Di mata orang lain, jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) itu terlihat seperti jalan yang lurus menuju karir menjadi guru BK. Namun, bagi sebagian sarjana BK, jalan itu ternyata memiliki banyak persimpangan dan jarang diketahui oleh orang.
Menjadi lulusan jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tentu adalah hal yang melegakan juga membanggakan. Bagi sebagian orang, menjadi sarjana BK adalah satu tiket pasti akan menjadi guru BK di sekolah, konselor pendidikan, bahkan menjadi dosen.
Namun tidak bagi Imel (23) yang baru beberapa bulan kemarin menuntaskan studinya.
Karena setelah lulus dan resmi menyandang gelar sarjana, Imel masih harus dihadapkan dengan persimpangan. Ia harus memilih melanjutkan studi S2 karena cita-citanya menjadi dosen, atau lanjut PPG karena jalur tersebut seperti shortcut menjadi guru Bimbingan dan Konseling.
Tidak lolos psikologi, bersyukur menjadi sarjana BK
Kebimbangan akan menentukan jalan setelah lulus tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awal mendaftar kuliah, ia sudah memiliki bayangan tentang jalan mana yang akan ia tempuh setelah menjadi sarjana.
Psikologi menjadi pilihan pertamanya. Namun, karena belum berhasil lolos jurusan tersebut, ia kemudian memilih Bimbingan dan Konseling.
Baginya, kedua bidang itu memiliki irisan yang sama. Bagi Imel menjadi seorang yang bisa membantu orang banyak adalah hal yang ia idam-idamkan.
Pilihan tersebut juga tidak mendapat banyak pertentangan dari keluarga dan terkesan memang mendorong agar Imel menempuh pendidikan tersebut dengan senang.
“Orang tua juga nggak terlalu memaksakan karena yang menjalani kuliah kan saya sendiri,” ujar sarjana BK tersebut.
Di mata keluarga dan tetangganya, sarjana BK terlihat seperti jalan mulus dan memiliki jalur yang cukup jelas. Juga pekerjaan sebagai guru BK relatif mudah ditemukan. Anggapan tersebut masuk akal jika melihat profesi yang selama ini lekat dengan lulusan BK.
Dunia setelah lulus kuliah tidak semudah itu
Namun, dunia setelah wisuda ternyata tidak sesederhana anggapan dari keluarga dan Imel sendiri. Imel justru menemukan dirinya berada di persimpangan ketika toga sudah dilepaskan.
Ia harus mempertimbangkan arahnya setelah menjadi sarjana BK, lanjut jalur Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau meneruskan studi ke S2.
Semakin jauh berjalan ia semakin menemukan banyak kenyataan. Keinginannya menjadi dosen membuatnya berhadapan dengan kenyataan bahwa jalur akademik tidak berhenti pada gelar Magister.
Ada kemungkinan ia harus melanjutkan hingga doktoral. Atau justru menjadi guru BK melalui jalur PPG adalah jalan yang lebih sesuai dengan dirinya?
“Kalau dibilang sekarang sudah menemukan titik terang, sebenarnya saya masih dalam proses mencari juga,” kata sarjana BK UAD tersebut.
Ternyata, kebingungan setelah wisuda kadang bukan karena seseorang tidak memiliki tujuan. Kadang, juga karena seseorang sudah memiliki beberapa pilihan, tetapi belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk memilih salah satunya.
Bagi Imel, menjalani pendidikan setelah menjadi sarjana BK setidaknya membuat pilihan-pilihan tersebut menjadi lebih terlihat. Ia mulai memahami konsekuensi dari masing-masing jalan, termasuk kemungkinan melanjutkan pendidikan hingga S3 atau kembali mempertimbangkan jalur pendidikan melalui PPG.
Barangkali begitulah wajah asli dari mereka yang menjadi sarjana BK, semakin banyak pilihan yang mereka ketahui, semakin sadar pula bahwa memilih satu jalan berarti meninggalkan jalan lainnya.
Dan bagi Imel, setelah menjadi sarjana BK ia merasa jalannya belum selesai begitu saja. Ia masih ada di persimpangan antara S2 atau PPG.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok di rubrik Liputan
