Menjadi lulusan Magister Pendidikan Biologi UNY dan bekerja sebagai BPO adalah cara aman untuk tidak dianggap pengangguran dan membuat orang tua di rumah menderita.
***
Akbar (25) adalah lulusan Magister Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Secara di atas kertas jurusannya sangat menjanjikan, namun hidup nampaknya tidak sehebat teori-teorinya.
Setelah lulus dari S2 tersebut, Akbar mengalami fase terberat dalam hidupnya. Sebagai anak rantau dari Jambi dan mengadu nasib di Jogja, perkara mencari pekerjaan adalah perkara yang berat.
Awal-awal lulus S2 ia mencoba peruntungan untuk mendaftar di beberapa kampus swasta di Jogja dengan harapan diangkat menjadi asisten dosen. Namun, beberapa lamaran bahkan tidak diperhatikan.
“Awalnya memang pingin jadi asisten dosen. Saya sudah coba daftar ke beberapa kampus,” katanya ketika ditemui Mojok Rabu (26/08/2026).
Namun, kampus-kampus yang ia harapkan tidak kunjung memberikan kabar. Lamaran demi lamaran dikirim, tetapi panggilan kerja tak kunjung datang. Sementara itu, biaya hidup di tanah rantau tetap harus dibayar.
Gelar magister itu tidak banyak membantu
Di titik itulah gelar magister ternyata tidak banyak membantu.
Dalam lulusan Magister tersebut, harapannya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jurusannya mulai goyah. Akbar akhirnya ditawari seorang kawan untuk bekerja di sebuah perusahaan BPO yang berkantor di kawasan Lippo Plaza Jogja.
Pekerjaannya sebagai customer service. Jelas tidak berhubungan dengan Pendidikan Biologi yang ia tempuh sampai jenjang S2.
“Awalnya mikir, ‘Masa S2 kerja begini?’” ujarnya sambil tertawa kecil.
“Tapi akhirnya daftar juga?”
“Iya. Daripada nggak kerja.”
Kalimat terakhir itu terdengar sederhana. Namun, bagi perantau seperti Akbar, “daripada nggak kerja” barangkali adalah bentuk kompromi paling nyata dengan kehidupan.
Ia kemudian memberanikan diri mendaftar menjadi pegawai BPO (Business Process Outsourcing). Ia kini masih menjalani masa probation. Setidaknya, setiap pagi ada alasan untuk berangkat ke kantor.
Berbohong ke orang tua agar tidak dianggap gagal
Yang menarik, kepada orang tuanya di Jambi, Akbar tidak langsung bercerita bahwa dirinya bekerja sebagai customer service di BPO.
Ia hanya mengatakan bahwa dirinya bekerja di kantor.
“Kenapa nggak cerita pekerjaan sebenarnya?”
“Takut dianggap gagal,” jawabnya.
Bukan karena bekerja sebagai pegawai BPO itu rendah. Ia hanya takut orang tuanya membayangkan sesuatu yang berbeda ketika anak mereka yang sudah menyelesaikan S2 akhirnya bekerja jauh dari bidang yang dipelajarinya.
Akbar bahkan memilih mengatakan kepada orang tuanya bahwa pekerjaannya aman.
“Biar mereka nggak khawatir juga. Yang penting saya kerja.”
Barangkali ada banyak anak rantau yang melakukan hal serupa. Bukan berbohong karena malas bercerita, tetapi karena tidak ingin menambah beban pikiran orang tua di rumah.
Fenomena banyak lulusan magister yang menjadi pengangguran
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Mei 2026 masih berada di angka 4,65 persen.
Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang dan rata-rata upah buruh berada di angka Rp3,39 juta.
Artinya, pekerjaan memang tersedia, tetapi mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, harapan, serta kemampuan ekonomi adalah persoalan yang berbeda.
Di Jogja, Akbar mungkin hanya satu dari sekian banyak lulusan perguruan tinggi yang sedang mencari jalan memutar menuju pekerjaan impiannya.
Bagi lulusan magister seperti Akbar yang memilih menyebrang dari jurusan yang ia pelajari dan bertahan hidup in this economy, pilihannya tidak banyak.
Bagi lulusan magister, gelar itu (kadang) bukan satu-satunya penyelamat
Bagi Akbar dan banyak lulusan S2 lain yang merantau di Jogja, dapat memilih pekerjaan sesuai bidang yang ditekuni adalah sebuah kemewahan. Namun sayang, tidak semua orang memiliki kemewahan tersebut.
“Bisa bertahan hidup saja sudah syukur, dalam keadaan seperti ini menjadi apapun selama halal dan tidak dianggap pengangguran sama orang rumah,” tutupnya dengan tawa yang menyimpan banyak kepiluan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
