Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Seporsi Kemenangan usai Ayah Tiada: Jualan Tiramisu di Saparua sejak Remaja agar Bisa Sekolah hingga Tembus SBM ITB

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Agustus 2026
A A
Lolos SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jual Tiramisu. MOJOK.CO

ilustrasi - Kuliah di ITB Jurusan Kewirausahaan, lulus ingin buka bakery. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerasnya hidup membuat Kimiraza Mahendra (17) harus memeras otak agar bisa bertahan sejak remaja. Dia mulai jualan kue di pinggir jalan guna memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tanpa meninggalkan kewajibannya belajar hingga akhirnya diterima di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB).

***

Iklan

Ketika anak-anak seusianya bisa menghabiskan waktu sepenuhnya untuk mengembangkan diri, Kimi, sapaan akrabnya, seolah dipaksa oleh keadaan agar lebih dewasa. Padahal, masa remaja seharusnya difokuskan untuk bermain, belajar, dan bersosialisasi demi pembentukan karakter, bukan menanggung beban ekonomi keluarga. 

Naman, ujian hidup membuat remaja laki-laki itu tidak punya pilihan lain. Ayahnya meninggal saat dia masih duduk di bangku SMP kelas 3. Di saat itulah peran ayahnya sebagai kepala keluarga, sekaligus penopang kebutuhan hidup berpindah kepadanya.

Saat mendengar kabar ayahnya meninggal, Kimi hanya bisa menatap nanar ibu dan adik perempuannya yang menangis di hadapan tubuh ayahnya yang sudah terbujur kaku. Setelah proses pemakaman, mereka pun harus melalui hari-hari berat bersama untuk saling menguatkan.

Namun, ada satu beban pikiran Kimi yang tidak bisa hilang di fase duka itu, yakni tentang bagaimana hidupnya ke depan setelah kepergian sang ayah. Terutama soal biaya sekolah dirinya dan adiknya yang masih SD, sebab ayahnya yang lulusan ITB merupakan satu-satunya penopang ekonomi dalam keluarga.

“Sebagai anak pertama, rasanya instingku langsung bekerja, mode survival dan tanggung jawab. Jadinya aku kayak punya pressure untuk berpenghasilan sambil jalanin hobi,” kata Kimi kepada Mojok, Minggu (2/8/2026).

Jualan tiramisu ke kelas-kelas saat SMA

Beberapa bulan berlalu hingga Kimi duduk di bangku SMA. Beruntung, almarhum ayahnya masih memiliki tabungan untuk membiayai dirinya sekolah. Meski begitu, Kimi masih sungkan meminta uang jajan kepada ibunya. Alhasil, Kimi memutuskan jualan kue di sekolah.

“Awalnya ide ini muncul dari tugas ekonomi sekolahku. Aku diminta bikin produk untuk dijual di sekolah. Terus aku ingat pernah belajar bikin tiramisu dari YouTube karena ibuku pecinta kue. Akhirnya, itu yang aku jadikan produk pertama,” ujar Kimi yang berharap bisa kuliah di SBM ITB setelah SMA. 

Kimi yang dasarnya memiliki jiwa introvert, memaksa dirinya untuk menjual tiramisu ke kelas-kelas. Siapa sangka, produknya itu laku keras. Melihat keuntungan yang dia peroleh, Kimi pun tergiur dan melanjutkan usaha tersebut. Sepulang sekolah, dia menyiapkan bahan-bahan tanpa meninggalkan kewajibannya belajar.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kimii (@kimiraza1)

Iklan

Saat pagi, sebelum berangkat sekolah, Kimi tinggal memanggang adonannya dan bersiap mengemas sekitar 25 dessert box per hari. Dalam kurun waktu 10 bulan, dia berhasil menjual 1000 pieces dessert box.

Kurangi waktu tidur demi masuk SBM ITB

Alih-alih lelah menjalani rutinitas di atas setiap hari, Kimi justru semangat. Rasanya seperti menemukan hal baru yang dia sukai. Lebih dari itu, dia tidak lagi terpuruk seperti dulu pasca ayahnya meninggal. 

Bahkan sejak kelas 10 SMA, Kimi sudah berencana melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, yakni di ITB. Keinginannya ini muncul setelah dia mengetahui latar belakang pendidikan sang ayah.

“Cita-citaku simple, aku pengen masuk jurusan dan kampus yang sama dengan almarhum ayahku dulu. Beliau dulu kuliah Jurusan Teknik Elektro di ITB. Namanya juga anak pertama, pasti pengen ngikutin jejak ayahnya,” ujar Kimi.

Meski begitu, Kimi tidak serta-merta mendaftar jurusan kuliah persis seperti ayahnya. Saat SMA kelas 3, Kimi baru menemukan minatnya sendiri untuk mendalami dunia bisnis dan berencana membuka bakery sendiri. 

“Aku berharap dengan masuk SBM ITB, ilmu bisnis aku bisa jauh lebih berkembang lagi. Dan suatu saat, semoga aku bisa buka bakery besar di Bandung yang dicintai oleh warga Indonesia,” kata Kimi.

Tembus SBM ITB setelah melewati rintangan

Sembari menunggu hasil pengumuman Seleksi Siswa Unggul (SSB) ITB, Kimi masih melanjutkan usahanya dengan berjualan kue di Saparua Bandung. Tempatnya itu dipilihnya sebagai kawasan publik populer yang terkenal sebagai pusat olahraga, tempat nongkrong, dan kuliner. Sayangnya, usaha Kimi justru tidak berjalan mulus di sana karena sepinya pembeli.

“Tiramisuku cuma laku 1 piece dalam sehari. Dan dalam kondisi hujan, booth-ku yang nggak ada payung jadi basah semua. Bahkan setelah 3 minggu, pelangganku sepi. Sampai-sampai, ibu menyuruhku untuk tutup toko aja,” kata Kimi.

Namun, Kimi memilih jalan terus. Dia gencarkan lagi promosinya lewat Instagram dan Threads, hingga kemudian salah satu kontennya viral. Pembeli pun datang berangsur-angsur baik yang pesan offline maupun online. 

“Sejak saat itu, aku dapat pesanan sekitar 30 pieces sehari. Alhamdulillah sampai di-notice Bank Indonesia. Aku juga diberi kesempatan buka booth di Trans Studio Mall (TSM) waktu acara karya kreatif Bandung, Jawa Barat,” kata Kimi.

Hal-hal baik pun terus terjadi setelah seporsi kekalahan sudah Kimi lalui, pasca-meninggalnya sang ayah. Selain usahanya yang lancar, Kimi juga dinyatakan lolos SSB ITB sebagai mahasiswa SBM. Dia pun makin semangat belajar bisnis di ITB sambil berdagang.

“Aku berharap Gormand Tiramisu ke depan bisa punya karyawan dan bisa supply ke kafe-kafe di bandung, dan bisa buka kafe dessert sendiri,” harap Kimi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2026 oleh

Tags: ayah meninggaljual tiramisuKewirausahaan ITBkuliah di ITBlolos ITBmahasiswa itbremaja berbisnisSBM ITBseporsi kemenangan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO
Urban

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Ferry Irwandi dan Pisau Ekonomi yang Menguliti Akal Sehat MOJOK.CO
Esai

Pisau Ekonomi Ferry Irwandi: Kuliah Publik SBM ITB yang Ngena sampai ke Urat Nadi Kebijakan

27 Mei 2025
Video

Cikal Bakal Peristiwa Malari dan Meletupnya Aksi Mahasiswa di Berbagai Kota

22 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.