Elpanta Tarigan atau yang akrab dipanggil El, berjalan perlahan sambil membawa tongkat saat Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Nurhasan memintanya naik ke atas panggung. Di sana, El mendapat penghargaan sebagai wisudawan terbaik.
Rektor Unesa Nurhasan berujar akan memberikan Tabungan Pembangunan Nasional (Tabanas) sebesar Rp20 juta kepada El atas prestasinya lulus kuliah selama 3,5 tahun alias 7 semester dengan IPK 3,68.
Nurhasan juga menawarkan dua opsi, yakni melanjutkan beasiswa penuh S2 atau bekerja di Unesa. Tak langsung menjawab, pemuda asal Medan itu akhirnya memilih kerja di Unesa. Mendengar jawaban El, Nurhasan menanggapi jawaban itu sebagai strategi yang cerdas karena kesempatan beasiswa S2 masih bisa didapatkan El saat bekerja nanti.
“Mulai tanggal 1 besok menjadi pegawai tetap di Unesa,” tegas Nurhasan kepada orang tua El yang turut hadir dalam acara wisuda Unesa periode ke-119, Rabu (29/4/206).
Sebagai pegawai tetap di Unesa, El juga berhak melanjutkan pendidikan sampai S3 tanpa biaya, serta tinggal di asrama dengan gratis selama 1 tahun.
Alami titik terendah di usia 12 tahun
Siapa sangka, El sempat minder mengenai keterbatasan fisiknya. Di usia 12 tahun, saat penglihatannya mulai memudar karena tinggi badannya yang mencapai 215 sentimeter akibat kondisi gigantisme, El harus bertarung dengan dirinya sendiri sampai ia benar-benar tabah dan menerima musibah tersebut.
“Sedih banget mulanya, di mana keadilan itu terhadap diri saya? Tapi lama-kelamaan saya dapat menerimanya karena juga kuasa Tuhan-lah yang memberikan saya jalan agar saya bisa bangkit kembali,” kata El dikutip dari Youtube Kece Media by Unesa, Senin (11/5/2026).
Karena postur tubuhnya yang tinggi menjulang, El kerap mencuri perhatian. Meski menghadapi tantangan teknis dalam keseharian, seperti mencari ukuran pakaian dan sepatu jumbo, El menganggap keunikannya tersebut sebagai bagian dari identitas yang harus disyukuri.
Motivasi lain muncul saat El mendengar cerita dari teman-temannya yang juga berjuang dan bisa sukses. El mulai pun berpikir, ketika orang lain bisa, mengapa dirinya tidak bisa?
“Karena motivasi itulah saya bangkit kembali untuk mencoba mengawali hidup saya sebagai seorang tunanetra,” ujar El yang tak memilih menyerah hingga berhasil diterima di Unesa.
Unesa dukung mahasiswa penyandang disabilitas
El diterima sebagai mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) di Unesa tahun 2022. Di Unesa, El mengaku mendapatkan lingkungan yang ramah disabilitas seperti fasilitas guiding block dan budaya saling bantu antar mahasiswa dan dosen.
Guna menunjang prestasi akademiknya, El turut mengkaji peran Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) dalam meningkatkan keterampilan sosial disabilitas di Lamongan. Dalam menuntaskan risetnya, El menggunakan teknologi screen reader atau pembaca layar pada laptopnya.
“Teknologi membantu saya tetap mandiri dalam membaca materi hingga menyusun skripsi. Saya ingin menunjukkan bahwa dengan aksesibilitas yang tepat, kami mampu bersaing secara setara,” ungkap El yang kerap menghabiskan waktunya di perpustakaan.
Selain prestasi akademik, El juga aktif sebagai atlet paralimpik multitalenta. Ia pernah meraih medali di cabang olahraga tolak peluru pada Pekan Paralimpik Pelajar 2017, juara satu goalball tingkat provinsi tahun 2019, hingga aktif dalam turnamen catur di berbagai kejuaraan.
Lulus S1 langsung kerja di Unesa
Kerja keras El akhirnya berbuah manis saat dirinya berhasil menyelesaikan kuliah S1 di Unesa bersama rekan-rekan seangkatannya. Kelulusannya itu membuktikan, bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi penyandang tunanetra untuk berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Momen wisuda pun menjadi emosional saat Rektor Unesa mengumumkan pemberian beasiswa lanjut studi jenjang Magister (S2) kepada mahasiswa berprestasi termasuk El. Kabar ini menjadi apresiasi nyata atas kegigihan dan prestasi yang telah ia tunjukkan selama menempuh pendidikan sarjana.
“Jika Pak Rektor memberi kesempatan, tentu saya terima dengan penuh tanggung jawab. Rencana saya adalah mendalami bidang pendidikan inklusif di jenjang S2,” ujar El penuh haru.
Sembari menjalani pekerjaan pertamanya di Unesa, El berencana untuk kembali ke Medan di kemudian hari. Ia berharap bisa menjadi mengabdi sebagai pendidik. Sebab, ia sadar jika di kampung halamannya masih minim perguruan tinggi negeri yang memiliki jurusan PLB.
El ingin menjadi jembatan bagi anak-anak disabilitas di Medan agar mendapatkan akses pendidikan yang layak seperti yang ia rasakan di Unesa.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pernah Pamit ke Rektor Unesa buat Kuliah di Unair, Kini Jadi Wisudawan S2 Tunanetra Pertama dan Jadi PNS di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
