Bagi Iwan (30) *bukan nama sebenarnya, menjadi sarjana tidak otomatis membuat hidup menjadi lebih mudah. Apalagi jika gelar yang dibawa pulang ternyata tidak banyak membantu mencari pekerjaan di kampung halaman.
***
Hampir sepuluh tahun lalu, laki-laki asal Bangkalan, Madura, itu datang ke Jogja untuk kuliah. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sebagai sarjana Sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di Jogja.
Setelah lulus, Iwan tidak pulang. Ia memilih tetap tinggal di Jogja, bekerja sebagai content writer di sebuah agensi yang namanya tidak ingin ia sebutkan. Gajinya, kata dia, cukup untuk bertahan hidup dan menyisihkan sedikit uang untuk dikirim kepada keluarga di Bangkalan.
“Kalau pulang, memang mau kerja apa? Tidak ada yang bisa dilakukan di sana,” kata Iwan kepada Mojok, Selasa (08/09/2026).
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, bagi Iwan, jawabannya tidak sesederhana pulang membawa ijazah kemudian mencari pekerjaan.
Sarjana sastra dan ijazah yang tidak banyak membantu
Iwan mengaku berasal dari keluarga biasa. Keluarganya bukan keluarga berada yang memiliki usaha besar atau menjadi juragan tembakau di Bangkalan. Karena itu, sejak awal ia sadar bahwa gelar sarjana bukan jaminan mendapatkan pekerjaan. Masalahnya, pekerjaan yang menurutnya sesuai dengan pendidikan dan minatnya di bidang sastra tidak mudah ditemukan di Bangkalan.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangkalan setidaknya menunjukkan bahwa persoalan mencari pekerjaan memang masih menjadi bagian dari kondisi ketenagakerjaan daerah tersebut. Pada 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bangkalan tercatat 5,35 persen. Sementara berdasarkan pendidikan, TPT lulusan Diploma IV atau Universitas pada 2023 tercatat 4,47 persen.
Angka tersebut memang tidak secara khusus menunjukkan pengangguran sarjana Sastra Indonesia. Namun bagi Iwan, persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada lowongan. Ia merasa pilihan pekerjaan yang tersedia di daerah asalnya tidak banyak yang beririsan dengan kemampuan yang ia miliki.
“Kalau di sini, saya masih bisa kerja jadi content writer. Kemampuan dari kuliah masih kepakai, kalau di sana, jika bukan anak orang kaya atau minimal orang tuanya punya lahan tembakau ya susah,” ujarnya.
Memilih hidup struggle di Jogja
Tinggal di Jogja selama hampir satu dekade ternyata tidak membuat kehidupan Iwan menjadi mapan. Ia tetap harus menghitung pengeluaran. Gajinya tidak membuatnya bisa hidup mewah. Sebagian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian lagi ia sisihkan untuk keluarga di Bangkalan. Namun, bagi Iwan, hidup pas-pasan di Jogja masih lebih masuk akal daripada pulang tanpa pekerjaan.
“Saya lebih baik struggle di Jogja, karena setidaknya saya bekerja,” katanya.
Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti keputusan yang keras kepala. Bukankah pulang ke rumah berarti biaya hidup lebih murah? Bukankah tinggal bersama keluarga bisa membuat hidup lebih ringan? Iwan melihatnya dari sisi berbeda.
Jika pulang, ia memang bisa lebih dekat dengan keluarga. Namun, ia juga berisiko kehilangan pekerjaan yang menurutnya masih berhubungan dengan kemampuan yang ia miliki. Sementara jika tetap di Jogja, setidaknya ia masih bisa bekerja, menghasilkan uang, dan mengirim sebagian penghasilannya kepada orang tua. Meski tidak besar tapi cukup untuk membuat orang tuanya tahu bahwa anak mereka masih baik-baik saja.
Sarjana sastra tidak harus pulang membawa kesuksesan
Ada satu hal lain yang membuat Iwan bertahan di Jogja: kekhawatiran orang tua. Ia tidak ingin kepulangannya justru membuat keluarganya berpikir bahwa hidupnya di perantauan gagal. Selama ini, ia berusaha tetap bekerja dan mencukupi kebutuhannya sendiri.
“Yang penting orang tua nggak khawatir saya di sini, bahkan kalau orang tua saya taunya saya di sini baik-baik saja sudah cukup bagi saya,” katanya.
Bagi Iwan, keberhasilan tidak selalu berbentuk rumah, mobil, jabatan, atau gaji besar. Kadang keberhasilan sesederhana masih mampu membayar kos sendiri, membeli makan, kemudian mengirim sedikit uang kepada orang tua di kampung.
Sebagai sarjana Sastra Indonesia, ia memang belum mendapatkan pekerjaan yang membuat hidupnya bergelimang uang. Namun setidaknya ia masih bisa bekerja dengan keterampilan yang diperoleh dari bangku kuliah.
Sudah kadung nyaman di Jogja
Sebenarnya Iwan punya pilihan untuk mencari kehidupan di kota lain. Ketika saya bertanya mengapa tidak mencoba Surabaya atau kota besar lain yang peluang kerjanya mungkin lebih banyak, jawabannya justru pendek.
“Ya sebenarnya ada keinginan untuk pergi ke Surabaya atau minimal dekat dari Madura, tapi mau bagaimana lagi, lha wong sudah kadung nyaman di Jogja,” tutupnya.
Hampir sepuluh tahun hidup di Jogja membuat kota ini tidak lagi sekadar tempat kuliah. Ada pekerjaan, teman, kebiasaan, dan kehidupan yang sudah telanjur terbentuk. Mungkin kehidupan Iwan di Jogja belum bisa disebut mapan. Ia masih harus berjuang dengan gaji yang menurutnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit membantu keluarga.
Tetapi pulang ke Bangkalan juga bukan otomatis menjadi pilihan yang lebih baik. Di situlah dilema seorang sarjana seperti Iwan berada. Ia punya ijazah, tetapi ijazah itu tidak otomatis menentukan di mana ia harus hidup. Ia punya kampung halaman, tetapi pulang tidak selalu berarti menemukan pekerjaan. Ia punya gelar Sarjana Sastra Indonesia, tetapi untuk bertahan hidup, ia tetap harus mencari ruang kerja yang mau menggunakan kemampuan yang ia punya.
Pada akhirnya, Iwan memilih Jogja. Bukan karena hidup di kota ini mudah. Justru karena hidup di sini masih memberinya alasan untuk terus berjuang. Selama bisa bekerja, membayar kebutuhan sendiri, dan sesekali mengirim uang ke Bangkalan, ia merasa belum perlu pulang.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sarjana Sastra Indonesia Hanya Menjadi Beban Keluarga dan Pengangguran yang Puitis atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
