mojok.co
Hiburan

AVOrestation Music Festival: D’Masiv hingga Tulus Bikin Penonton Karaoke Massal

10 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.