ADVERTISEMENT

UKM Futsal Memprihatinkan: Dituntut Juara tapi Kampus cuma Support Seikhlasnya, Akomodasi dari Duit Utang

Nasib UKM futsal kampus: atlet mahasiswa dituntut juara tapi bantuan dari kampus seikhlasnya MOJOK.CO

UKM futsal di kampus benar-benar memprihatinkan. Satu sisi para atlet mahasiswa punya misi membanggakan nama kampus di setiap turnamen, tapi di sisi lain justru minim dukungan. Semua-mua harus diurus pakai uang pribadi. 

***

ADVERTISEMENT

Setiap menerima undangan turnamen, Mita (nama disamarkan atas permintaan narasumber), tidak bisa tidak nelangsa. Sebagai manajer di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) futsal sebuah kampus negeri di Jawa Tengah, Mita mengaku harus banyak berkorban agar mahasiswa yang aktif di UKM futsal kampus bisa berpartisipasi. 

Sebab, percuma kalau ada UKM, tapi kompetisi di luar saja tidak terlibat. Syukur-syukur bisa menorehkan prestasi. 

Selain bisa membanggakan nama kampus, tentu hadiah yang diperoleh bisa menunjang operasional UKM, atau sekadar menyenangkan sekaligus menjadi suntikan semangat bagi atlet-atlet mahasiswa yang tergabung. Karena keberadaan mereka seperti jauh dari jarak pandang pilot pihak kampus. Seperti diabaikan. 

UKM futsal tak dapat support kampus, pengurus rogoh uang pribadi hingga hutang sana-sini

Sudah banyak turnamen futsal antarkampus yang diikuti oleh tim futsal kampus Mita. Sebagai contoh adalah salah satu turnamen yang belum lama ini diikuti. 

Dalam turnamen tersebut, tampak jelas ketimpangan di bench official team. UKM futsal kampus lawan, yang berstatus juara bertahan, membawa tim kepelatihan yang begitu mewah. Ada pelatih utama, analis pertandingan, sampai asisten pelatih. Hal yang begitu kontras dengan bangku cadangan tim futsal kampus Mita, yang terkesan “seadanya”.

Selama menangani UKM futsal kampus tersebut, Mita mengaku lelah fisik dan mental. Pasalnya, selain kurang tidur jika tengah mengikuti turnamen di luar kota, Mita harus merogoh sakunya dalam jumlah banyak demi menunjang akomodasi tim selama mengikuti sebuah turnamen. 

“Ya, aku sampai pinjam uang sana-sini. Pakai uang pribadi buat cover akomodasi. Bisa jutaan, bahkan sampai utang,” ujar Mita berbagi cerita belum lama ini. 

Mita harus memikirkan uang pendaftaran turnamen, biaya sewa penginapan (selama beberapa hari), harus membayar konveksi untuk jersey, dan harus berpikir bagaimana konsumsi atlet-atlet mahasiswa selama berada di luar kota. 

ADVERTISEMENT

Demi menghemat pengeluaran, Mita dan pengurus UKM futsal kampus tersebut sampai membawa beras dan bahan baku mentah untuk kebutuhan makan sehari-hari. “Karena udah keluar Rp10 juta lebih buat penginapan, biaya pendaftaran, dan bikin jersey. Biar hemat kita bawa beras sendiri. Beli sayur-sayur mentah dan kita masak sendiri. Daripada harus beli, mahal,” jelas Mita. 

Minim support dari kampus: bantuan seikhlasnya tapi dikasih ekspektasi juara

Segala susah payah semacam itu, tentu tidak akan ditanggung sebegitunya oleh Mita dan pengurus UKM futsal di kampusnya, seandainya pihak kampus memberikan dukungan. Masalahnya tidak demikian. 

Mita dan pengurus lain sudah berulang kali mengajukan proposal kepada pihak kampus: memohon uluran tangan demi keberlangsungan UKM futsal. Namun, bagi Mita, apa yang kampus berikan masih jauh dari harapan. 

“Kampus emang ngasih (uang), tapi nominalnya sedikit banget. Bahkan, itu nggak cukup buat biaya pendaftaran. Alhasil, nyari uang tambahan dari sponsoran,” ungkap Mita. 

Bukannya Mita tidak berterima kasih jika ada yang bilang, “Masih untung kampus masih mau ngasih.” Akan tetapi, dalam benak Mita, seharusnya pihak kampus bisa memberikan dana yang lebih layak—setidaknya cukup untuk biaya pendaftaran. Sementara dana yang turun, untuk biaya pendaftaran saja tidak cukup. 

“Kampus bilang kalau sebenarnya mereka bisa ngasih lebih. Tapi ya, itu, harus juara dulu. Padahal, turnamen ini (lawan main) susahnya minta ampun,” jelas Mita. 

Dukungan seikhlasnya, tapi maunya raih juara. Ini logika terbalik. Di mana-mana, harusnya kampus memberi dukungan dulu (entah finansial maupun fasilita) yang menunjang perkembangan tim futsal kampus. Dengan begitu atlet-atlet mahasiswa di dalamnya bisa upgrade. 

Totalitas di lapangan tapi jadi bulan-bulanan

Setiap elemen—dari pengurus hingga atlet—sebenarnya selalu totalitas di lapangan. Siapa yang tidak ingin berprestasi. Siapa tim yang tidak menarget menjadi juara? 

Dalam setiap pertandingan, UKM futsal kampus Mita tersebut selalu berjuang mati-matian untuk memenangkan pertandingan. Namun, kualitas tidak bisa berbohong. Tidak jarang tim futsal Mita harus menjadi bulan-bulanan. 

Dengan fisik dan mental yang kelelahan, Mita hanya bisa mendengus: bagaimana ia dan atlet-atlet mahasiswa itu bisa upgrade kualitas, kalau UKM futsal masih menjadi UKM yang diabaikan pihak kampus? 

Padahal, untuk membanggakan nama kampus, tidak hanya dari jalan akademik, dari jaluk nonakademik olahraga seperti turnamen futsal pun bisa. Buktinya, di antara tim-tim futsal kampus yang bertanding—yang kerap Mita jumpai—ada tim yang bisa mengukuhkan diri sebagai tim futsal unggulan lantaran ditopang oleh dukungan penuh dari pihak birokrasi kampus. 

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.

Penulis: Al Afnan Mahatta

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Liga Futsal Kampus Jadi Pintu Pembuka Rio Pangestu untuk Membentangkan Kariernya hingga Kancah Nasional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta. Mahasiswa magang departemen liputan Mojok.co asal Batang. Sedang menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Menaruh perhatian pada isu sosial, alam, dan dinamika sepak bola nasional. Di luar rutinitas liputan, saya mengisi waktu dengan menjelajah ke tempat-tempat baru yang unik.