Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

Dr. Rozi, S.Pi., M.Biotech, dosen Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK). (sumber: Unair)

Kisah Rozi, dosen Departemen Akuakultur di Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Unair menginspirasi banyak orang, agar tidak menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Penyandang disabilitas daksa itu berhasil membuktikan bahwa ia bisa meraih gelar doktor pada Program Studi S3 Sains Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair.

Dalam waktu 3 tahun 11 bulan, Rozi mampu meraih predikat cum laude dan IPK sempurna 4.00.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Rozi turut aktif menjalankan tridharma perguruan tinggi sebagai dosen. Mulai dari mengajar, meneliti, mengabdi kepada masyarakat, hingga mempublikasikan karya ilmiah internasional.

Selama menempuh studi doktoral, Rozi menunjukkan produktivitas akademik yang tinggi dengan menerbitkan dua artikel internasional bereputasi Scopus Q1 dan tiga artikel Scopus lainnya. Selain itu, ia juga aktif sebagai editor pada jurnal internasional bereputasi Scopus.

Bagi Rozi, capaian tersebut bukan sekadar keberhasilan akademik, tetapi simbol bahwa pendidikan inklusif mampu membuka ruang yang setara bagi setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi. 

“Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh,” kata Rozi dikutip dari laman resmi Unair, Rabu (27/5/2026).

Hidup di tengah keterbatasan tapi bisa S3 Unair

Rozi merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, putra dari pasangan Musli dan Mastinah. Ia lahir dari keluarga sederhana yang menggantungkan hidup lewat hasil berjualan ikan secara eceran.

Namun, di tengah keterbatasan tersebut, Rozi tak pernah mengubur mimpinya untuk menempuh pendidikan tinggi. Pemuda asal Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi itu berujar, motivasi terbesarnya justru datang dari ayahnya. 

“Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah,” tuturnya.

Perjalanan Rozi untuk kuliah sampai S3 pun tidaklah mudah. Ia menjadi penyandang disabilitas daksa dengan amputasi kedua kaki. Cobaan itu, kata Rozi, menjadi fase terberat dalam hidupnya karena ia harus beradaptasi dan menerima kondisi tersebut.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia memahami bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan hidup.

“Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya,” ujarnya.

Beruntung, Rozi punya keluarga yang menjadi salah satu sumber kekuatannya selama menjalani proses studi S3. Ketika Rozi hampir menyerah, ia selalu ingat ada doa ibu yang selalu mengiringi langkahnya. 

“Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya,” ucapnya.

Lingkungan Unair dukung penyandang disabilitas

Rozi dan keluarga. MOJOK.CO
Potret Rozi mengenakan toga bersama keluarganya. (sumber: Unair)

Selain dukungan keluarga, semangat Rozi juga hadir karena lingkungan akademik yang suportif selama menempuh S3 di FKH Unair. Ia mengaku mendapatkan dukungan dari pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga rekan-rekan di lingkungan kampus. 

“Yang paling saya rasakan bukan hanya fasilitas fisiknya, tetapi bagaimana saya diterima sebagai bagian dari lingkungan akademik secara setara,” jelasnya.

Rozi menilai Unair terus berkembang menjadi kampus yang semakin inklusif melalui berbagai fasilitas aksesibilitas seperti ramp, lift ramah kursi roda, dan akses gedung yang lebih mudah dijangkau.

Namun menurutnya, pendidikan inklusif tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik semata, melainkan penerimaan dan dukungan dari sekitarnya. 

“Kadang akses paling mahal bagi penyandang disabilitas bukan lift atau ramp, tetapi rasa diterima sebagai manusia yang setara,” katanya.

Menurut Rozi konsep inclusive learning juga harus mencakup akses informasi, komunikasi, dan lingkungan belajar yang nyaman bagi seluruh ragam disabilitas, baik daksa, netra, tuli, maupun neurodivergent.

Lingkungan inklusif: memandang manusia secara setara

Berkat dukungan dari keluarga dan lingkungan kampus Unair, Rozi berhasil menyelesaikan kuliah S3-nya dan diwisuda pada April 2026. 

Oleh karena itu, Rozi berharap Airlangga Inclusive Learning (AIL) dapat terus berkembang menjadi pusat layanan disabilitas yang semakin kuat, adaptif, dan kolaboratif.

Sebab, kata dia, Unair memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kampus inklusif rujukan di Indonesia. 

Inclusive learning bukan hanya tanggung jawab unit layanan disabilitas, tetapi budaya bersama seluruh sivitas akademika,” ujarnya.

Menurut Rozi, lingkungan inklusif dibangun bukan hanya oleh bangunan fisik, tetapi juga oleh empati, komunikasi yang baik, dan cara memandang manusia secara setara.

Ia berharap semakin banyak mahasiswa penyandang disabilitas yang memiliki keberanian untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan mengembangkan potensinya. 

“Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang,” tegasnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang 

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version