Kerasnya hidup membuat Kimiraza Mahendra (17) harus memeras otak agar bisa bertahan sejak remaja. Dia mulai jualan kue di pinggir jalan guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tanpa meninggalkan kewajibannya belajar hingga akhirnya diterima di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB).
***
Ketika anak-anak seusianya bisa menghabiskan waktu sepenuhnya untuk mengembangkan diri, Kimi, sapaan akrabnya, seolah dipaksa oleh keadaan agar lebih dewasa. Padahal, masa remaja seharusnya difokuskan untuk bermain, belajar, dan bersosialisasi demi pembentukan karakter, bukan menanggung beban ekonomi keluarga.
Naman, ujian hidup membuat remaja laki-laki itu tidak punya pilihan lain. Ayahnya meninggal saat dia masih duduk di bangku SMP kelas 3. Di saat itulah peran ayahnya sebagai kepala keluarga, sekaligus penopang kebutuhan hidup berpindah kepadanya.
Saat mendengar kabar ayahnya meninggal, Kimi hanya bisa menatap nanar ibu dan adik perempuannya yang menangis di hadapan tubuh ayahnya yang sudah terbujur kaku. Setelah proses pemakaman, mereka pun harus melalui hari-hari berat bersama untuk saling menguatkan.
Namun, ada satu beban pikiran Kimi yang tidak bisa hilang di fase duka itu, yakni tentang bagaimana hidupnya ke depan setelah kepergian sang ayah. Terutama soal biaya sekolah dirinya dan adiknya yang masih SD, sebab ayahnya yang lulusan ITB merupakan satu-satunya penopang ekonomi dalam keluarga.
“Sebagai anak pertama, rasanya instingku langsung bekerja, mode survival dan tanggung jawab. Jadinya aku kayak punya pressure untuk berpenghasilan sambil jalanin hobi,” kata Kimi kepada Mojok, Minggu (2/8/2026).
Jualan tiramisu ke kelas-kelas saat SMA
Beberapa bulan berlalu hingga Kimi duduk di bangku SMA. Beruntung, almarhum ayahnya masih memiliki tabungan untuk membiayai dirinya sekolah. Meski begitu, Kimi masih sungkan meminta uang jajan kepada ibunya. Alhasil, Kimi memutuskan jualan kue di sekolah.
“Awalnya ide ini muncul dari tugas ekonomi sekolahku. Aku diminta bikin produk untuk dijual di sekolah. Terus aku ingat pernah belajar bikin tiramisu dari YouTube karena ibuku pecinta kue. Akhirnya, itu yang aku jadikan produk pertama,” ujar Kimi yang berharap bisa kuliah di SBM ITB setelah SMA.
Kimi yang dasarnya memiliki jiwa introvert, memaksa dirinya untuk menjual tiramisu ke kelas-kelas. Siapa sangka, produknya itu laku keras. Melihat keuntungan yang dia peroleh, Kimi pun tergiur dan melanjutkan usaha tersebut. Sepulang sekolah, dia menyiapkan bahan-bahan tanpa meninggalkan kewajibannya belajar.
Saat pagi, sebelum berangkat sekolah, Kimi tinggal memanggang adonannya dan bersiap mengemas sekitar 25 dessert box per hari. Dalam kurun waktu 10 bulan, dia berhasil menjual 1000 pieces dessert box.
Kurangi waktu tidur demi masuk SBM ITB
Alih-alih lelah menjalani rutinitas di atas setiap hari, Kimi justru semangat. Rasanya seperti menemukan hal baru yang dia sukai. Lebih dari itu, dia tidak lagi terpuruk seperti dulu pasca ayahnya meninggal.
Bahkan sejak kelas 10 SMA, Kimi sudah berencana melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, yakni di ITB. Keinginannya ini muncul setelah dia mengetahui latar belakang pendidikan sang ayah.
“Cita-citaku simple, aku pengen masuk jurusan dan kampus yang sama dengan almarhum ayahku dulu. Beliau dulu kuliah Jurusan Teknik Elektro di ITB. Namanya juga anak pertama, pasti pengen ngikutin jejak ayahnya,” ujar Kimi.
Meski begitu, Kimi tidak serta-merta mendaftar jurusan kuliah persis seperti ayahnya. Saat SMA kelas 3, Kimi baru menemukan minatnya sendiri untuk mendalami dunia bisnis dan berencana membuka bakery sendiri.
“Aku berharap dengan masuk SBM ITB, ilmu bisnis aku bisa jauh lebih berkembang lagi. Dan suatu saat, semoga aku bisa buka bakery besar di Bandung yang dicintai oleh warga Indonesia,” kata Kimi.
Tembus SBM ITB setelah melewati rintangan
Sembari menunggu hasil pengumuman Seleksi Siswa Unggul (SSB) ITB, Kimi masih melanjutkan usahanya dengan berjualan kue di Saparua Bandung. Tempatnya itu dipilihnya sebagai kawasan publik populer yang terkenal sebagai pusat olahraga, tempat nongkrong, dan kuliner. Sayangnya, usaha Kimi justru tidak berjalan mulus di sana karena sepinya pembeli.
“Tiramisuku cuma laku 1 piece dalam sehari. Dan dalam kondisi hujan, booth-ku yang nggak ada payung jadi basah semua. Bahkan setelah 3 minggu, pelangganku sepi. Sampai-sampai, ibu menyuruhku untuk tutup toko aja,” kata Kimi.
Namun, Kimi memilih jalan terus. Dia gencarkan lagi promosinya lewat Instagram dan Threads, hingga kemudian salah satu kontennya viral. Pembeli pun datang berangsur-angsur baik yang pesan offline maupun online.
“Sejak saat itu, aku dapat pesanan sekitar 30 pieces sehari. Alhamdulillah sampai di-notice Bank Indonesia. Aku juga diberi kesempatan buka booth di Trans Studio Mall (TSM) waktu acara karya kreatif Bandung, Jawa Barat,” kata Kimi.
Hal-hal baik pun terus terjadi setelah seporsi kekalahan sudah Kimi lalui, pasca-meninggalnya sang ayah. Selain usahanya yang lancar, Kimi juga dinyatakan lolos SSB ITB sebagai mahasiswa SBM. Dia pun makin semangat belajar bisnis di ITB sambil berdagang.
“Aku berharap Gormand Tiramisu ke depan bisa punya karyawan dan bisa supply ke kafe-kafe di bandung, dan bisa buka kafe dessert sendiri,” harap Kimi.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
