Tak punya laptop untuk mengerjakan skripsi, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini tidak kehilangan cara agar bisa lulus tepat waktu, bahkan berhasil meraih gelar wisudawan terbaik di fakultasnya.
***
Lia Marsya Fazliana merupakan mahasiswa rantau dari Kuningan, Jawa Barat. Selama kuliah di UNJ, ia harus meninggalkan ibunya sendiri di rumah. Meski begitu, sang ibu tak pernah menahan anak pertamanya itu untuk meraih pendidikan tinggi.
Marsya pun sudah meyakinkan ibunya agar tak perlu khawatir soal biaya hidup karena dia sudah mendapat beasiswa KIP Kuliah. Oleh karena itu, ia harus belajar mengatur pengeluarannya dengan hemat, serta mencari cara agar keterbatasan itu tak menghambat proses perkuliahannya.
Namun tetap saja, laptop bukan barang yang bisa ia pakai kapan saja. Marsya harus meminjam untuk mengerjakan tugas, sementara uang sakunya belum cukup menutup kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa.
Empat tahun kemudian, ia berdiri di Gedung Olahraga (GOR) UNJ sebagai wisudawati terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Lulusan Program Studi Pendidikan Kimia angkatan 2022 itu menuntaskan studi dengan indeks prestasi kumulatif 3,89 pada Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi IV pada Kamis (22/10/2026).
Tekun menjalani Pendidikan Kimia di UNJ
Sebagai orang pertama dalam keluarga yang berkesempatan mencicipi bangku kuliah di UNJ, Marsya mengaku banyak hal yang harus ia cari tahu sendiri, mulai dari sistem perkuliahan hingga peluang pengembangan diri.
Marsya pun tak ingin menyia-nyiakannya, karena itu ia mulai belajar mandiri, proaktif mencari informasi, dan tidak ragu meminta bantuan ketika memang perlu.

Hingga akhirnya, Marsya mantap memilih Pendidikan Kimia dan diterima di jurusan tersebut. Sebab menurutnya, ilmu kimia dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, dunia pendidikan, kata dia, juga berperan besar membentuk cara berpikir seseorang.
“Pendidikan bukan hanya penyampai ilmu, tetapi fasilitator yang membantu peserta didik menemukan pemahaman dan mengembangkan potensinya,” ujarnya dikutip dari laman resmi, Sabtu (25/10/2026).
Pinjam laptop teman untuk mengerjakan skripsi
Empat tahun berlalu, Marsya akhirnya harus menghadapi momok yang kerap ditakuti mahasiswa, yakni menyelesaikan skripsi. Namun, alih-alih kesulitan mengumpulkan data, Marsya justru menjumpai tantangan lain.
Selama ini, Marsya harus meminjam laptop temannya untuk mengerjakan tugas. Sementara, uang sakunya saja belum cukup untuk menutup kebutuhan sehari-harinya sebagai mahasiswa di UNJ.
Meski tak efektif karena harus meminjam laptop temannya, Marsya berhasil menyelesaikan skripsinya yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Conceptual Change terhadap Pemahaman Konseptual Peserta Didik pada Materi Hidrolisis Garam” di UNJ.
Ia membandingkan model Conceptual Change dengan Direct Instruction, serta menggunakan instrumen tes pilihan ganda tiga tingkat (three-tier multiple choice).
Model tersebut tidak hanya menilai jawaban, tetapi juga menilai alasan dan tingkat keyakinan peserta didik. Dengan begitu, miskonsepsi bisa teridentifikasi lebih dalam.
Hasilnya, model Conceptual Change berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konseptual peserta didik pada materi hidrolisis garam.
“Hasil ini menunjukkan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu peserta didik memperbaiki pemahaman awal mereka agar sesuai dengan konsep ilmiah,” jelasnya.
Sosok berjasa di balik kelulusannya di UNJ
Di balik keberhasilannya menyelesaikan skripsi di UNJ Marsya mengaku ada dua sosok yang berperan besar. Pertama, dosen pembimbingnya yakni Tritiyatma Hadinugrahaningsih.
Beliau, kata Marsya, adalah dosen yang mendampinginya sejak mata kuliah Seminar Pendidikan Kimia hingga sidang skripsi, sekaligus membuka kesempatan terlibat dalam penelitian.
Kedua, sahabatnya, Adinda Rizka Triana. Adinda tak hanya menemani Marsya sejak hari pertamanya kuliah di UNJ. Keduanya mendapat pembimbing skripsi yang sama dan di kampus yang sama, serta penelitian yang searah.
“Kehadiran Adinda yang bisa saling memahami, menguatkan, dan menemani proses itu menjadi hal yang sangat saya syukuri,” tuturnya.
Gelar dari UNJ tak membuatnya berhenti melangkah
Kini, Adinda dan Marsya pun bisa mengenakan toga bersama. Atas indeks prestasi kumulatif sebesar 3,89 yang ia raih, Marsya juga menyandang gelar sebagai wisudawati terbaik di FMIPA UNJ.
“Yang paling membuat saya terharu adalah menyadari bahwa ini bukan hanya hasil usaha saya, tetapi juga ada doa, dukungan, dan pengorbanan orang-orang di sekitar saya, terutama mama,” ujarnya yang masih tak menyangka bisa mendapatkan gelar tersebut.
Namun, Marsya tak mau berpuas diri. Baginya, predikat itu bukanlah titik akhir.
“Menjadi wisudawan terbaik bukan berarti saya sudah paling hebat atau berhenti belajar. Justru ini pengingat untuk tetap rendah hati dan terus mengembangkan diri,” tuturnya.
Setelah lulus dari UNJ, Marsya ingin mulai membangun karier dan membuka diri pada berbagai kesempatan di bidang pendidikan maupun di luar itu.
“Kelulusan bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk mengeksplorasi lebih banyak kesempatan,” ujarnya.
Untuk mahasiswa tingkat akhir UNJ, ia berpesan agar tidak membandingkan diri dengan orang lain.
“Setiap orang punya waktu dan perjuangannya masing-masing. Kalau merasa lelah, tidak apa-apa beristirahat, tetapi jangan menyerah. Selesaikan satu per satu,” tuturnya.
Sumber: UNJ
BACA JUGA: Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik” Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan