Setelah lulus S1 Jurusan Geologi di salah satu PTN top Indonesia tahun 2019, Arfah Mu (30) memutuskan lanjut kuliah S2 di Jepang dengan jurusan yang sama. Dulu, setelah lulus S2, ia berharap bisa berkarier di sektor industri, tambang, maupun konsultan. Kini, ia malah jadi koki di Australia.
Seiring berkembangnya waktu, Arfah baru sadar bahwa ia tak menikmati prosesnya selama ini. Walaupun banyak orang di sekitarnya bilang, ‘kan enak gajinya tinggi’ tapi Arfah tak yakin dengan kemampuan dirinya.
“Untuk sampai ke level itu persaingannya berat dan aku merasa nggak akan pernah bisa menikmati prosesnya,” kata Arfah saat dihubungi Mojok, Senin (27/4/2026).
Arfah pun sempat kembali ke Indonesia untuk menjadi dosen di salah satu kampus. Namun, setelah menempuh waktu beberapa bulan, Arfah jadi enggan karena budaya yang tak dapat ia toleransi. Hingga akhirnya mencari peluang kerja di Australia.
Lulus S2 di Jepang, semangat mencari kerja di Australia
Alih-alih mencari kerja di Jepang setelah lulus S2, Arfah justru mencari peruntungan di Australia. Salah satu negara yang dikenal memberikan upah minimum (UMR) tertinggi di dunia.
Jujur saja keputusan pindah ke Australia bukan hal gampang apalagi dirinya baru lulus S2 di Jepang. Untuk kuliah di luar negeri pun tak semulus yang dilihat orang terutama soal biaya. Selama S1 di Indonesia, Arfah sempat kerja kontrak satu tahun di perusahaan nikel dan sempat mengorek informasi soal beasiswa.
“Waktu itu kerjanya kebanyakan di hutan, terus aku jadi kepikiran buat lanjut kuliah di luar negeri dan akhirnya ikut kursus Bahasa Inggris. Dari situlah aku tahu soal beasiswa MEXT U TO U ke Jepang yang prosesnya mudah,” kata Arfah.
Melansir dari laman resmi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, terdapat 2 jalur untuk melamar beasiswa Monbukagakusho program Research Students, yaitu jalur Embassy Recommendation (G to G) dan jalur University Recommendation (U to U).
MEXT G to G adalah jalur yang pendaftaran dan seluruh proses seleksinya dilakukan oleh Kedutaan Besar Jepang, sedangkan MEXT U to U adalah jalur yang proses seleksi serta prosedur pendaftarannya dilakukan oleh Universitas di Jepang tanpa melalui Kedutaan Besar Jepang.
Lulus S2, pulang ke Indonesia jadi dosen berujung menyesal
Namun, setelah mendapat beasiswa MEXT U TO U dan menjalani kuliah S2 Jurusan Geologi di Jepang hampir 2 tahun, Arfah masih diselimuti kebimbangan. Ia ragu apakah keputusan S2-nya itu sudah tepat? Karena berbagai cara sudah ia coba untuk memantapkan hatinya kerja di bidang yang selinear, tapi semakin ke sini hatinya bilang tidak.
“Terlebih aku juga merasa kalau kerja di Jepang harus punya kemampuan dan pengalaman yang banyak,” kata Arfah.
Akhirnya, Arfah sampai pada titik menerima kenyataan. Bahwa yang bisa ia lakukan sekarang cuma satu yakni berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup. Ia pun sempat balik ke Indonesia setelah lulus S2 dan melamar jadi asisten profesor di salah satu kampus.
“Tapi menurutku kurang worth it, karena tidak ada arahan yang jelas baik dari birokrasi dan jurusan. Intinya, di tempatku mengajar saat itu masih menjunjung tinggi budaya senioritas. Jadi untuk dosen baru yang mau maju, kurang bisa diterima,” jelas Arfah.
Sebagaimana hidup yang menuntut kita untuk terus berjalan, Arfah pun mencari peluang ke Australia. Salah satu negara yang posisinya berdekatan dengan Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sekaligus sebagai pusat pendidikan dan pekerjaan yang menarik bagi orang asing.
“Aku pergi ke Australia sendiri tanpa keluarga dan teman,” kata Arfah.
Putuskan kerja dari dapur di sebuah restoran Australia
Saat di Australia, Arfah menemukan mimpinya menjadi koki Di sana ia belajar bagaimana caranya memasak hingga memperoleh sertifikat. Tak sampai di situ, Arfah juga belajar membuat CV untuk melamar kerja di sebuah restoran Australia.
Ia pun sempat gagal menjadi Chef de Partie (CDP) di sebuah restoran regional sampai akhirnya mendapat tawaran kerja sebagai kepala chef di salah satu restoran fine dining. Penempatan kerja itu ia pertimbangkan betul-betul, sebab ia masih terkukung pada aturan visa dan karier jangka panjang setelah WHV.
“Awalnya aku sempat ada momen bertanya ke diri sendiri, ‘bisa nggak ya aku?’ tapi ya ini bagian dari pengalaman baru dan proses belajar juga,” kata Arfah setelah lulus S2.
Bagi Arfah sekarang, apa pun pekerjaannya bakal ia jalani sepenuh hati. Sebab ia percaya hidup tidak harus sesuai dengan apa yang dia inginkan. Yang penting, kata Arfah, ia tetap bertumbuh dan bakal jujur dengan diri sendiri. Alih-alih mendengar nyinyiran orang karena ia lulus S2 dari luar negeri tapi cuma jadi koki.
“Hampir 3 tahun di sini, banyak pelajaran yang aku dapat dan banyak momen yang membentukku jadi versi yang lebih kuat, tapi satu hal yang selalu aku pegang kalau kita terus berbuat baik ke orang lain, kita juga akan dipertemukan sama orang-orang baik,” kata Arfah.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
