Keputusan melepas anak merantau demi bangku kuliah kerap menyisakan kecemasan batin bagi orang tua yang takut pergaulan anaknya memburuk di kota besar. Di sisi lain, perantauan juga bisa membawa penyesalan mendalam karena terlalu sibuk mengejar ambisi hingga kehilangan waktu berharga bersama keluarga yang menanti di rumah.
***
Riuh bahagia di halaman Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) siang itu menular ke siapa saja. Ratusan mahasiswa memakai toga, sibuk tersenyum dan berfoto dengan keluarga. Di tengah keramaian itu, saya yang sedang menunggu kawan wisuda, tak sengaja mengobrol dengan seorang bapak paruh baya yang duduk sendirian di bawah pohon.
Namanya Radi. Pria ini datang jauh-jauh dari Palembang demi menghadiri wisuda anak perempuan satu-satunya.
Bukannya membicarakan berapa banyak uang yang sudah ia keluarkan, obrolan kami justru mengalir ke arah yang menyesakkan dada. Radi mengenang kembali masa-masa berat saat pertama kali harus melepas putrinya merantau ke Jogja empat tahun silam.
“Bohong kalau orang tua bilang ikhlas-ikhlas saja anaknya pergi jauh dari rumah,” buka Radi sambil tersenyum tipis.
Bagi Radi, putrinya itu sangat lengket dengan ayah dan ibunya. Sejak kecil hingga lulus SMA, ia tidak pernah jauh dari rumah. Keputusan sang anak untuk nekat kuliah di Jogja bagaikan pukulan bagi Radi.
Ketakutan ortu, merantau bikin anak “rusak”
Yang membuat Radi sampai tak bisa tidur berhari-hari saat itu bukanlah urusan biaya kuliah.Ia sadar hidupnya pas-pasan, tapi untuk urusan pendidikan anak, uang selalu bisa diusahakan.
Ketakutan terbesarnya justru datang dari omongan teman-teman sesama pekerja di Palembang.
Setiap hari, telinganya dijejali cerita miring soal anak rantau yang pergaulannya “rusak” di kota besar. Teman-temannya sering menakut-nakutinya dengan berita soal mahasiswa yang salah pergaulan, lupa ibadah, hingga uang kuliah yang habis dipakai main.
“Uang itu bisa dicari, Mas. Tapi kalau anak sampai berubah jadi nggak karuan di sana, hancur perasaan orang tua. Ketakutan itu yang bikin saya berat banget ngelepas anak saya berangkat,” katanya.
Bagi anak pun juga berat meninggalkan rumah buat kuliah
Mendengar curhatan Radi, saya cuma bisa mengangguk pelan. Ada semacam rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup di dada. Perkataan Radi seketika memvalidasi apa yang saya rasakan sendiri pada 2017 lalu.
Saat itu, saya harus meninggalkan kampung halaman untuk berkuliah di Jogja. Rasanya sangat berat, terutama saat berpamitan dengan kedua simbah yang sudah berusia senja.
Saya tahu persis, di balik senyum mereka, ada kecemasan dan sepi yang akan mereka tanggung setiap malam. Orang tua merelakan hari-harinya diliputi rasa waswas, sekadar agar anaknya bisa meraih nasib yang lebih baik.
Kecemasan Radi soal jarak, waktu, dan perubahan di perantauan itu juga mengingatkan saya pada kawan lama saya, Hendra (28).
Hendra adalah potret nyata tentang betapa mahalnya harga sebuah ambisi anak rantau. Ia berasal dari keluarga miskin di Bangka dan berhasil kuliah di Jogja berkat beasiswa Bidikmisi tahun 2016. Berbekal modal nekat, ia meninggalkan keluarganya demi gelar sarjana.
Tahun pertama dan kedua kuliah, Hendra terpaksa menelan mentah-mentah rasa rindu. Ia tidak bisa pulang saat Lebaran karena harga tiket pesawat Jogja-Bangka terlalu mahal untuk kantongnya. Ia memilih bertahan di kos sepi saat teman-temannya asyik mudik.
Penyesalan terbesar wisuda tanpa sang ayah yang sudah meninggal
Di tahun ketiga, Hendra sebenarnya mendapat rezeki dan punya cukup uang untuk membeli tiket. Namun, ambisi membutakannya. Ia memilih tidak pulang dan memusatkan fokusnya hanya untuk kuliah.
Ia sengaja mengabaikan keluarganya di desa dengan pemikiran: “Nanti saja pulangnya, nunggu sukses dan bawa ijazah.”
Keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Hanya seminggu sebelum hari wisudanya tiba, ayahnya meninggal dunia di kampung.
Saat hari perayaan wisuda itu datang, hanya ibunya yang hadir ke Jogja. Hendra menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. Ijazah yang ia kejar mati-matian rupanya tidak pernah bisa menebus waktu yang ia buang begitu saja bersama ayahnya.
Melepas anak kuliah ke luar kota memang pertaruhan besar
Lamunan saya tentang kisah Hendra buyar saat seorang mahasiswi berkebaya dan bertoga berlari kecil menghampiri Radi.
Wajah Radi yang tadinya tegang mendadak berubah cerah. Ia langsung berdiri dan memeluk anak perempuannya itu erat-erat.
Ketakutan Radi empat tahun lalu terbukti salah. Anaknya tidak “rusak” seperti cerita-cerita horor teman kerjanya. Putrinya pulang membawa gelar sarjana dengan senyum yang masih sama seperti saat ia berangkat dulu.
Melihat pemandangan itu, saya sadar satu hal. Mengirim anak merantau ke kota besar adalah pertaruhan yang luar biasa besar bagi orang tua.
Mereka menukarkan ketenangan batinnya dengan kecemasan panjang. Mereka rela menahan rindu, berbohong pura-pura tegar, hanya demi melihat sang anak memakai toga kebanggaan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
