Dulu Kuliah Tanpa Punya Laptop, Alumnus UMM Ini Buktikan Bisa Kerja di Australia sebagai Manajer Peternakan

Dulu Kuliah Tanpa Punya Laptop, Alumnus Peternakan UMM Ini Buktikan Bisa Kerja di Australia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Believe me, I never have a laptop until 2019. But it can’t stop me to be my best,” ujar Luthfin Abidah, alumnus S1 Jurusan Peternakan Universitas Muhammadiyah (UMM) yang kini bekerja di Australia.

Menyerap banyak ilmu selama magang

2019 adalah tahun terbaik bagi Luthfin Abidah, sebab di masa itulah sebuah kesempatan yang tidak dia sangka datang. Perempuan asal Ponorogo yang bahkan tidak punya laptop di tahun tersebut mengaku kegirangan usai dinyatakan lolos sebagai peserta magang NTCA Indonesia Australia Pastoral Program (NIAPP).

Melalui program pertukaran dan magang yang diselenggarakan oleh Northern Territory Cattlemen’s Association (NTCA) tersebut, Abidah mendalami standar industri peternakan sapi potong dan manajemen kesejahteraan hewan secara langsung di lapangan.

“Dulu saya pernah ikut program magang NIAPP ke Australia. Selama sepuluh minggu, perwakilan mahasiswa UMM dilatih intensif secara langsung seputar praktik beternak sapi potong modern serta penerapan animal welfare secara tepat,” jelas alumnus S1 Jurusan Peternakan UMM angkatan 2016 itu dikutip dari laman resmi UMM, Selasa (11/8/2026).

Selain memperluas wawasan internasional, Abidah juga memperoleh sertifikasi kompetensi serta keterampilan dasar peternakan yang komprehensif di Australia. Berkat keterampilan teknis yang dia punya, Abidah bahkan direkrut sebagai tenaga profesional di sana. 

Luthfin Abidah. MOJOK.CO
Luthfin Abidah, alumnus peternakan UMM. (sumber: UMM)

“Melalui program itu saya mendapat semacam sertifikat diploma, setara dengan sertifikat D1 Agriculture. Saya juga diajarkan seluruh kemampuan basic peternakan. Makanya, ketika saya mendaftar kerja di sini, skill peternak saya sudah terbentuk matang dan kompetensi itulah yang dilihat oleh perusahaan,” tuturnya.

Saat ini, dia pun memegang amanah dan posisi strategis sebagai Young Staff Manager di salah satu perusahaan peternakan sapi berskala besar di Australia. Pencapaian karier profesional ini tidak diraih dalam waktu semalam, melainkan buah dari konsistensi pematangan skill peternakan modern, serta rekam jejak program magang internasional yang telah ia rintis sejak masih berstatus mahasiswa aktif.

Dapat tawaran kerja di Australia usai viral di media lokal

Setelah menyelesaikan magangnya dan lulus S1 Peternakan UMM, Abidah resmi bekerja sebagai Young Staff Manager di salah satu perusahaan peternakan sapi berskala besar di Australia. 

Tentu, pencapaian karier profesional tersebut tidak dia raih dalam waktu semalam. Setelah lulus S1 Jurusan Peternakan UMM, Abidah sempat menemui hambatan, dia khawatir keberangkatannya ke Negeri Kanguru batal karena pandemi Covid-19. 

Alih-alih waswas, Abidah tidak tinggal diam. Sembari menunggu situasi pulih, dia memutuskan kembali ke kampung halaman untuk membantu mengelola bisnis sapi perah keluarga.

Di sela kesibukannya itu, Abidah tak menyangka akan dihubungi oleh media lokal Australia untuk permintaan wawancara. Artikel itu pun terbit di koran lokal pada tahun 2022 dengan judul “Young Indonesians Happily Take Up Visa Incentives”, yang kemudian menarik perhatian sebuah perusahaan peternakan di Australia.

“Hasil wawancara saya dengan media Australia justru memancing perhatian perusahaan peternakan. Mereka kemudian langsung menghubungi dan merekrut saya untuk menangani berbagai operasional mulai dari merawat anak sapi hingga mengoperasikan alat pertanian modern,” kenangnya. 

Dari perempuan desa hingga bisa kerja di Australia

Kini, sudah hampir 4 tahun Abidah bekerja di perusahaan peternakan Australia. Namun dia tidak pernah lupa bahwa pembelajaran di masa perkuliahannya selama S1 Jurusan Peternakan UMM dulu telah membawanya ke titik sekarang.

Termasuk pelajaran non-akademik yang membentuk karakter kepemimpinan serta kemampuan kolaborasinya sekarang. Keterlibatannya sebagai asisten laboratorium, pengurus himpunan mahasiswa, hingga partisipasinya dalam program Learning Express (LEx) yang berkolaborasi dengan Singapore Polytechnic memberikannya jam terbang yang memadai.

“Masa-masa kuliah di UMM sangat berdampak besar bagi mental kerja saya. Aktif berorganisasi dan berkolaborasi dengan mahasiswa dari Singapore Polytechnic membuat saya terbiasa beradaptasi dan bekerja sama dalam lingkungan profesional yang beragam,” tegasnya.

Abidah pun berhasil membuktikan bahwa perempuan dari desa bisa meraih pendidikan tinggi hingga meniti karier di luar negeri. Berkat didikan dari orang tuanya pula, terutama sang ayah yang tidak pernah membatasi dirinya, alumnus S1 Jurusan Peternakan UMM itu turut menginspirasi orang-orang di kampungnya. 

“Karena berkelana ke Australia dan berkecimpung di farming industry, orang desaku mulai mengerti bahwa perempuan bisa mandiri, tangguh dan tetap feminin tanpa batasan stereotype,” ujarnya.

“So darling, never stop untill you proud!” pesannya. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version